Bubur Blendrang Khas Muntilan: Cecap Buburnya dan Sedot Sungsum di Tulangnya

Berbeda dari bubur pada umumnya, di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, ada bubur blendrang yang berbahan tulang ayam, kambing, atau sapi. Rasanya yang gurih dan pedas, membuat bubur ini nikmat banget disantap saat cuaca sejuk atau dingin.

Bubur Blendrang Khas Muntilan: Cecap Buburnya dan Sedot Sungsum di Tulangnya
Bubur blendrang (visitmagelang.id)

Inibaru.id –  Sobat Millens pernah mendengar sajian bubur blendrang? Yang nggak berasal dari Gunung Pring, Muntilan, Kabupaten Magelang, boleh jadi jenis kuliner itu asing di telinga. Mendengar namanya saja, sudah bikin penasaran. Betul nggak?

Ya, bubur blendrang merupakan kuliner khas Kabupaten Magelang, Jawa Tengah yang lain daripada kebanyakan bubur. Apa pasal? Bubur itu berbahan tulang kambing, tulang sapi, atau tulang ayam yang bisa dipesan sesuai selera. Unik, bukan?

Memiliki kuah kental seperti sup krim, bubur blendrang dipadu dengan bumbu-bumbu seperti garam, jahe, bawang, kencur dan cabai. Ini membuat bubur tulang khas Muntilan tersebut memiliki citarasa gurih bercampur pedas yang menghangatkan. Cocok sekali jika disantap hangat-hangat saat cuaca sejuk atau dingin.

Selain itu, sensasi utama ketika menyantap bubur ini adalah saat mencecap tulang-tulang yang ada, menyedot sumsum, dan menguliti daging yang masih menempel di tulang. Wah, terdengar seru sekali, kan?

Oya, perlu kamu tahu nih, mengutip sindonews.com (29/7/2016), bubur blendrang ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu, lo. Tapi dulu bubur blendrang awalnya bukan berbahan tulang, melainkan terbuat dari tempe dan  tahu. Untuk membuat bubur blendrang, tempe dan tahu dipotong kecil-kecil, setelah itu direbus hingga mendidih, kemudian diberi bumbu. Adapun untuk membuat kuahnya yang kental diberi tepung terigu secukupnya. Namun seiring waktu, bahan bakunya diganti dengan tulang ayam dan tulang kambing atau sapi.

Selain itu, dulu bubur blendrang hanya disajikan sebagai menu buka puasa. Namun sekarang, makanan yang banyak dicari sebagai kuliner khas Muntilan itu bisa kamu dapatkan di luar Bulan Ramadhan, apalagi saat Hari Raya Idul Adha.

Nah, kalau kamu ingin menikmati bubur blendrang sebaiknya datang awal. Pasalnya hidangan lezat itu cepat sekali ludes diserbu pembeli. Apalagi jika warung makannya sudah terkenal. Misalnya saja warung makan milik Fera Nita yag beralamat di Dusun Karaharja Gunung Pring, Muntilan. Sebelum jam 12 siang, buburnya sudah habis. Bahkan sebelum rumah makannya buka, pembeli sudah antre. Ada juga yang memesan duluan lewat pesan di ponsel karena takut nggak kebagian.

Hal yang sama juga terjadi di rumah makan blendrang  milik Ibu Sriningsih yang meneruskan usaha Mbah Suwarni sejak 1970-an. Berada di Bintaro, Gunung Pring, Muntilan, bubur blendrang di rumah makannya selalu ludes hanya dalam beberapa jam. Wuih, laris manis sekali ya?

Soal harga, nggak perlu khawatir bikin isi dompet ludes. Untuk menikmati bubur blendrang, kamu cukup mengeluarkan Rp 3 ribu- Rp 5 ribu per porsi. Terjangkau banget, kan?

Bagaimana, masih menolak untuk mencobanya? So, kalau kamu mampir ke Muntilan, jangan lewatkan untuk menikmati sensasi kelezatan bubur tulang. Dijamin deh bikin nagih. (IB05/E02)