Masjid Tua di Tepian Cisadane dan Kisah Toleransi Berabad-abad

Masjid Kali Pasir jadi titik mula peradaban Islam di Kota Tangerang. Lebih dari empat abad berdampingan dengan Kelenteng Boen Tek Bio dan mengabarkan toleransi di antara umat beragama.

Masjid Tua di Tepian Cisadane dan Kisah Toleransi Berabad-abad
Masjid Kali Pasir (lensatangerang.com)

Inibaru.id – Sungai Cisadane adalah salah satu ikon Kota Tangerang, Provinsi Banten. Tahukah kamu, sejarah peradaban Islam di daerah yang terkenal dengan sebutan Kota Benteng itu bermula dari pesisir sungai itu?

Di pesisir Sungai Cisadane berdiri Masjid Kali Pasir. Itu masjid tua yang didirikan pada 1576 Masehi.

Dikutip dari Republika.co.id (22/12/2017), menurut mantan Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Kali Pasir, Ahmad Sjahrodji, peradaban Islam bermula dari satu petilasan tempat bertapa seorang ulama keturunan Kerajaan Padjajaran yang memiliki pengaruh kuat dalam penyebaran Islam di Jawa Barat.

"Ini adalah Patilasan. Patilasan itu adalah tempat bertapa dari seorang ulama, bernama Ki Engger Jati dari keluarga besar Kerajaan Galu Kawalih," ujar Sjahrodji. Galuh Kawalih adalah sebutan lain Kerajaan Pajajaran.

Lelaki 68 tahun ini menceritakan bagaimana Kali Pasir menjadi sentral penyebaran Islam di tanah Tangerang. Cisadane, yang dulunya adalah sarana transportasi dari arah Bogor ke bagian utara Jawa Barat memberikan sumbangsih penyebaran Islam yang berasal dari Pajajaran.

Baca juga:
Kampung Susukan dan Cikal Bakal Islam di Lebak
Keindahan Masjid dan Sejarah Penyebaran Islam di Bangladesh

Masjid Kali Pasir berawal dari tempat persinggahan para ulama terdahulu utusan Kerajaan Pajajaran untuk menyebarkan Islam di wilayah kerajaan. Masjid Kali Pasir yang berdampingan dengan kelenteng tertua di Tangerang, Boen Tek Bio, mulai berbentuk bangunan saat didirikan oleh Arya Sepuh yang hidup pada masa sama dengan Maulana Hasanudin. Dia lebih dikenal sebagai Kiai Tobari.

"Semula, ini patilasan sederhana. Setelah 1608, Pangeran Kuripan baru memperbaiki patilasan ini dengan tanah yang berwarna hitam, tiang pancang dari pohon kelapa, dan atap dari daun kelapa," ujar Sjahrodji.

Pendiri Masjid Kali Pasir adalah para pimpinan Kota Tangerang pada masa itu. Temanggung Paku Wijaya memperbesar bangunan masjid pada 1671.

Oya Millens, ketuaan Masjid Kali Pasir masih bisa dilihat. Empat tiang utama bangunan dengan bahan kayu masih terpancang rapi. Sedikit banyak, ada bekas rayap memakan kayu tua yang menyangga ruangan utama masjid. Keempat kayu berwarna hitam tersebut kini diberi kerangka besi di bagian luar bercat kuning emas. "Itu besi untuk menjaga-jaga kalau kayu keropos," tambah Sjahrodji .

Seiring waktu, Kota Tangerang terus berganti kepemimpinan. Itu tercatat dalam sejarah pembangunan Masjid Kali Pasir. Adapun menara masjidnya baru dibangun pada 1904.

Baca juga:
Wali Pitu dan Jejak Islam di Pulau Dewata
Menilik Kesucian Masjid Aqsha

Sayang sekali, masjid tertua di Kota Tangerang yang berusia 400 tahun itu tidak digunakan untuk Salat Jumat saat ini. Masjid berada di Jalan Raya Merdeka No 1 Sukajadi, Kota Tangerang hanya difungsikan sebagai tempat salat lima waktu untuk warga sekitar. Sesekali, kata Sjahrodji lagi, diadakan pengajian, biasanya untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw, dan beberapa hari besar umat islam lainnya.

Dan ini yang cukup penting, Millens, masjid dan kelenteng yang sama-sama tua itu menjadi saksi sejarah kerukunan antara kelompok etnis Tionghoa dan umat Islam. Selama berabad-abad, Kelenteng dan Masjid yang berdekatan tersebut tak pernah memiliki singgungan. Bukti kerukunan antarumat beragama yang terpelihara hingga ratusan abad. "Masjid ini pernah digunakan tempat dapur umum juga sama orang keturunan China di sini," kata Sjahrodji. (EBC/SA)