Masjid, Petilasan, dan Makam, Tiga Jejak Dakwah Islam di Pekalongan

Di Pekalongan, Jawa Tengah, kita bisa menelusuri jejak dakwah agama Islam yang tersebar luas di sana. Selain masjid, ada petilasan dan makam yang juga menjadi bukti nyata adanya penyebaran Islam.

Masjid, Petilasan, dan Makam, Tiga Jejak Dakwah Islam di Pekalongan
Masjid Aulia Sapuro Pekalongan. (Pekalonganku.com)

Inibaru.id – Penyebaran Islam di Indonesia berlangsung selama bertahun-tahun di berbagai daerah, termasuk Jawa Tengah. Nah, salah satu daerah yang memiliki nuansa islami dan santri adalah Pekalongan, Millens.

Memang nggak dimungkiri bahwa wilayah pesisir seperti Pekalongan mempunyai peluang yang besar untuk menjadi area dakwah. Konon, penyebaran Islam di Pekalongan terjadi sejak abad ke-15. Kala itu, salah seorang Walisongo yaitu Raden Rahmat atau Sunan Ampel telah mendirikan pesantren di Kembang Kuning, Surabaya. Murid-murid Sunan Ampel pun berkelana dan menyebarkan dakwah Islam.

Mengutip laman aswajamag.blogspot.com, salah seorang murid Sunan Ampel yang bernama Syekh Zilbani dipercaya memberikan pengaruh Islam ke masyarakat Pekalongan. Walaupun makamnya ditemukan di Desa Wonobodro, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, ada kemungkinan besar bahwa Syekh Zilbani juga berdakwah hingga ke Pekalongan, mengingat jarak kedua daerah tersebut berdekatan.

Baca juga:
Ziarah ke Makam Kiai Walik di Masjid Al Manshur Wonosobo
Jejak Islam di Masjid Kauman Sragen

Pada kompleks pemakaman tersebut, konon ada pula makam Maulana Maghribi dan Ki Ageng Pekalongan yang turut memperkuat keyakinan bahwa Islam telah tersebar di Pekalongan pada abad ke-15.

Nah, keberadaan masjid tertua di Pekalongan, yakni Masjid Aulia pun berkaitan dengan kelanjutan dakwah tersebut. Penyebaran Islam oleh Kiai Maksum, Kiai Sulaiman, Kiai Lukman, dan Nyai Kudung membawa mereka ke sekitar Alas Roban. Mereka hendak mendrikan masjid di sana, bahkan sudah membuat fondasi dan tempat wudu. Tetapi, muncul petunjuk yang membuat mereka tahu bahwa area tersebut tidak akan ada penghuninya. Karena itu, mereka pun mengganti lokasi masjid ke daerah Sapuro.

Masjid yang didirikan pada 1135 Hijriah atau 1722 M itu diyakini berhubungan dengan Masjid Agung Demak. Pasalnya, kayu-kayu bangunan Masjid Aulia ternyata merupakan sisa pembangunan Masjid Agung Demak yang lebih dahulu dibangun pada 1479 M oleh Walisongo.

Masjid yang berada di Kelurahan Sapuro, Kecamatan Pekalongan Barat, Pekalongan ini dianggap juga telah menjadi saksi penyebaran agama Islam di kawasan Pantura. Di sana kamu akan bisa menemukan makam ulama besar dan tokoh kerajaan, seperti Habib Ahmad Alatas dan Pangeran Adipati Aryo Notodirjo. Yang menarik, di masjid ini juga ada Al Quran raksasa berukuran tinggi 235 cm dan lebar 200 cm yang terbuat dari kanvas dan tripleks.

Baca juga:
Geliat Pondok Pesantren pada Masa Kolonial
Masjid Agung Keraton Surakarta dan Pusat Kegiatan Tradisi Keislaman

Selain masjid, di Desa Rogoselo, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan ada petilasan Arca Baron Sekeber dan Makam Ki Gede Atas Angin. Ki Gede Atas Angin dipercaya sebagai satu-satunya orang yang bisa mengalahkan Baron Sekeber, orang Eropa sakti. Makam Ki Ageng Rogoselo atau Syekh Abdullah juga ditemukan di desa tersebut.

Nah, ternyata jejak sejarah perkembangan Islam di Pekalongan luar biasa, ya, Millens. Yuk, kapan-kapan berkunjung ke sana! (AYU/SA)