Jempol untuk Preman Zaman Old, Bogem untuk Preman Zaman Now

Kata “preman” bergeser maknanya. Dulu, kata itu keren. Zaman now, kata itu membuat orang nggak nyaman.

Jempol untuk Preman Zaman Old, Bogem untuk Preman Zaman Now
Kampung Preman di Yogyakarta. (Liputan6.com/ Abelda Gunawan)
338
View
Komentar

Inibaru.id - Tahun Baru 2018 bakal diwarnai pemberantasan preman-preman. Bila pejabat polisi wilayah setempat tak mampu memberantas preman, Kapolri Jenderal Tito Karnavian akan mencopot polisi tersebut.

"Yang nggak bisa bersihkan (preman), ya saya copot," kata Tito di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Rabu (6/12/2017) seperti ditulis Detik.com.

Menurut Sang Kapolri, ada berbagai jenis preman. Ada copet, jambret, tukang todong, tukang bius, dan kriminal konvensional lainnya. Calo juga termasuk. Mereka menghuni berbagai tempat yang digunakan orang banyak.

"Itu perintah saya. Bersihkan pelabuhan, bandara, stasiun dari calo, kemudian dari copet, jambret, tukang todong, tukang bius, segala macam. Bersihkan," perintahnya.

Sampai di situ, Sobat Millens, jelas sudah bahwa sosok-sosok yang disebut preman oleh Pak Kapolri bukan sosok-sosok anutan melain sosok yang pantas diberantas.

Tentu saja nggak hanya Kapolri dan jajarannya yang berpendapat begitu. Sebagian besar kita pun mengamini pendapat itu: preman itu serbajelek, penyakit masyarakat yang hanya bikin onar dan kerap berhubungan dengan kriminalitas.

Mau bukti lagi? Cekidot pemberitaan Liputan6.com (1/12/2017) tentang kampung preman yang bakal dijadikan destinasi wisata.

Baca juga:
Polisi Zaman Old Tak Perlu Mengincar Bramacorah
Dulu Kau Tunggu Para Bajingan, Kini Kau Mengumpatinya

Ya, Dusun Ledok Tukangan di Yogyakarta, terkenal sebagai kampung preman. Dulunya nggak sembarang orang berani mendekati dusun bantaran Kali Code itu. Kenapa?

Tempat sangar itu menjadi sarang begal, kecu, rampok, copet, hingga residivis pembunuhan awal 2000-an.

"Dulunya kampung ini sudah terkenal di seluruh Yogyakarta, semua yang jelek-jelek ada di sini, dari maling, rampok, tukang bacok orang. Ada semua," kata warga Dusun Ledok, Deki Bagus Wahyu (38), Kamis, (30/11/2017).

Itu omongan orang kebanyakan, lo. Jadi, preman memang buruk. Tapi benarkah?

Mari kita cek ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi V.

Preman [1]: 1. partikelir; swasta; 2. bukan tentara; sipil (tentang orang, pakaian, dan sebagainya); 3. Kepunyaan sendiri (tentang kendaraan dan sebagainya).

Preman [2]: sebutan kepada orang jahat (penodong, perampok, pemeras, dan sebagainya).

Benarlah, kelompok makna kedua [2] untuk lema “preman” dalam kamus itu sarujuk dengan pendapat Pak Kapolri dan warga Dusun Ledok, plus sebagian besar kita.

Tapi sebenarnya, pada kelompok makna pertama [1], lema “preman” bersifat netral. Pegawai preman itu bukan pegawai pemerintah melainkan swasta alias partikelir; pakaian preman itu sebutan untuk pakaian biasa, bukan pakaian seragam atau pakaian dinas; kendaraan preman itu sebutan untuk kendaraan milik pribadi, bukan kendaraan dinas.

Tapi kenapa makna kedua yang negatif itu yang menang dalam benak hampir semua kalangan masyarakat ketika menyebut preman?

Pergeseran Makna: Pejoratif Kata “Preman”

Tahukah kamu bahwa dulu “preman” itu hanya punya satu makna dan konotasinya bagus banget.

Mari kita sedikit mundur ke zaman old, tepatnya ke masa kolonialisme Belanda.

Ya, ”preman” berasal dari ungkapan kata Belanda “vrij man” yang berarti orang merdeka, orang yang bebas. Orang Jawa mengatakannya “tiyang mardika”. Nggak sekadar merdeka, mereka adalah sosok-sosok anutan, ditakuti karena kekuatan fisiknya, dan para penolak kerja sama dengan Belanda.

Pada masa kolonialisme di bumi Nusantara ini, sosok yang melawan Belanda adalah sosok pujaan. Dia pahlawan. Mereka nggak pernah mau bekerja sama dengan Belanda, berapa pun mereka dibayar. Mengagumkan, bukan?

Lalu Indonesia merdeka dan Belanda hengkang. Orang-orang  yang nggak mau terikat dengan siapa pun itu lalu disewa orang-orang kaya. Sebagian menjadi centeng, dan sebagian lainnya bekerja kasar. Lambat laun ada di antara mereka yang menjadi tukang palak dan kriminal.

Baca juga:
Wong Berpakaian Seronok kok Dilarang?
Graha, Buaya yang Moncer sebagai Nama Perumahan

Seturut itu pula, sebutan “preman” yang bagus pudar sudah. Yang tersisa adalah konsep “preman” yang negatif artinya, hingga ke zaman now, ke masa milenial ini. Dalam ilmu kebahasaan, makna yang bergeser dari positif ke negatif disebut makna peyoratif. Itu kebalikan dari makna amelioratif, yaitu kata-kata yang dulunya bermakna negatif, kini bermakna positif. Contohnya kata “tunawisma” sebagai ganti gelandangan, “tunasusila” sebagai ganti pelacur, dan lain-lain. (Untuk yang ini kita bahas lain waktu, ya?)

Begitulah, kini bisa dipastikan nggak ada orang yang mau menyandang gelar “preman”. Nggak ada orang tua yang ingin anaknya jadi “preman”. Nggak ada calon mertua yang ingin bermenantukan “preman”.  

Pada zaman old semasa kolonialisme, mereka dipuja dan ditakuti untuk hal positif, dan diberi acungan jempol. Pada zaman now, mereka dihujat dan didoakan agar segera bertobat. Kalau nggak segera bertobat, dia harus siap berhadapan dengan perintah Pak Kapolri.  Ya, sang preman harus siap menerima bogem. (EBC/SA)