Menyusuri Sejarah dan Tradisi di Masjid Wali Loram Kulon Kudus

Nggak hanya unik dari segi arsitekturnya. Masjid Wali Loram ini punya tradisi menarik. Yuk simak!

Menyusuri Sejarah dan Tradisi di Masjid Wali Loram Kulon Kudus
Penampakan Gapura dan Masjid Wali Loram Kudus. (Seputarkudus.com)

Inibaru.id – Nama resmi masjid ini adalah Masjid Jami At-Taqwa, namun masyarakat setempat lebih suka menyebutnya Masjid Wali Loram Kulon. Masjid ini berada di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Melansir Aroebinang.com (21/02/2018), bangunan asli masjid ini dibangun pada 1596-1597 oleh seorang Tionghoa Muslim asal Campa bernama Tjie Wie Gwan. Sumber lain, piyeleh.com (Januari 2017) menulis bahwa masjid ini dibangun Tjie Wie Gwan atas perintah Sultan Hadlirin. 

Seperti laiknya bangun masjid pada zaman dahulu, Masjid Wali Loram Kulon ini dibuat dengan kayu jati yang telah dilengkapi dengan menara, sumur tempat berwudhu dan bedug.

Begian depan Masjid At Taqwa. (Piyeleh.com) 

Namun seiring bertambahnya usia, masjid ini menjadi rapuh sehingga telah dilakukan pemugaran pada awal 1990-an. Bagian yang sama sekali nggak diubah yaitu bagian gapura paduraksa yang berada di depan masjid. Ada aksara arab berbunyi “Allhumma baariklana bil khoir” dan di bawahnya ada terjemahannya yang berbunyi “Ya Allah, berkahilah kebaikan kepada kami” yang tertera di gapura itu.

Seperti Masjid Menara Kudus, Masjid Wali Loram Kulon ini juga berarsitektur Jawa Hindu dan mengkombinasikannya dengan gaya Timur Tengah. Selain gapura, bagian masjid yang masih asli ada saka guru, mustaka cungkup masjid, sumur, pintu ukir, dan bedug.

Tradisi-tradisi Unik

Keunikan lain ada pada tradisi yang dilakukan di masjid ini. Seperti yang ditulis pada Jelajahiptek.blogspot.com (30/06/2018), ada tradisi Nganten Mubeng Gapura di Masjid Wali.

Tradisi ini merupakan tradisi yang dilakukan para pengantin baru yang telah selesai melaksanakan prosesi ijab qobul. Pengantin ini harus melewati pintu Barat dan Timur masjid yang berupa gapura klasik batu bata merah bercorak Hindu.

Tradisi Nganten Mubeng (Sindonews.com)

Tradisi lain yang ada di Desa Loram Kulon ini yaitu bersedekah dengan mengirim nasi kepel ke Masjid Wali Loram Kulon. Masyarakat yang memiliki hajat seperti menikahkan anak, sunat, membangun rumah, melahirkan, dan lain-lain akan membawa sedekah nasi kepel dan lauk bothok masing-masing 7 bungkus.

Seorang warga menyerahkan nasi kepel pada pengurus masjid. (Murianews.com)

Nasi kepel merupakan nasi yang dibungkus dengan daun jati atau daun pisang, berbentuk bulat dan diikat. Angka tujuh (Jawa: pitu) menjadi perlambang bagi pitulung (pertolongan), pitutur (nasihat), dan pituduh (petunjuk) dalam menjalani hidup.

Wah, menarik banget ya, Millens. Jika kamu mengunjungi Kota Kudus, jangan lewatkan untuk berwisata religi ke masjid bersejarah ini ya. (IB13/E05)