Masjid Patimburak, Masjid Kuno di Tanah Papua yang Ajarkan Toleransi
Masjid Patimburak terletak di Provinsi Papua Barat. (goodnewsfromindonesia.id)

Masjid Patimburak, Masjid Kuno di Tanah Papua yang Ajarkan Toleransi

Dibangun persis di bibir pantai Kampung Patimburak, Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat, Masjid Patimburak berdiri. Masjid kuno ini menawarkan arsitektur unik sekaligus nilai filosofis yang dalam. Konon, masjid ini merupakan masjid pertama di tanah Papua.

Inibaru.id –  Kalau kamu jalan-jalan ke Papua Barat, jangan lupa mampir ke Masjid Patimburak atau masjid Al Yasin. Masjid ini dibangun pada 1870 persis di bibir pantai Kampung Patimburak, Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat. Paling nggak kamu butuh 2 jam dari Fakfak untuk mencapai masjid. Lumayan jauh ya. Tapi selama perjalanan kamu bisa merasakan hawa sejuk pegunungan. Setelah sampai, kamu bakal menemukan hamparan laut di belakang masjid. Wah, paket dobel ya?

Masjid Al Yasin didirikan seorang imam yang ditugaskan untuk menyebarkan Islam ke Papua. Imam tersebut bernama Abuhari Kilian dari kesultanan Ternate.

Arsitektur Unik dan Filosofi Dalam

Meskipun sudah direnovasi berkali-kali, arsitektur asli masjid ini masih dipertahankan, lo. Masjid Patimburak memiliki pengaruh arsitektur Belanda dan Jawa yang harmonis. Contohnya kubah masjid yang menyerupai kubah gereja di Eropa, ventilasi berbentuk lingkaran, serta aksen kayu di dinding seperti bangunan kolonial.

Empat buah tiang penyangga di dalam bangunan menjadi salah satu ciri khas arsitektur Jawa. Bangunan ini juga mencolok karena dindingnya berwarna hijau, merah, dan kuning.

Filosofi dari bentuk bangunan yang berusia lebih dari satu abad ini tentunya nggak lepas dari ajaran Islam. Dilansir dari Detik.com (8/6/2017) bangunannya yang khas berbentuk segi enam melambangkan rukun iman, sebagai pondasi dalam beragama. Sedangkan alas kubahnya yang bersegi delapan melambangkan 8 arah mata angin. Mata angin barat ditandai dengan mihrab sebagai kiblat salat.

Nggak cuma itu, Millens. Karena dibangun secara gotong royong, masjid ini menjadi wujud dari konsep filosofi "satu tungku tiga batu". Arkeolog Papua, Hari Suroto, menjelaskan kepada tajuktimur.com, "satu tungku tiga batu" mengandung arti tiga posisi penting dalam keberagaman dan kekerabatan etnis di Fakfak. Satu tungku tiga batu artinya tungku tersusun atas tiga batu berukuran sama.

Nah, tiga batu menjadi lambang tiga agama yaitu Islam, Protestan, dan Katolik. Tiga batu tersebut menjadi tungku dan diletakkan secara melingkar dan berjarak. Ketiganya harus seimbang untuk menopang kehidupan dalam keluarga yang diibaratkan sebuah periuk.

Wah, ternyata nggak main-main ya nilai filosofisnya. Semoga tetap rukun ya semua umat beragama di sana. (MG13/E05)