Akulturasi Budaya Jawa dan Tionghoa Dalam Semangkuk Wedang Ronde

Akulturasi Budaya Jawa dan Tionghoa Dalam Semangkuk Wedang Ronde
Wedag ronde. (Fajar)

Meski sangat populer di Indonesia, wedang ronde ternyata adalah hasil akultrasi kuliner Tiongkok dan Jawa. Lalu, bagaimana perjanan wedang ronde hingga bisa kita nikmati sekarang?

Inibaru.id – Wedang khas yang terdiri atas kuah jahe serta isian berupa ronde dan pelengkap lainnya ini cocok banget disantap untuk melawan udara dingin. Apalagi, kuliner satu ini nggak sulit ditemukan di Indonesia.

Dari pedagang kaki lima hingga restoran, wedang ronde jadi minuman yang nggak pernah kehilangan penggemarnya. Namun, di balik kepoppulerannya, banyak yang salah kaprah tentang asal mulanya.

Jika kamu menganggap wedang hangat ini asli dari Jawa, mungkin kamu perlu berpikir ulang. Yap, kendati ronde terlihat khas Jawa, anggapan itu rupanya keliru. Bahkan, konon minuman tersebut nggak berasal dari negeri ini.

Nggak susah mencari penjual ronde. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)
Nggak susah mencari penjual ronde. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

 Jongkie Tio, pemilik Restoran Semarang, yang kerap jadi rujukan obrolan tentang kuliner lawas di Kota Lunpia, dalam sebuah wawancara dengan Inibaru.id pernah mengatakan bahwa ronde merupakan kuliner akulturasi Tiongkok dan Jawa.

Menilik sejarahnya, wedang ronde kali pertama populer di wilayah Solo dan dan Salatiga. Seperti kata Jongkie, ronde merupakan percapuran antara dua budaya. Pada dasarnya, wedangan hangat ini berasal dari Tiongkok, dengan sebutan dongzi atau tangyuan.

Tangyuan bermakna bola bulat dalam sup.  Jauh dari rasa wedang ronde yang kini populer, tangyuan punya berbagai cara penyajian. Di Tiongkok Utara, bola-bola tangyuan bercita rasa manis dengan isian pasta kacang, gula, dan wijen.

Sementara, di Tiongkok Utara, bola-bola tangyuan berisi daging yang tentu saja punya cita rasa gurih.

Wedang ronde cocok dinikmati kala udara dingin. (IDN Times)
Wedang ronde cocok dinikmati kala udara dingin. (IDN Times)

Seiring banyaknya pedagang Tionghoa yang datang ke Indonesia, minuman ini pun mulai dikenal. Dengan memodfikasinya menjadi kuah berbahan dasar jahe dan gula jawa, minuman ini dengan cepat menjadi populer di lidah masyarakat lokal.

Kini, ronde hasil akultirasi tersebut bisa kita temui dengan cita rasa khas Indonesia: kuahnya manis dengan sedikit pedas jahe. Serta, ada bola-bola tepung ketan berisi pasta kacang yang nagih.

Berbagai kondimen berupa agar-agar, kolang kaling hingga kacang sangrai juga jadi pelengkap yang sempurna! Hm, saat malam tiba, dingin-dingin, memang paling asyik minum wedang ronde! (IB27/E03)