Bukan dari Pepaya, Tapi Kok Namanya Nasi Gandul?

Bukan dari Pepaya, Tapi Kok Namanya Nasi Gandul?
Nasi gandul khas Pati. (Wikipedia/Gunawan Kartapranata)

Di Banyumas dan sekitarnya, gandul berarti pepaya. Tapi, nasi gandul khas Pati sama sekali nggak memiliki bahan pepaya? Lantas, seperti apa sih kisah unik dari kuliner khas Pati ini?

Inibaru.id – Bicara tentang kuliner khas Pati, Jawa Tengah, pasti nasi gandul nggak akan terlewatkan. Hanya, nama nasi gandul ini bisa bikin bingung orang dari daerah lain di Jawa Tengah, tepatnya warga Banyumas dan sekitarnya. Maklum, di nasi gandul, nggak ada buah ataupun daun pepaya.

Oya, di Banyumas, pepaya itu disebut dengan gandul, Millens. Kalau orang dari daerah tersebut belum pernah mencoba atau bahkan nggak pernah tahu soal nasi gandul, bisa jadi saat mendengar nama masakan ini yang terpikir adalah nasi oseng pepaya, deh. Haha.

Realitanya, nasi gandul malah dibuat dari bahan daging. Baik itu daging kerbau atau daging sapi. Olahan ini juga memakai bumbu seperti santan, serai, lengkuas, daun salam, dan lain-lain. Rupanya juga seperti kombinasi dari soto, gulai, atau rawon. Hm, jauh beda ya dengan bayangan nasi oseng pepaya. Haha.

Karena memang kuliner khas Pati, kalau kamu mampir ke sana, pasti mudah mencari warung yang menyediakan nasi gandul. Namun, ada kabar kalau aslinya, kuliner ini berasal dari Desa Gajahmati yang ada di Kecamatan Kota Pati, Millens.

“Kebanyakan warung nasi gandul menambahkan embel-embel asli Desa Gajahmati, karena memang aslinya dari sini,” ungkap salah satu penjual nasi gandul paling terkenal di Pati, Pak Meled, pada November 2017 lalu.

Warung nasi gandul khas Pati biasanya masih dihiasi dengan pikulan khas bernama 'dunak'.  (Inibaru.id/ Muhammad Adiatma)
Warung nasi gandul khas Pati biasanya masih dihiasi dengan pikulan khas bernama 'dunak'.  (Inibaru.id/ Muhammad Adiatma)

Kalau menurut Pak Meled, warung nasi gandul ini adalah usaha turun-temurun keluarganya sejak 1955. Dia mewarisinya dari orang tuanya. Beda dengan Pak Meled yang sudah punya warung, orang tuanya dulu berjualan berkeliling dari kampung ke kampung.

Nah, mengapa disebut nasi gandul kalau sama sekali nggak ada kaitannya dengan pepaya? Ya karena di Pati, sebutan pepaya bukan gandul, Millens. Di sana, seringkali sih disebut dengan kates. Kalau alasan lain mengapa kuliner ini disebut nasi gandul, terkait erat dengan cara berjualan penjualnya di zaman dulu yang berkeliling.

Sembari keliling dari satu rumah ke rumah lainnya, penjual nasi gandul memakai ‘dunak’, semacam pikulan dengan bakul besar yang terbuat dari anyaman bambu. Nah, nasi yang dipikul di wadah ini terlihat ‘gondal-gandul’ alias bergoyang mengikuti langkah kaki penjualnya.

“Nah, penjualnya bertemu salah satu tokoh legendaris di Pati, Mbah Rono. Beliau yang kemudian menyebut kuliner ini menjadi nasi gandul,” lanjut Pak Meled.

Kalau di Pati, banyak warung nasi gandul yang tetap menempatkan dunak alias pikulan ini di warungnya sebagai ciri khas. Hm, jadi penasaran ya, gimana rasa nasi gandul yang asli di Pati, Millens. (Moj, Det, Sel/IB09/E05)