Melihat Kemegahan Masjid Tiban

Salah satu masjid yang terkenal di Malang adalah Masjid Tiban. Masjid yang sekaligus pondok pesantren ini megah dan menyimpan banyak kisah.

Melihat Kemegahan Masjid Tiban
Kompleks Masjid Tiban di Malang. (pramukapos.com)

Inibaru.id - Jika kamu sedang berkunjung ke Kabupaten Malang, nggak lengkap jika nggak mampir ke Masjid Tiban di Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang ini. Memiliki bangunan yang indah, Masjid Tiban minat wisatawan, baik daerah maupun luar daerah bahkan hingga luar negeri.

Di atas lahan seluas 6,5 hektare masjid berdiri megah di tengah permukiman penduduk. Dengan ketinggian 10 lantai, julukan Masjid Tiban disematkan karena pembangunannya yang cepat.

Konon, Masyarakat nggak mengetahui adanya proyek pembangunan di sana. Namun dalam semalam, tiba-tiba berdiri bangunan megah. Ada yang beranggapan masjid itu dibangun sehingga disebut juga dengan Masjid Jin. Tapi tentu saja cerita itu nggak benar ya, Millens.

Masyarakat nggak tahu pembangunan masjid di balik pagar karena semuanya dikerjakan oleh santri dan pembangunannya pun menggunakan biaya pribadi pihak pesantren.

Yup, Masjid Tiban sejatinya merupakan kompleks bangunan Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri 'Asali Fadlaailir Rahmah. Nama itu mengandung makna lautannya laut yang berasa madu dan memiliki keutamaan kasih sayang.

Mengutip dari Republika.co.id (25/6/2016), Masjid Tiban pada awalnya merupakan musala yang sering dipakai warga.  Pemilik musala, KH Rahmat Bahru Mafdoluddin Sholeh dan istrinya Hajjah Luluk Rifqoh Al Mahbubah memang berniat menjadikan musala sebagai pusat ibadah dan pembelajaran. Kini, ponpes Bi Ba'a Fardlah menampung 350 santri beserta keluarganya.

Baca juga:
Masjid Bayan Beleq, Saksi Bisu Masuknya Islam di Tanah Lombok
Masjid Wapauwe, Masjid Tertua di Maluku dengan Arsitektur Unik

Uniknya, pembangunan masjid dan ponpes tersebut tanpa ada gambar rancangan atau desain. Perencanaan pembangunan hanya berdasarkan Salat Istikharah. Nggak ada campur tangan arsitek. Mungkin karena itulah, sejak dibangun pada 1978, pembangunannya belum pernah selesai. Bahkan mungkin nggak akan pernah rampung. Selain itu, selama proses pembangunan juga nggak menggunakan alat berat, lo. Seluruh proses pembangunan mulai pembuatan batu bata, pembuatan ornamen masjid, hingga pengadukan semen dilakukan secara manual oleh para santri. Jadi nggak perlu heran jika menginjakkan kaki di kompleks Ponpes, kamu bakal disuguhi arsitektur bangunan yang nggak biasa. Ada yang dibilang bangunannya mirip campuran arsitektur Timur Tengah, Thailand, dan Jawa.

Terdiri atas 10 lantai, masing-masing lantai memiliki tema berbeda. Di Lantai 1, kamu akan menemukan beberapa pajangan akuarium yang cukup besar dan tempat penjualan suvenir. Lalu di Lantai 2-6 kamu akan disuguhi berbagai ukiran kaligrafi dan ornamen yang memanjakan mata. Selanjutnya di Lantai 7-8 kamu bisa membeli oleh-oleh khas Masjid Tiban ini. Adapun di ujung Lantai 9-10 kamu akan dimanjakan oleh pemandangan desa nan hijau dan nyaman dari ketinggian.

Nggak cuma unik, di dalam ponpes tersebut juga tersedia kolam renang, dilengkapi perahu yang hanya khusus untuk dinaiki wisatawan anak-anak. Selain itu juga terdapat berbagai jenis binatang seperti kijang, monyet, kelinci, aneka jenis ayam, dan burung.

Nah, jika kamu ingin menjelajahi Masjin Tiban atau ponpes, kamu tinggal mengikuti petunjuk arah yang disediakan, karena sudah ada rutenya. Dan berhati-hatilah agar tidak tersesat ya.

Kenapa? Memiliki total ratusan menara dan ruangan dengan ukuran berbeda-beda, tentu saja kamu bisa tersesat. Kamu bisa menyaksikan setiap ruangan yang adan, namun nggak semua ruangan bisa disaksikan pengunjung.

Lalu, kira-kira berapakah total biaya pembangunan Masjid Tiban?

Baca juga:
Sebelum Columbus, Islam Sudah Ada di Amerika
Masjid Tua di Tepian Cisadane dan Kisah Toleransi Berabad-abad

Menukil dari Jawapos.com (2/7/2017), pengasuh dan para santri nggak ada yang mengetahui berapa total dana yang dihabiskan untuk membangun Masjid Tiban. Nggak adanya penghitungan jumlah dana yang dikeluarkan karena khawatir akan mengurangi keikhlasan jika dihitung. Namun diperkirakan pembangunannya menghabiskan dana hingga Rp 800 miliar lebih. Adapun sumber dana pembangunan, berasal dari uang pribadi Kiai Ahmad Hasan dan juga sumbangan santri serta donatur. Yang jelas pihak ponpes nggak pernah meminta sumbangan meskipun kalau ada yang menyumbang dipersilakan.

Oya, jika kamu berkunjung ke sini kamu nggak akan dikenakan biaya masuk. Eits, namun kamu harus jaga menjaga sikap dan sopan santun. Berpakaianlah yang rapi dan menutup aurat terutama bagi perempuan. Kalau lagi beruntung, kamu juga bisa mendapat wejangan bermanfaat dari para warga pesantren. (ALE/SA