Sebelum Columbus, Islam Sudah Ada di Amerika

Kebijakan Donald Trump yang sebagian besar anti-Islam melupakan fakta bahwa Islam sudah ada di Benua Amerika sebelum ditemukan Columbus. Itu artinya sebelum negara yang dipimpin Trump berdiri.

Sebelum Columbus, Islam Sudah Ada di Amerika
Muslim Amerika berdemo menentang Islamafobia. (Getty Images/commondreams.org)

Inibaru.id -  Sebelum heboh klaim Trump soal Yerusalem yang sudah ditolak Dewan Keamanan PBB, presiden kontroversial itu sempat melarang orang Islam datang ke Amerika Serikat (AS). Kebijakan itu pun sudah nggak berlaku karena dibatalkan oleh hakim agung Mahkamah Agung Federal.

Bagaimana sebenarnya Islam di Negeri Paman Sam itu?

Faktanya, Islam berkembang begitu pesat di AS. Menurut data Council on American-Islamic Relations, sebuah lembaga advokasi Islam terkemuka, seperti dikutip Republika.co.id (21/12/2017), jumlah umat Islam di sana sudah mencapai 7 juta jiwa. Nggak heran bahwa John L Esposito memperkirakan pada masa mendatang jumlah pemeluk Islam akan mengalahkan populasi Yahudi.

Sobat Millens, sebenarnya Islam merupakan salah satu agama penting bagi orang-orang Amerika. Itu menurut Esposito dalam Ensiklopedi Oxford. Mau bukti? Umat Islam di Amerika telah memiliki sekitar 2.300 lembaga dan organisasi, 1.300 masjid, pusat kajian Islam, serta sekolah. Umat Islam pun telah berperan besar dalam membangun Amerika.

Nggak termungkiri, Islam bukanlah agama yang baru berkembang di Amerika. Bahkan, Islam telah lebih dulu hadir di Dunia Baru (julukan yang diberikan oleh Christoforus Columbus untuk benua Amerika) sebelum negara adidaya itu terbentuk. Jauh sebelum penjelajah asal Spanyol itu tiba di Benua Amerika, Islam telah hadir di daratan itu.

Baca juga:
Muslim Uruguay, Minoritas Tanpa Tekanan
Geliat Dakwah Ponpes Assalam di Pedalaman Kutai Barat

Lalu sejak kapan Islam hadir di Amerika?

Sejarawan muslim Abu Bakar Ibnu Umar Al-Guttiya mengisahkan, pada masa kekuasaan Khalifah Ummayah Spanyol bernama Hisham II (976 M -1009 M), seorang navigator muslim bernama Ibnu Farrukh telah berlayar dari Kadesh pada bulan Februari 999 M menuju Atlantik. Dia berlabuh di Gando atau Kepulauan Canary Raya.

Ibnu Farrukh mengunjungi Raja Guanariga. Sang penjelajah muslim itu memberi nama dua pulau, yakni Capraria dan Pluitana. Ibnu Farrukh kembali ke Spanyol pada Mei 999 M.

“Nah, nggak perlu diragukan lagi, secara historis, kaum muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika beberapa abad sebelum Columbus menemukannya,” papar Fareed H Numan dalam American Muslim History: A Chronological Observation.

Sejarawan Ivan van Sertima dalam karyanya They Came before Columbus membuktikan adanya kontak antara muslim Afrika dengan orang Amerika asli jauh sebelum Columbus datang. Dalam African Presence in Early America, van Sertima menemukan fakta bahwa para pedagang muslim dari Arab juga sangat aktif berniaga dengan masyarakat yang tinggal di Amerika.

Baca juga:
Wali Pitu dan Jejak Islam di Pulau Dewata
Menilik Kesucian Masjid Aqsha

Saat menginjakkan kaki di benua Amerika, papar Van Sertima, Columbus sempat mengungkapkan kekagumannya kepada orang Karibian yang sudah beragama Islam. Menurut dia, Columbus juga tahu bahwa muslim dari pantai Barat Afrika telah tinggal lebih dulu di Karibia, Amerika Tengah, Selatan, dan Utara.

Yang pasti, Millens, perkembangan Islam di Amerika memang mengalami masa pasang surut. Jadi, ide gila Trump yang Islamafobia nggak beralasan banget kalau lihat sejarah dan peran orang Islam di AS. (EBC/SA)