Melongok Penyebaran Islam di Solo dari Masjid-Masjid Bersejarah

Jejak penyebaran Islam di Surakarta atau Solo bisa dilihat dari keberadaan masjid tua yang ada. Keberadaan masjid menunjukkan kepedulian penguasa terhadap syiar Islam.

Melongok Penyebaran Islam di Solo dari Masjid-Masjid Bersejarah
Masjid Agung Keraton Surakarta (Republika/Andika Betha)

Inibaru.id – Nggak dimungkiri, keberadaan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Tanah Jawa. Wajar saja, keraton tersebut dan Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat adalah pewaris Kesultanan Mataram Islam.

Ya, Keraton Kasunanan Surakarta hingga sekarang masih memegang teguh tradisi yang terkait dengan Islam. Nggak hanya itu, sejumlah tempat bersejarah yang terkait dengan penyebaran Islam juga masih terjaga, misalnya  masjid-masjid tua.

Dikutip dari Republika.co.id (8/2/2018), di Surakarta terdapat sejumlah masjid tua yang menjadi saksi penyebaran agama Islam di kota budaya tersebut. Hingga kini, masjid-masjid tersebut masih terawat dan digunakan untuk kegiatan ibadah sehari-hari. Selain bernilai sejarah tinggi, masjid tua di Solo juga punya nilai penting dalam dakwah.

Beberapa masjid tua yang menjadi saksi sejarah jejak perjalanan dan penyebaran Islam di Surakarta tersebut, antara lain Masjid Agung Keraton, Masjid Laweyan, dan Masjid Al Wustho Mangkunegaran.

Baca juga:
Masjid Agung Keraton Surakarta dan Pusat Kegiatan Tradisi Keislaman
Sunan Bonang dan Dakwah yang Akrab dengan Tradisi

Masjid Agung Keraton Surakarta

Masjid ini dibangun pada 1763 semasa pemerintahan Sunan Pakubuwono III dan selesai pada 1768 di atas lahan seluas 19.180 meter persegi dan dikelilingi tembok setinggi tiga meter lebih.

Sebagai masjid keraton, pegawai masjid merupakan abdi dalem keraton dengan gelar tertentu, antara lain Kanjeng Raden Tumenggung Penghulu Tafsiranom (penghulu) dan Lurah Muazin. Di masjid itu, sejumlah kegiatan keraton yang terkait dengan perayaan keagamaan digelar secara rutin, antara lain Sekatenan yang digelar untuk memperingati maulud Nabi Muhammad Saw

Hingga saat ini, bangunan masjid dipertahankan seperti aslinya. Seluruh pilar atau lainnya berasal kayu jati yang dari Hutan Danalaya (Alas Donoloyo) yang usianya sudah sangat tua. Oya Millens, yang menarik, konon kubah (mustaka) masjid ini dahulu dilapisi emas murni seberat 7,5 kilogram yang terdiri atas uang ringgit emas sebanyak 192 buah. Pemasangan lapisan kubah masjid diprakarsai oleh Sri Susuhunan Pakubuwono VII pada 1878 atau 1786 Tahun Jawa dengan candra sengkala “Rasa Ngesti Muji ing Allah".

Saat ini, Masjid Agung digunakan untuk kegiatan keagamaan, seperti pengajian, salat Jumat, dan salat lima waktu.

Masjid Al Wustho Mangkunegaran

Masjid yang usianya ratusan tahun ini didirikan atas prakarsa Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara I di Kadipaten Mangkunagaran sebagai masjid Lambang Panatagama.

Masjid yang menempati lahan seluas 4.200 meter persegi ini dikelola oleh para abdi dalem Pura Mangkunegaran. Masjid ini pernah direnovasi secara besar-besaran oleh Mangkunegara VII yang meminta seorang arsitek dari Perancis untuk ikut mendesainnya.

Masjid Al Wustho terdiri atas beberapa bagian, antara lain serambi yang merupakan ruangan depan masjid, maligin yang digunakan untuk melaksanakan khitanan bagi putra kerabat Mangkunegaran, ruang salat utama, pawasteren yang merupakan bangunan tambahan untuk salat kaum perempuan. Selain itu, terdapat menara yang digunakan untuk mengumandangkan azan. Menara ini dibangun pada masa Mangkunegara VII. Pemberian nama Al Wustho dilakukan pada 1949 oleh penghulu Pura Mangkunegaran.

Masjid Laweyan

Masjid ini umurnya lebih dari 500 tahun dan dibangun pada masa Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya memerintah kerajaan Pajang pada 1546. Masjid di Dusun Pajang RT 4 RW 4, Laweyan, Solo ini nggak terlalu luas, yaitu sekitar 162 meter persegi. Tapi, Masjid Laweyan memiliki sejarah yang sangat panjang dan berkontribusi besar dalam penyebaran agama Islam di wilayah Karesidenan Surakarta.

Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga digunakan untuk tempat nikah, musyawarah, dan juga makam. Sejumlah tokoh dimakamkan di sekitar masjid antara lain, Kyai Ageng Ngenis (ayah Ki GedePamanahan atau Kakek Panembahan Senapati yangmendirikan Kesultanan Mataram Islam), Pakubuwono II, Permaisuri Pakubuwono V, Pangeran Widjil I Kadilangu, Nyai Ageng Pati, dan Nyai Ageng Pandanaran.

Baca juga:
Masjid Menara Kudus, Simbol Toleransi dari Masa Lampau
Al-Mashun, Masjid “Tiga Benua” di Medan

Masjid Laweyan memiliki tata ruang tipologi masjid Jawa pada umumnya. Ruang dibagi menjadi tiga, yaitu ruang induk (utama) dan serambi yang dibagi menjadi serambi kanan dan kiri. Serambi kanan digunakan khusus untuk kaum perempuan atau keputren dan serambil kiri merupakan perluasan untuk tempat salat jamaah.

Ciri arsitektur Jawa tercermin pada bentuk atap masjid dalam arsitektur Jawa. Atap Masjid Laweyan terdiri atas dua bagian yang bersusun. Dinding masjid terbuat dari susunan batu bata dan semen. Penggunaan batu bata ini baru digunakan sekitar 1800 yang sebelumnya dari kayu. (EBC/SA)