Ketika Para ‘Bule’ Berkubang di Lumpur Sawah

Bagaimana jadinya jika para bule diajak bersinggungan langsung dengan atmosfer khas pedesaan, termasuk mempelajari seni budaya khas daerah lokal di Indonesia?

Ketika Para ‘Bule’ Berkubang di Lumpur Sawah
Para bule menikmati sensasinya bermain lumpur. (Foto: Asatu.id)

Inibaru.id - Ketika kepenatan dunia modern yang begitu dibatasi tembok kian menghimpit, suasana alam perdesaan lengkap dengan segala kegiatan yang melingkupinya adalah pelarian yang tepat. Inilah yang dilakukan Elizabeth Gilbert, protagonis film Eat, Pray, Love (2010), kala ia berkunjung ke Bali.

Beruntunglah bagi kita yang tinggal di Indonesia. Negeri ini masih begitu dipenuhi desa-desa dengan panorama alami yang begitu memukau mata ketika melihatnya. Ragam budaya yang melekat dengan erat di seluruh pedesaan juga menjadi daya tarik yang begitu menakjubkan.

Bagi kita yang biasa melihat persawahan, hal ini tentu tidaklah begitu mengagumkan. Namun, bagi orang luar negeri yang jarang bersinggungan dengan aroma khas pedesaan, wisata alam adalah “surga dunia” bagi mereka yang merindukan kedamaian dan ketenangan.

Seakan mengetahui hal ini, Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales (AIESEC) Universitas Diponegoro Semarang mengajak sejumlah mahasiswa dari luar Indonesia untuk mengecap suasana alam di pedesaan. Mereka pun dibawa ke Desa Wisata (Deswita) Kandri, Gunung Pati, Semarang.

Tak sekadar berkunjung, para mahasiswa itu juga turut terlibat langsung dalam berbagai kegiatan di desa tersebut, termasuk bersinggungan dengan seni budaya sekitar. Mereka seperti menari, bermain gamelan, bahkan belajar memanah. Tak lupa, para “bule” itu juga diajak makan bersama dengan beralaskan daun pisang.

Sekjen Upprenuer project AIESEC Undip, Berlian Shinta, mengatakan, Desa Kandri sebagai deswita yang ada di Semarang ini memiliki kearifan lokal yang nampaknya memberikan pengalaman yang menarik bagi anggota AIESEC luar negeri.

“Di sini kita juga ingin mengenalkan seni budaya di desa wisata ini. Dan, ternyata teman-teman dari luar negeri mengatakan: ini sangat luar biasa!” ujarnya kepada asatu.id, Selasa (15/8/2017) lalu.

Ia menambahkan, banyak mahasiswa dari luar negeri tersebut belum pernah merasakan sensasi di area persawahan.

Adapun permainan di area sawah yang dilakukan itu menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa yang tergabung dalam AIESEC.

“Hari kedua di Desa Wisata Kandri ini kita agendakan bermain di sawah. Bermain lumpur-lumpuran. Walaupun awalnya gimana gitu, tapi ending-nya seru,” imbuhnya.

Mahasiswa asal Kanada bernama Isabell mengaku, bermain di sawah adalah pengalaman yang tak terlupakan. Hal ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya

“Nggak pernah terbayangkan sebelumnya bisa seseru dan sekeren ini,” ungkapnya sumringah.

Isabell juga menyatakan keinginanya untuk bisa kembali legi ke Semarang, khususnya ke Desa Kandri untuk belajar dan bermain di desa tersebut. (GIL/IB)