Festival Jerami Banjarnegara, Cara Unik Kritik Kedaulatan Pangan Indonesia

Tau gak sih? Festival jerami yang digelar di Kabupaten Banjarnegara punya nilai filosofis loh! Yuk, simak informasinya.

Festival Jerami Banjarnegara, Cara Unik Kritik Kedaulatan Pangan Indonesia
Festival Jerami di Banjarnegara. (Foto: Instagram @foraginanjarkatamsi)

Inibaru.id - Desa Jenggawur yang terdapat di Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara biasanya dikenal sebagai desa yang suasananya sepi. Namun, pada hari Sabtu 26 Agustus 2017 lalu, desa ini mendadak menjadi sangat ramai. Jalanan desa yang biasanya lengang mendadak dipenuhi oleh ratusan orang. Persimpangan jalan yang biasanya tidak diperhatikan juga kemudian dihiasi dengan gapura dengan bentuk yang unik dan puluhan patung yang terbuat dari jerami yang sudah kering. Ternyata, setelah ditelisik, di desa ini sedang diadakan sebuah festival yang dinamai sebagai Festival Jerami Banjarnegara.

Festival yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, ini berlangsung sangat meriah dan menarik.  Tak hanya tentang gapura atau patung yang dibuat dari jerami kering yang terlihat unik, namun festival jerami ini merupakan kampanye tentang pemanfaatan bahan limbah. Melalui acara ini juga, pihak penyelenggara ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa limbah bisa diolah menjadi berang bernilai guna.

Baca juga: Parak Iwak, Puncak Festival Serayu Banjarnegara Yang Membuat Lebih  Semarak

Salah satu peserta kontes kecantikan pada festival ini adalah Elsa Miftahul Jannah. Gadis berusia 17 tahun yang masih berstatus siswi salah satu SMA negeri di Banjarnegara ini berjalan dengan anggun layaknya model papan atas di catwalk aspal ini. Dalam setiap langkahnya, Elsa mengembangkan senyum manis pada setiap orang yang melihat dan puluhan lensa kamera yang siap mengabadikannya dalam foto.

Tak hanya wajah cantiknya yang membuat banyak orang tertarik, kostum Elsa yang disesuaikan dengan tema festival dan dibuat dari rajutan jerami kering sangatlah unik sehingga mengundang decak kagum banyak orang.

Selain dari jerami kering, berbagai jenis hasil daur ulang sampah plastik pun dianyam pada gaun yang dipakai Elsa sebagai bagian ekor gaun yang membuat penampilan Elsa di catwalk menjadi semakin semarak.

Penggagas dari Festival Jerami Banjarnegara adalah Arianto. Pria berusia 44 tahun ini menuturkan bahwa selain Elsa, setidaknya ada 43 partisipan lainnya yang ikut meramaikan panggung fashion show di festival ini. Tak hanya dilakukan untuk kebutuhan promosi pariwisata di kabupaten yang dikenal dengan Sungai Serayu ini, Arianto menyebutkan bahwa festival jerami ini dilakukan sebagai salah satu kritik bagi kedaulatan pangan di tanah air.

Menurutnya, jerami bisa dijadikan simbol bahwa Indonesia adalah negara yang agraris sehingga sebisa mungkin ke depannya pemerintah menghentikan impor beras dan mulai memperhatikan kebijakan yang berpihak pada petani sekaligus meningkatkan sektor pertanian dalam negeri.

Tak hanya menjadi ajang kritik bagi pemerintah, festival ini juga diharapkan bisa menumbuhkan kesadaran bagi generasi muda untuk mengenal kembali dunia pertanian yang sebenarnya masih menjadi salah satu tulang punggung Indonesia.

Arianto menyebutkan bahwa belakangan ini generasi muda menganggap petani sebagai profesi yang tidak lagi menarik. Padahal, tanpa adanya petani, kita tentu akan kesulitan mendapatkan bahan makanan utama masyarakat yang masih berupa nasi. (AW/IB)