Musim Ini Haji Kita yang Wafat lebih Banyak dari Tahun Lalu, Kenapa?

Cuaca panas di Tanah Suci disebut sebagai penyebab jumlah kematian jemaah haji lebih besar dari tahun sebelumnya. Apa lagi penyebabnya?

Musim Ini Haji Kita yang Wafat lebih Banyak dari Tahun Lalu, Kenapa?
Foto: Makam jemaah haji di Mekah. (Istimewa)

Inibaru.id. – Berhaji bukanlah ibadah yang mudah dijalankan. Selain membutuhkan biaya besar dan keluangan waktu, menjalani Rukun Kelima dalam Islam itu juga harus dibekali kondisi fisik yang prima.

Tak sedikit jemaah haji asal Indonesia yang meninggal di Tanah Suci. Dilansir dari Beritagar, hingga 13 September 2017 setidak-tidaknya sudah 438 jemaah wafat di Saudi. Lima orang di antaranya meninggal di Jeddah, 309 di Mekah, 37 di Madinah, 20 di Arafah, dan 67 jemaah wafat di Mina.

Sejumlah 18 orang dari total jemaah yang meninggal dunia adalah jemaah haji khusus. Angka ini jauh lebih besar dari jumlah jemaah wafat pada 2016 lalu yang “hanya” berjumlah 342, kendati lebih kecil dari tahun 2015 yang mencapai 491 orang. Itu pun lantaran sekitar 100 orang di antaranya menjadi korban katrol dan musibah di Mina.

Baca juga: Musim Haji 2017 dalam Kacamata Angka

Sebagian besar jemaah wafat di Tanah Suci tahun ini adalah para calon haji (calhaj) dengan kondisi berisiko. Kepala Seksi Penghubung Kesehatan Daerah Kerja Mekah, Ramon Andrias, mengatakan, 342 jemaah yang meninggal berusia 60 tahun ke atas.

“Sudah berusia lanjut sehingga masuk kondisi berisiko tinggi,” ujarnya.

Pihaknya menambahkan, cuaca yang lebih panas juga meningkatkan risiko kematian. Ia menggambarkan, pada musim haji ini suhu di Mekah berkisar antara 43 hingga 46 derajat Celcius.

"Di Madinah bahkan bisa lebih panas, sementara kelembapan juga rendah," kata dia sebagaimana dikutip dari laman Kementerian Agama (Kemenag) RI.

Dia berdalih, tingginya angka kematian para jemaah dibanding tahun lalu ini berbanding lurus dengan kuota haji yang lebih besar tahun ini. Sejak tahun 2013 hingga 2016, lanjutnya, kuota haji dipotong 20 persen karena renovasi Masjidil Haram.

“Tahun ini kembali normal 221 ribu jemaah, sementara tahun lalu hanya 168.800 orang. Ini juga meningkatkan berbagai risiko, termasuk kematian,” tuturnya.

Sementara itu, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin berharap, keberhasilan penyelenggaraan haji bukan dinilai dari jumlah jemaah haji yang meninggal. Hal itu disampaikannya di tengah rapat bersama DPR, Kamis (14/9/2017).

Baca juga: Berbekal Yakin, Tukang Becak 79 Tahun Ini Akhirnya Bisa Berhaji

Baca juga: Berusia 104 Tahun, Peserta Haji Ini Jadi Calhaj Paling Tua

"Saya ingin menyampaikan kepada publik, mohon ukuran keberhasilan, ukuran kinerja terkait dengan penyelenggaraan haji janganlah dikaitkan dengan banyak atau sedikitnya jumlah jemaah kita yang wafat," kata Menag, dikutip dari Detikcom.

Kendati demikian, Lukman menyadari, penyelenggaraan haji tahun ini juga memiliki sejumlah kekurangan, semisal kejadian para jemaah yang berdesakan di tenda ketika berada di Mina. Ia berjanji akan mengevaluasi kekurangan penyelenggaraan haji tahun ini dan memperbaikinya di kemudian hari.

Setidak-tidaknya sudah ada 10 poin evaluasi yang sempat dilontarkan Lukman dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Hal itu diungkapkannya dalam rapat evaluasi delegasi Amirul Hajj dengan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Sabtu (9/9) lalu.

Beberapa poin tersebut di antaranya perbaikan infrastruktur di Armina (Arafah-Muzdalifah-Mina), dan ruang rawat khusus di bandara. Sementara, screening riwayat hukum calhaj dan penambahan kuota petugas juga menjadi prioritas untuk segera ditindaklanjuti pada penyelenggaraan musim depan. (GIL/SA)