Cerita Perjalanan Serabi Notosuman Sampai Jadi Legenda Kuliner Solo

Cerita Perjalanan Serabi Notosuman Sampai Jadi Legenda Kuliner Solo
Serabi Notosuman, legenda kuliner Solo. (IG/srabinotosuman)

Salah satu legenda kuliner Solo yang kerap diburu jadi oleh-oleh adalah Serabi Notosuman. Nah, cerita dari jenama ini ternyata sudah ada sejak 1923 lalu, lo.

Inibaru.id – Ada banyak sekali oleh-oleh yang bisa kamu bawa jika berkunjung ke Solo, Jawa Tengah. Namun, yang cukup populer dan legendaris adalah Serabi Notosuman. Nah, kamu tahu nggak kalau jenama serabi ini sudah eksis sejak Indonesia belum merdeka?

Jadi ya, Serabi Notosuman ini sudah eksis sejak 1923. Artinya, usianya sudah hampir 100 tahun ya? Nama Notosuman sendiri diambil dari Jalan Notosuman, tempat awal usaha ini berada. Sayangnya, kamu nggak akan lagi menemukan nama jalan ini karena sudah berubah jadi Jalan Mohammad Yamin.

“Ada tulisan di kotak atau spanduknya. Dirintis sejak 1923, Serabi Notosuman sekarang ini usaha keluarga,” ujar salah seorang karyawan Eko, Minggu (13/3/2016)

Kini, tempat produksi dari serabi ini ada dua tapi di jalan yang sama. Keduanya dikelola oleh Lidia dan Handayani yang merupakan keturunan dari para perintis, pasangan Hoo Geng Hok dan Tan Giok Lan. Kios milik Lidia bisa kamu temukan di Jl Mohammad Yamin Nomor 28, sementara kios milik Handayani ada di jalan yang sama Nomor 49.

“Dua-duanya keturunan Hoo Geng Hok. Sekarang malah diteruskan ke anak cucunya juga,” lanjut Eko.

Dibuat secara Nggak Sengaja

Serabi Notosuman dikenal punya dua varian rasa, yakni original dan cokelat. (instagram/suryomulyo6)
Serabi Notosuman dikenal punya dua varian rasa, yakni original dan cokelat. (instagram/suryomulyo6)

Cerita awal mula Serabi Notosuman bisa dikatakan nggak sengaja. Jadi, ya, pada 1920-an, tetangga-tetangga Hoo Geng Hok memintanya membuat apem untuk keperluan selamatan. Nah, apem ini ternyata rasanya enak. Sejak saat itu, tetangganya semakin sering memesan. 

Salah satu tetangganya kemudian memesan apem dengan bentuk lebih pipih dan kemudian disebut sebagai serabi. Nggak disangka, serabi ini ternyata jauh lebih enak dan lebih laris. Sejak saat itulah, dia pun memulai usaha Serabi Notosuman.

Oya, meski sama-sama memiliki jenama Serabi Notosuman, ada perbedaan mencolok antara jenama yang dikelola Handayani dengan Lidia. Kalau milik Lidia, serabinya bakal dikemas dalam kardus berwarna hijau, sementara serabi Handayani dikemas di kotak kardus berwarna oranye.

Soal variasi rasa, keduanya masih mempertahankan pilihan serabi rasa cokelat dan serabi orisinal dengan rasa gurih yang santan. Serabi ini nggak diberi tambahan kuah namun langsung dibungkus dengan daun pisang, Millens.

Kini, gerai Serabi Notosuman bisa kamu temukan di kota-kota lainnya seperti Yogyakarta, Bandung, Semarang, Cirebon, Surabaya, Kudus, hingga Jakarta. Jadi, nggak perlu jauh-jauh ke Solo untuk mencicipinya, deh.

Kamu suka dengan Serabi Notosuman juga nggak nih, omong-omong? (Mer, Sol, Lip/IB09/E05)