Praktik Rentenir, Tas Robek, dan Makanan Basi Jadi Temuan Timwas Haji

Mengejutkan sekali, praktik rentenir bagi jemaah haji yang ingin menukarkan uang Riyal ini ditemukan saat proses sidak Timwas Persiapan Haji.

Praktik Rentenir, Tas Robek, dan Makanan Basi Jadi Temuan Timwas Haji
Penukaran uang Riyal jemaah Haji. (Foto: Antara)

 Inibaru.id - Praktik rentenir terjadi dalam penyelenggaraan haji di Tanah Suci. Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Iskan Qolba Lubis, yang melakukan inspeksi mendadak (sidak) penyelenggaraan haji di sektor 5 Kota Mekah bersama Tim Pengawasan (Timwas) Persiapan Haji yang beranggotakan anggota DPR RI.

"Kami kaget, ternyata selama ini terjadi praktik rentenir bagi jemaah haji yang ingin menukarkan uang Riyal,” ungkap Iskan dalam keterangan tertulisnya, di Mekah, dilansir dari Viva, baru-baru ini.

Ia mengungkapkan, kasus tersebut terjadi di kloter 47 JKS, bagi yang ingin menukarkan uang Riyal pecahan 500.

“Untuk satu pecahan saja terkena potongan 80 Riyal, berarti kalau tiga pecahan akan terpotong 240 Riyal," terangnya.

Menurut Iskan, ternyata praktik rentenir itu juga terjadi di embarkasi lainnya, seperti yang terjadi di embarkasi Medan, sesuai pengakuan salah seorang jemaah.

"Penukaran pecahan 500 hanya menerima 450 Riyal. Bahkan, praktik semacam itu disinyalir atas sepengetahuan petugas di embarkasi tersebut," ujar dia.

Iskan menegaskan praktik rentenir tidak diperbolehkan apalagi dalam penyelenggaraan haji, selain dilarang agama karena bersifat ribawi, juga sangat menzalimi jemaah haji sendiri.

Menyikapi hal itu, Komisi VIII DPR akan meminta Bank Indonesia untuk menyiapkan pecahan 100 Riyal, sehingga memudahkan jemaah haji menukarkan uangnya.

Selain itu, DPR akan meminta Kementerian Agama melakukan investigasi di semua embarkasi sekaligus menindak para oknum pelaku.

Dalam sidak juga ditemukan beberapa kekurangan pelayanan terhadap jemaah haji, seperti kasus makanan basi di Madinah dengan jumlah yang sangat banyak, sekitar 6.400 kotak nasi.

"Kasus basinya makanan jemaah haji dalam jumlah banyak menandakan lemahnya pengawasan makanan yang akan disajikan, terutama jenis sayuran berkuah sehingga mudah basi," katanya.

Selain itu, tim pengawasan juga menemukan rendahnya kualitas tas yang dibagikan kepada jemaah. Padahal tas merupakan identitas yang dilihat jemaah seluruh dunia.

"Jemaah dari Bandung mengeluh tas yang dibagikan kualitas rendah, sehingga cepat sobek. Padahal tas terpampang identitas jemaah, dan membuat dipertaruhkan martabatnya di tengah jemaah lain seluruh dunia," pungkas dia.

Sebagai informasi, Timwas Haji berkunjung ke Arab Saudi untuk memantau langsung persiapan dan pelaksanaan haji tahun 2017 ini. Di Madinah, Timwas mengunjungi Daerah Kerja Madinah, melihat langsung kantor Daker, pemondokan, dan tempat katering yang bermasalah.

Sementara di Mekah, Timwas sidak ke Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) dan bertemu dengan beberapa jemaah haji dari berbagai kloter.

Dalam pertemuan itu, Timwas mendapat masukan dari jemaah haji di beberapa maktab dalam pertemuan dadakan. Ada 15 kloter yang ditemui. Umumnya masukan-masukan yang diterima adalah untuk perbaikan haji. (GIL/IB)