Syekh Siti Jenar Itu Sosok Sejarah

Kisah tentangnya hampir selalu kontroversial. Dialah Syekh Siti Jenar, tokoh populer banget dalam sejarah penyebaran awal Islam di Nusantara.

Syekh Siti Jenar Itu Sosok Sejarah
Beberapa buku tentang Syekh Siti Jenar (Tokopedia)

Inibaru.id – Sebagai tokoh yang diyakini sebagai sosok sejarah, nggak mudah menuliskan kisah kehidupan dan kiprah dakwahnya. Lebih-lebih lagi, kontroversi menyertai hampir seluruh cerita mengenai dirinya. Dialah Syekh Siti Jenar a.k.a Syekh Lemah Abang.

Benarlah, Millens, dalam sejarah penyebaran awal Islam di Nusantara yang digerakkan para wali, nggak ada sosok sekontroversial Syekh Siti Jenar. Memang nggak ada catatan sejarah tentangnya. Kisahnya sampai ke kita melalui serat, kidung, dan cerita rakyat. Bagi sejarawan, hasil karya tulis dan lisan itu bukan data sejarah primer. Seringkali kisah yang  berkembang di dalam karya-karya itu mendeskreditkan namanya. Sebagai contoh mitos yang berkembang bahwa dia lahir dari cacing tanah; bahwa ketika mati jasadnya berubah menjadi anjing; bahwa dia mengajarkan ajaran sesat.

Siapa sebenarnya Syekh Siti Jenar, hingga hari ini masih terus dicari, diteliti, menggenapi pelbagai penelitian dan buku-buku yang menuliskan tentang sosok dan ajarannya. Sebagian besar ahli berpendapat bahwa dia adalah sosok sejarah, artinya sosok nyata yang hidup pada suatu masa di suatu tempat.

Lantas sebagai sosok sejarah kapan dan di mana Syekh Siti Jenar dilahirkan? Untuk soal ini pun muncul perbedaan. Tirto.id (28/11/2017) yang merangkum dari pelbagai sumber menyebut dia berasal dari Persia (Iran) yang lahir 1404. Namun ada pula yang menyebut dia lahir di Pakuwuan Caruban, pusat kota Caruban Larang yang sekarang dikenal sebagai Astana Japura, sebelah selatan Kota Cirebon. Wikipedia, contohnya, menyebut nama aslinya Raden Abdul Jalil, kelahiran Astanajapura pada 1426.

Jadi, dia asli Jawa atau dari Persia? Dalam buku Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar (2001), Dr Munir Mulkhan menegaskan, asal dan tempat kelahiran Syekh Siti Jenar tetap kabur.

Hanya saja, Millens, yang paling banyak disepakati adalah garis nasab alias silsilah Jenar yang disebut-sebut keturunan Rasulullah saw dari jalur cucunya, Hussain bin Ali ra.

Menurut  KH.Shohibul Faroji Al-Robbani dalam Kumpulan Tanya Jawab Islam: Hasil Bahtsul Masail dan Tanya Jawab Agama Islam (2013), sejak kecil Jenar belajar Alquran dan tafsirnya kepada ayahnya, Sayyid Shalih. Pada usia 12 tahun, dia sudah hafal Alquran.

Pada usia 17, bersama ayahnya Jenar berdakwah ke Malaka. Di sana sang ayah diangkat menjadi Mufti Malaka oleh Sultan Malaka Muhammad Iskandarsyah. Saat itu. Kesultanan Malaka jadi bawahan Khalifah Muhammad I dari Kekhalifahan Turki Utsmani.

Pada 1424 M, terjadi perpindahan kekuasaan dari Sultan Muhammad Iskandarsyah ke Sultan Mudzaffar Syah. Posisi mufti ayah Jenar diganti.  Lalu pada akhir 1425 M. Sayyid Shalih beserta anak dan istrinya pindah ke Cirebon. Di sana Sayyid Shalih menemui sepupunya yaitu Sayyid Kahfi bin Sayyid Ahmad. Jenar pun berguru kepada Sayyid Ahmad.

Lantas bagaimana keterlibatan Syekh Siti Jenar dalam dewan wali? Konon dalam pertemuan pertama Dewan Wali yang dipimpin Sunan Giri (menggantikan Sunan Ampel), Jenar ditanya pemikirannya tentang makrifat. Kisah pertemuan inilah yang selanjutnya berkembang sebagai cerita mengenai ajaran sesat Syekh Siti Jenar.

Karena dianggap sesat, Jenar dihukum mati. Kisah mengenai hukuman matinya pun lagi-lagi berkembang sekian versi yang saling berlawanan.

Perlu Sobat Millens tahu, sudah banyak pula ulasan yang berusaha meluruskan kisah-kisah buruk mengenai Syekh Siti Jenar, bahwa dia manusia bukan cacing dan jasadnya berbau harum bukan bangkai anjing. Semua ulasan itu menyebut adanya kesengajaan membuat cerita minor tentang Syekh Siti Jenar untuk mempertegas tuduhan bahwa ajarannya sesat.

Di luar kontroversi itu, mari kita simak pendapat ahli Sejarah Islam Indonesia, Prof Dr Azyumardi Azra, mantan Rektor UIN  Syarif Hidayatullah Jakarta, bahwa fitnah itu memang dilancarkan Belanda untuk memecah belah umat Islam di Indonesia agar selalu bertikai.

Nah, Millens, upaya memecah belah umat yang paling efektif memang dengan penyebaran fitnah, hoaks, dan teman-temannya. Dari kisah singkat tentang sosok Syekh Siti Jenar itu, ada baiknya kita juga mewaspadai fitnah dan hoaks  yang sedang merubung kita sekarang ini, di dunia maya dan dunia nyata. Oke? (IB02/E05)