Menilik Kesucian Masjid Aqsha

Masjid Aqsha di Yerusalem, Palestina nggak terbantahkan sebagai tempat yang disucikan umat Islam seperti yang disebutkan dalam Alquran.

Menilik Kesucian Masjid Aqsha
Masjid Aqsha. (Republika.co.id)

Inibaru.id – Ini masih soal reaksi terhadap klaim sepihak Donald Trump tentang Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Sebagian orang mengkhawatirkan status Masjid Al-Aqsha yang berada di kota tersebut. Seperti kamu ketahui, masjid itu jadi tempat suci ketiga bagi umat Islam setelah Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Republika.co.id (8/12/2017) menulis, lembaga-lembaga Islam yang berbasis di Yerusalem merilis pernyataan bersama merespons keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui kota tersebut sebagai ibu kota Israel. Menurut lembaga-lembaga tersebut, keputusan Trump dapat dimanfaatkan ekstremis Yahudi untuk mengubah status Masjid Al-Aqsha di Yerusalem.

Mereka menilai, dengan keputusan Trump, Israel akan leluasa untuk meyahudikan kompleks Masjid Al Aqsha dengan tujuan untuk mengubah demografi historis kota tersebut.

Wajar saja mereka menuntut pencabutan pernyataan Trump. Perlu kamu tahu, Masjid al-Aqsha merupakan salah satu tempat Rasulullah Saw dalam perjalanan Isra. Dalam As-Sirah, ketika menjelaskan peristiwa Isra Mikraj, Ibnu Ishaq menuturkan, “Rasulullah Saw lalu diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yaitu Baitul Maqdis di Ilya.”

Alquran Surat Al-Isra ayat 1 menegaskan: “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami...

Baca juga:
Aboge, Saka Tunggal, dan Kidung Jawa
Islam di Peru (1): Minoritas yang Dikagumi

Dikutip dari Ensiklopedia Sirah Nabi Muhammad Saw, mengapa disebut aqsha (terjauh) karena jauhnya jarak antara Masjidil Aqsha dengan Masjidil Haram. Bagi umat Islam, Masjidil Aqsha adalah masjid yang dimuliakan untuk diziarahi. Allah SWT menyebut Masjidil Aqsha sebagai tempat yang sekelilingnya diberkahi. Berkah tersebut mencakup keberkahan dalam bidang agama dan bidang dunia.

Keberkahan di bidang agama karena merupakan tempat turunnya para nabi, sedangkan keberkahan dunia karena dikelilingi oleh kebaikan-kebaikan duniawi, yaitu terdapatnya sungai-sungai, pohon-pohon, dan buah-buahan yang semua itu menjadi sebab terpenuhinya kehidupan dan bahan makanan.

Begitu pula, Masjid Aqsha adalah masjid kedua yang dibangun di atas bumi sebagaimana hadits Abu Dzar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

“Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Masjid manakah yang pertama dibangun di muka bumi?’ Beliau menjawab, ‘Masjidil Haram.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian masjid mana?’ Beliau menjawab, ‘Masjidil Aqsha.’ Aku bertanya lagi, ‘Berapa jarak (pembangunan) antara keduanya?” Beliau menjawab, ‘Empat puluh tahun.’”

Terdapat perbedaan pendapat mengenai siapakah yang pertama membangunnya. Pendapat pertama menyatakan bahwa yang pertama adalah salah seorang putra Nabi Adam AS. Pendapat kedua menyatakan bahwa yang pertama membangunnya adalah para malaikat kemudian sebagian besar para nabi merawatnya.

Baca juga:
Yerusalem, Kota Suci yang Selalu Menderita
Di Guluk-Guluk, Para Santri Menggaung-agungkan Puisi

Disebutkan bahwa Nabi Ibrahim AS memperkokoh bangunannya. Demikian pula yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub AS dan dan yang dilakukan Nabi Dawud AS serta putranya, Nabi Sulaiman AS. ketika Umat Islam menaklukan Al-Quds pada tahun 15 Hijriah, Khalifah Umar bin Khaththab memasuki pelataran Masjidil Aqsha dan mengatakan, “Demi Allah! Inilah masjid Dawud AS, Rasulullah Saw  telah mengabarkan kepada kami bahwa di sinilah beliau di-isra-kan.” Umar ra lalu memerintahkkan agar Masjidil Aqsha dipugar.

Semenjak ditaklukkan oleh umat Islam, masjid tersebut menjadi perhatian para khalifah. Adapun yang paling terkenal melakukan pemugaran adalah Walid bin Abdil Malik yang berasal dari Dinasti Bani Umayah pada 72 Hijriah. (EBC/SA)