Berkunjung Ke Temanggung, Jangan Lupa Cicipi Tongkol Lombok Ijo yang Sudah Eksis Sejak Zaman Belanda Ini

Waroeng Jadoel di Temanggung yang sudah berdiri sejam 1890-an ini punya menu nasi tongkol lombok iji yang sudah disajikan dari zaman Belanda. Rasanya yang pedas manis bikin saya teringat dengan masakan ibu. Selain itu, segelas teh gula jawa jadi teman yang cocok untuk menghadapi udara dingin di Temanggung.

Berkunjung Ke Temanggung, Jangan Lupa Cicipi Tongkol Lombok Ijo yang Sudah Eksis Sejak Zaman Belanda Ini
Seporsi nasi tongkol lombok ijo cocok dinikmati dengan teh gula jawa. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Inibaru.id - Dalam satu kesempatan mengunjungi Kota Temanggung, saya memutuskan untuk sarapan di sebuah kedai kecil di Jl. Jend. Soedirman No. 102 Temanggung. Kedai berjuluk Waroeng Jadoel Tersebut memang menyajikan berbagai masakan ndeso.

Pagi itu, saya tergoda untuk mencicipi Nasi Tongkol Lombok Ijo yang konon jadi kesukaan pengunjung. Saya harus menunggu beberapa saat karena harus mengantre dengan pembeli yang datang lebih dulu. Siti Sukastiah yang sudah berusia senja melayani pembeli dengan telaten.

Nggak lama kemudian, pesanan saya datang. Dalam satu piring, saya mendapatkan nasi dengan sepotong ikan tongkol tanpa tulang. Saya juga memilih sayur daun lembayung dan sayur tahu untuk menemani hidangan tongkol lombok ijo saya. Berbagai lauk lain seperti opor ayam, pindang pedes, brongkos, dan lain-lain juga bisa kamu pilih di sini lo, Millens!

Selain tongkol, berbagai lauk seperti ayam atau pindang bisa kamu pilih. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Benar saja, nasi tongkol lombok ijo yang begitu menggoda langsung saya lahap begitu tersaji di depan saya. Meskipun punya embel-embel lombok ijo, rasanya nggak begitu pedas kok, Millens! Semakin sering lidah saya mengecap, rasa manis dari tongkol tanpa duri ini menyeruak. Sebagai penyuka cita rasa manis, saya semakin lahap menghabiskan nasi tongkol lombok ijo saya. Rasanya mengingatkan saya pada masakan ibu saya.

Sayur daun lembayung yang sudah jarang ditemui pun mengingatkan pada masa kecil saya. Saat saya kecil, kakek suka sekali memetik langsung daun lembayung dan dimasak segar-segar untuk dimakan bersama. Sayur lembayung di warung ini lembut dan berkuah gurih. Duh, bikin benar-benar saya rindu dengan kakek.

Saya jadi tahu mengapa masakan satu ini jadi primadona pengunjung. Enak banget. Salah satu pengunjung yang "tersihir" dengan masakan di sini adalah Sulistio. Hampir setiap hari dia makan di sini. “Saya paling suka pesan tongkol,” katanya kemudian menyesap kopinya.

Selain makanan berat, beberapa jajan pasar seperti jadah, timus, mendoan, ketan jali, dan lain-lain juga ada. Selain itu, jangan lupa untuk mencoba teh gulo jowo. Di sini, teh yang berasal dari Tambi dimasak dengan arang. Aromanya sedikit sangit, namun setelah ditambah dengan gula aren yang nggak terlalu manis bikin saya pengin segera menghabiskannya. Segar!

Berbagai gorengan dan jajan pasar juga bisa kamu beli dengan harga seribuan saja. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Kedai kecil ini sudah beroperasi dari tahun 1890-an. Yulianto Murtono merupakan generasi ketiga pemilik warung. Dia mengklaim, resep dan jualannya nggak pernah berubah dari perama kali jualan. Warung ini juga yang dulunya jadi tempat makan tentara ketika zaman Belanda. Nggak heran Yulianto punya jargon Cita rasa melegenda sejak zaman Belanda. 

Saya hanya perlu menebus dengan harga 12 ribu untuk seporsi nasi tongkol lombok ijo dengan segelas teh. Kelewat murah untuk masakan seotentik ini. Gimana, Millens? tertarik mencoba? (Zulfa Anisah/E05)

 

Waroeng Jadoel Temanggung

Kategori                            : Warung Makan

Harga makanan                 : Rp. 1.000 – Rp. 10.000

Harga minuman                 : Rp. 1.000 – Rp. 3.000

Alamat                              : Jl. Jend. Soedirman No. 102, Temanggung (depan Telkom Temanggung)