Siapakah Santri Itu?

Banyak pendapat tentang kata “santri”. Tapi semua pendapat itu sepakat bahwa santri adalah orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya.

Siapakah Santri Itu?
Santri Baca Kitab Kuning (Twitter/@nu_online)

Inibaru.id – Nama santri sedang sangat moncer seturut peringatan besar-besaran Hari Santri, 22 Oktober lalu. Tapi sebenarnya istilah santri, juga pesantren, bukan kata baru dalam kosakata kita.

Siapa sebenarnya “santri”?

Kata “santri” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti:  (1) orang yang mendalami agama Islam; (2) orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh (orang yang saleh); (3) Orang yang mendalami pengajiannya dalam agama Islam dengan berguru ke tempat yang jauh seperti pesantren dan lain sebagainya.

Baca juga: Masjid, Langgar, dan Musala, Apa Bedanya?

Ada tiga makna “santri” yang pada akhirnya muncul beberapa asumsi mengenai pengertiannya. Hafizhuddin, S.Pd.I dalam blognya  hafizhuddin30.wordpress.com menulis, ada pendapat bahwa “santri” adalah kata serapan dari bahasa Inggris yang berasal dari dua suku kata yaitu sun dan three yang artinya “tiga  matahari”. Matahari adalah titik pusat tata surya berupa bola berisi gas yg mendatangkan terang dan panas pada bumi pada siang hari. Seperti kita ketahui matahari adalah sumber energi tanpa batas. Matahari pula sumber kehidupan bagi seluruh tumbuhan dan semuanya dilakukan secara ikhlas oleh matahari.

Namun maksud “tiga matahari” dalam kata sun-three adalah tiga keharusan yang dipunyai oleh seorang santri yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Semua ilmu tentang Iman, Islam dan Ihsan dipelajari dipesantren menjadi seorang santri yang dapat beriman kepada Allah secara sungguh-sungguh, berpegang teguh kepada aturan Islam, dan dapat berbuat ihsan kepada sesama.

Hanya saja, belum ada kesepakatan. Ada yang menyebut, santri diambil dari bahasa Tamil yang berarti “guru mengaji” menurut Prof Dr Zamakhsyari Dhofier yang mengutip pendapat Prof Johns. Ada juga yang menilai kata santri berasal dari kata India “shastri” yang berarti “orang yang memiliki pengetahuan tentang kitab suci”. Ini adalah pendapat CC Berg.

Selaras dengan Berg, Cliford Geertz menduga, bahwa pengertian “santri” mungkin berasal dan bahasa Sanskerta “shastri”, yang berarti ilmuwan Hindu yang pandai menulis, yang dalam pemakaian bahasa modern memiliki arti yang sempit dan arti yang luas. Dalam arti sempit, ialah seorang pelajar yang belajar di sekolah agama atau yang biasa disebut pondok pesantren.

Baca juga: Mengenal Islam Tua di Lenganeng

Dalam arti yang lebih luas, “santri” mengacu pada bagian anggota penduduk Jawa yang menganut Islam dengan sungguh-sungguh, yang bersembahyang ke masjid pada hari Jumat, dan sebagainya. Sedangkan Soegarda Poerbakawatja menyatakan bahwa tradisi pesantren itu bukan berasal dan sistem pendidikan Islam di Makkah, melainkan dari Hindu dengan melihat seluruh sistem pendidikannya bersifat agama, guru tidak mendapat gaji, penghormatan yang besar terhadap guru dari para murid yang keluar meminta-minta diluar lingkungan pondok. Juga letak pesantren yang didirikan di luar kota dapat dijadikan alasan untuk membuktikan asal-usul pesantren dari Hindu dan pendapat serupa dikemukakan juga oleh Van Bruinessen.

Selain itu, Nurkholis Madjid meyakini bahwa kata “santri” berasal dari kata “cantrik” (bahasa Sansekerta atau Jawa), yang berarti orang yang selalu mengikuti guru.

Masih banyak pendapat lain. Intinya,semua pendapat merujuk ke hal yang hampir serupa bahwa seseorang yang mendalami ilmu agama (Islam) dan mengamalkannya sungguh-sungguh bisa disebut santri. (EBC/SA)