Meraba Sunda di dalam Taman Baca

Di hamparan sawah yang luas, saung adalah tempat berteduh yang begitu menyejukkan. Semilir angin yang berhembus masuk ke dalam bangunan tanpa tembok itu selalu berhasil menghalau rasa capai setelah bekerja seharian. Intinya, saung selalu berhasil menjadi tempat yang nyaman untuk bernaung.

Meraba Sunda di dalam Taman Baca
meraba sunda dalam taman baca (Foto: cnnindonesia)

Inibaru.id - Di hamparan sawah yang luas, saung adalah tempat berteduh yang begitu menyejukkan. Semilir angin yang berhembus masuk ke dalam bangunan tanpa tembok itu selalu berhasil menghalau rasa capai setelah bekerja seharian. Intinya, saung selalu berhasil menjadi tempat yang nyaman untuk bernaung.

Barangkali, maksud itu pula lah yang hendak dihadirkan taman baca “Klug”. Berlokasi di Desa Sawah Kulon, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta, sang pemilik Dian Handayani membuat menjadikan taman baca itu menyerupai saung, lengkap dengan kolam ikan di sebelahnya.

“Saung” itu diletakkan di beranda rumah Dian. Sebagai penanda, sebuah spanduk berilustrasi tumpukan buku tergantung di bagian depannya.

Dian merupakan mahasiswa Sastra Jerman Universitas Indonesia. Bersama kedua teman sekampusnya, Alpiadi Prawiraningrat dan Jaya Wina, mereka menggagas Klug pada 4 Desember 2016 silam. Klug yang berarti “cerdas” dalam bahasa Jerman berdiri di bawah pohon sawo yang rindang melebatkan daunnya.

Dian bercerita, lantaran waktu kecil jarang bersentuhan dengan buku, ia mengaku menyesal. Dirinya juga miris melihat anak kecil di sekitar rumahnya yang sudah terkontaminasi ponsel. Berangkat dari hal itulah kemudian mereka memutuskan untuk membuat Klug.

“Penginnya sih untuk meningkatkan minat baca. Namun, untuk sekarang yang penting mereka kenal dulu sama buku,” tutur dia sebagaimana dilansir dari CNN Indonesia pada 2 Juni 2017 silam.

Niat “iseng” yang ia utarakan ke teman-temannya ternyata mendapat dukungan. Mereka pun segera mewujudkan rencana tersebut. Untuk tempatnya, adalah sang ayah yang dengan suka rela membuatkan saung.

“Saung bermaterial kayu dan bambu dipilih untuk mengenalkan arsitektur tradisional khas Sunda kepada anak-anak,” ungkapnya bangga.

Sementara itu, lantaran tidak memiliki cukup buku, alumnus SMA 1 Purwakarta itu pun mencari donasi. Tak berhenti di situ, mereka juga menjual scarf dan kerajinan yang diberi nama “Bamboo”.

Dengan konsep taman baca “pariwisata”, Klug hadir untuk memperkenalkan pariwisata di Purwakarta, termasuk di dalamnya bagaimana menjaga kelestarian tempat wisata di kota tersebut.

Secara keseluruhan, Klug memiliki tujuh aktivitas rutin yang cukup menarik untuk diikuti anak-anak, di antaranya “Ayo Jelajah!”, “Kelas Inspirasi”, “Mari Menanam!”, “Yuk Kreatif!”, “Asli Purwakarta”, “Regepkeun”, dan “Sehen”. Semua kegiatan tersebut telah dilaksanakan, kecuali Sehen (nonton) lantaran ketiadaan proyektor.

“Kegiatan-kegiatan itu nantinya akan diadakan kembali dengan konten yang berbeda,” jelasnya.

Anda akan menikmati suasana lokal Purwakarta begitu memasuki saung. Poster-poster berisikan produk lokal Purwakarta menghiasi sisi kiri saung. Satu rak buku dengan lima kolom tergantung di bagian pojok kiri dalam saung.

Di dekatnya, tertempel berbagai macam aturan. Sementara buku lain dijajarkan di atas kayu yang memungkinkan untuk diraih sembari duduk. Dipenuhi ornamen daur ulang, saung itu begitu khas dengan nuansa Sunda. (OS/IB)