Berawal dari Kejadian Apes, Soleh Dirikan Angkringan Panorama

Berawal dari Kejadian Apes, Soleh Dirikan Angkringan Panorama
Angkringan Panorama dengan pemandangan Semarang di bawahnya. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Berada di daerah bukit di Semarang, Angkringan Panorama cocok buatmu yang pengin melihat Kota Semarang dari atas. Nggak perlu risau, karena berkonsep angkringan, makanan dan minuman di sini sangat terjangkau, kok.

Inibaru.id – Siapa yang menyangka musibah yang dialami Ahmad Soleh dan istrinya berbuah rezeki. Malam itu, Soleh dan istrinya Riyanti hendak pulang ke rumah mereka di Perumahan Trangkil Sejahtera. Pasangan suami istri itu mengendarai motor dari arah Sampangan, Semarang tapi nahas di tengah jalan mereka kebanan (ban motor bocor).

“Saya itu memang awalnya pengin buka usaha tapi nggak tahu tempatnya. Nah, saya kan setiap hari nganter istri pijet naik turun daerah sini terus. Lah waktu itu ban motor bocor pas berhenti di sini. Terus saya lihat sana kok view-nya bagus seperti di Gombel,” beber Soleh.

Dari situlah muncul ide untuk membuka angkringan di sana. Namun, masalah yang kemudian muncul adalah daerah situ gelap dan sepi. Belum ada warung ataupun kegiatan di daerah depan bekas perumahan di Kelurahan Trangkil, Gunungpati yang kini mangkrak.

“Di awal ya takut sama takut soalnya nggak ada temennya. Lah terus saya mikir masa takut ngalahin kebutuhan. Ya sudahlah aku akhirnya buka di sini,” jelas Soleh.

Menikmati pemandangan Kota Semarang dari Angkringan Panorama. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Kini, bila kamu melintas di jalan Sampangan-Trangkil dan melihat angkringan ramai di kiri jalan, itulah angkringan yang dibuat Soleh dan Riyanti. Lantaran pemandangan lampu kota yang terlihat indah dari lokasi itu, mereka lantas menamai angkringan ini dengan nama Panorama.

Nggak salah rasanya bila pasangan yang dikaruni dua anak itu memilih nama Panorama. Berlokasi di atas bukit, kamu bisa menikmati panorama Kota Semarang secara leluasa dari angkringan yang didirikan Maret 2018 ini. Terlebih angkringan itu buka saat malam sehingga pendar-pendar cahaya lampu jalan maupun rumah di Semarang “bawah” tampak jelas dan sangat indah.

Bagi sebagian orang termasuk saya, kerlap-kerlip lampu dari kejauhan bisa menyegarkan pikiran. Entah apa alasannya, yang jelas cahaya-cahaya itu sayang untuk diabaikan begitu saja.

Kala itu, saya berkunjung ke Angkringan Panorama bersama beberapa teman. Sebelum berangkat saya mempersiapkan betul apa saja yang bakal saya bawa. Setelah siap, saya langsung bergegas ke sana. Namun, di tengah jalan, lampu-lampu padam. Saya sudah berprasangka buruk jikalau penerangan angkringan itu juga turut padam.

Minum minuman hangat di Angkringan Panorama lebih syahdu karena bisa melihat pemandangan lampu kota. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Sesampai di angkringan, saya bersyukur meskipun lampu di sekitarnya padam, ada satu lampu yang menyala. Kendati hanya diterangi satu lampu berdaya sedang, suasana malam di angkringan itu tetap syahdu.

Bila ditelisik, Angkringan Panorama ini selaiknya angkringan khas Semarang lainnya. Soleh dan istrinya menyediakan sejumlah minuman saset dengan pilihan dingin atau panas serta beberapa camilan. Nggak lupa, aneka gorengan dan nasi kucing pun turut memadati gerobak mereka.

Masalah harga, tentu saja terjangkau. Untuk minuman, harganya bervariasi yakni sekitar Rp 3.000 hingga Rp 4.000. Sementara itu, camilannya berkisar di harga seribu sampai Rp 3.000.

Ada pula nasi kucing yang dihargai Rp 2.500 per bungkus. Lebih istimewa lagi karena nasi kucing ini langsung diproduksi Riyanti, istri Soleh. Untuk porsi nasi kucing, cukuplah untuk porsi makan saya yang nggak suka makan banyak. Oh iya, satu lagi, saat berkunjung ke sini, jangan lupa mencicipi tahu baksonya karena baksonya terasa banget! Ha-ha.

Menu makanan dan minuman yang disediakan di Angkringan Panorama. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Setelah memesan makan dan minum, kamu bisa menikmatinya dengan duduk di kursi yang disediakan atau lesehan. Tenang saja, pemilik angkringan menyediakan lebih dari lima tikar. Cocok bagi kamu yang datang dengan rombongan.

Sayangnya, angkringan ini nggak punya payon atau atap yang memadai sehingga kalau hujan, kamu mesti berteduh di dekat gerobak angkringannya. Saat musim hujan, sebaiknya kenakan jaketmu saat berkunjung ke angkringan. Ini menghindarkanmu dari rasa dingin atau justru masuk angin.

Angkringan ini buka mulai pukul 19.00 hingga 02.00 dini hari. Kendati sudah ada patokannya, jam buka angkringan itu sangat fleksibel bergantung kondisi. Terkadang, angkringan buka pukul 20.00 dan tutup pukul 03.00 dini hari.

Kalau lagi galau atau lagi pengin menyendiri, angkringan ini pas buatmu. Pemandangan dari angkringan itu juga cocok kok untuk melihat pesta kembang api di malam Tahun Baru nanti. Gimana, mau coba? (Ida Fitriyah/E05)