Wong Berpakaian Seronok kok Dilarang?

Sekian lama kita keliru memakai kata “seronok” untuk sesuatu yang negatif. Padahal, arti sebenarnya dari kata itu sangat positif.

Wong Berpakaian Seronok kok Dilarang?
Penyanyi dengan busana yang tidak seronok. (suarakita.org)

Inibaru.id - Di laman Tribunnews (7/1/2017) ada berita berjudul “Penyanyi Dangdut Tak Boleh Tampil Seronok di Acara Hajatan di Kota Tangerang”. Lead-nya berunyi: “Kepolisian Resor Kota Tangerang, Banten, melarang warga menggelar pertunjukan dangdut yang menampilkan penyanyi berpakaian terlalu seksi alias seronok saat acara hajatan karena khawatir bisa mengundang keributan.”

Yang dimaksud “seronok” dalam berita itu adalah “pakaian terlalu seksi” yang kemungkinan akan memicu keributan dalam sajian dangdut itu.

Berita lain dari Tribunnews bertajuk “Penyanyi Dangdut Seronok Dilarang Pentas di Tangerang” (2/11.2016).  Dalam berita tersebut ada statemen dari Kapolresta Tangerang, Kombes Asep Edi Suheri.

"Penampilan biduan dangdut berpakaian seronok bisa memicu terjadinya tindak pidana kriminalitas seperti keributan dan tindak asusila lainnya."

Baca juga: Dulu Kau Tunggu Para Bajingan, Kini Kau Mengumpatinya

Jadi, jangan coba-coba berpakaian seronok bila seorang penyanyi dangdut mau manggung.

Judul dari laman viva.co.id (19/11/2013) pun setali tiga uang: “Penyanyi Cantik Ini Ogah Ikuti Jejak Miley Cyrus karena Seronok”.

Maksud judul itu jelas, ada penyanyi cantik yang tidak mau mengikuti gaya penyanyi Miley Cyrus yang seronok.

Jadi, kalau kita ingin orang mengikuti gaya kita, ya jangan berpakaian seronok deh!

Jadi Momok

Kata “seronok” adalah momok bagi siapa pun. Siapa yang mau dianggap tidak sopan, vulgar, berpenampilan mengundang berahi, dan hal-hal lain yang negatif?

Nah, kata “seronok” dalam komunikasi kita, lisan dan tertulis, rupanya telah salah diartikan. Kata yang sebenarnya bermakna positif, berubah 180 derajat menjadi kata bermakna negatif.

Coba cek Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “seronok” adalah “menyenangkan hati; sedap dilihat (didengar dan sebagainya)”.

Kenapa penyanyi atau orang yang tampil dengan gaya penampilan, entah itu busana atau lainnya, yang menyenangkan hati, yang indah dipandang, kok harus dilarang? Yang semestinya dilarang karena dianggap mengumbar bagian  tubuh yang mengundang berahi adalah yang berpakaian “tidak seronok”.

Baca juga: Graha, Buaya yang Moncer sebagai Nama Perumahan

Itu karena sebagian besar dari  kita memaknai kata “seronok” secara keliru. Entah siapa yang memulakan pemakaian yang keliru ini, tapi pada kenyataannya hingga zaman now, “seronok” yang bermakna negatif itu masih merasuk dalam pikiran kita dan terucap dan teruliskan secara keliru pula.

Ayo mulai sekarang, kita pakai kata “seronok” secara benar sambil berharap generasi pemirsa Upin dan Ipin akan memaknai kata itu secara benar pula. Kenapa? Upin dan Ipin kerap sekali mengatakan, ”Ah, seronoknya….” untuk hal-hal yang bagus dan positif. (EBC/SA)