Masjid Menara Kudus, Simbol Toleransi dari Masa Lampau

Berbeda dari masjid kebanyakan, Masjid Menara Kudus memiliki desain bangunan yang unik. Selain menjadi tempat ibadah, masjid tersebut juga menjadi bukti toleransi kehidupan antarumat beragama pada masa lampau.

Masjid Menara Kudus, Simbol Toleransi dari Masa Lampau
Masjid Menara Kudus (antarafoto.com)

Inibaru.id – Pada masa Walisongo, Kudus menjadi salah satu daerah penyebaran Islam dengan banyak warisan tradisi Islam. Salah satu warisan sejarah itu Masjid Menara Kudus.

Masjid Menara Kudus berada di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Didirikan oleh Sunan Kudus, masjid tersebut sebelumnya diberi nama Masjid Al Aqsa. Ini tercatat dalam sebuah prasasti yang terpasang di bagian atas mihrab. Tulisan pada batu yang berperisai itu menyebut bahwa masjid itu bernama Masjid Al Aqsha di Negeri Al Quds.

Seperti dikutip dari viva.co.id (20/6/2015), berdasarkan cerita, batu tersebut berasal dari Baitulmakdis ( Al Quds ) di Yerussalem, Palestina. Dari kata “baitulmakdis” itulah muncul nama Kudus yang artinya suci, sehingga masjid tersebut dinamakan masjid Kudus dan kotanya dinamakan dengan kota Kudus.

Di bangun pada 1549 M atau 956 H, Masjid Menara Kudus terkenal karena desain bangunannya yang unik. Menara masjidnya yang berbentuk candi merupakan bentuk asimilasi budaya Hindu dan Islam. Ya, seperti kita ketahui, sebelum Islam masuk ke Jawa, agama Buddha dan Hindu telah berkembang terlebih dahulu dengan candi dan pura menjadi peninggalannya.

Oya Millens, menara Masjid Manara Kudus terbuat dari bata merah yang dipasang tanpa perekat semen. Tinggi menara sekitar 18 meter dengan bagian dasar berukuran 10 x 10 meter. Di sekeliling menara dihiasi 32 buah piring keramik bergambar. Dua puluh buah di antaranya berwarna biru serta berlukiskan masjid, manusia dengan unta, dan pohon kurma. Sementara 12 buah lainnya berwarna merah putih berlukiskan kembang. Selain itu, di dalam menara terdapat tangga yang terbuat dari kayu jati dan kemungkinan dibuat pada 1895 M.

Baca juga:
Al-Mashun, Masjid “Tiga Benua” di Medan
Dengan OneQuran, Kamu Bisa Belajar Ngaji via Daring

Memiliki bentuk menara yang unik, berbagai versi cerita juga tersebar tentang menara itu. Ada yang mengatakan bahwa Menara Kudus adalah bekas candi orang Hindu karena kemiripannya dengan Candi Kidal atau Candi Singosari. Lalu ada juga yang bilang bahwa di bawah menara ada sumber mata air kehidupan. Konon, mahluk hidup yang telah mati kalau dimasukkan dalam mata air tersebut akan hidup kembali. Namun mata air tersebut ditutup dengan bangunan menara karena khawatir akan dikultuskan.

Nggak hanya menaranya saja yang menjadi keunikan dari Masjid Menara Kudus, loh. Di dalam kompleks masjid juga terdapat pancuran wudu yang unik dengan panjang 12 meter, lebar 4 meter, dan tinggi 3 meter. Berjumlah 8 buah, di atas pancuran itu diletakkan arca. Konon jumlah delapan pancuran tersebut mengadopsi keyakinan Buddha, yakni “Delapan Jalan Kebenaran” atau Asta Sanghika Marga. Jadi bisa dibilang masjid Menara Kudus ini merupakan perpaduan antara Islam Hindu dan Buddha.

Adapun untuk bangunan utamanya, Masjid Menara Kudus ini memiliki 5 buah pintu sebelah kanan dan 5 buah pintu sebelah kiri. Jendelanya semuanya ada 4 buah. Pintu besar terdiri atas 5 buah, dan tiang besar di dalam masjid yang berasal dari kayu jati ada 8 buah. Namun masjid ini lebih besar dari aslinya karena pada 1918 telah direnovasi.

Di dalam masjid juga terdapat kolam. Berbentuk “padasan”, kolam tersebut merupakan peninggalan zaman purba dan dijadikan sebagai tempat wudu. Selain itu juga terdapat dua buah bendera yang terletak di kanan dan kiri tempat khatib membaca khutbah. Di serambi depan masjid terdapat sebuah pintu gapura, yang biasa disebut oleh penduduk sebagai “Lawang kembar”. Kabarnya gapura tersebut berasal dari bekas Kerajaan Majapahit dan gapura tersebut dulu dipakai sebagai pintu spion.

Berkunjung ke masjid Menara Kudus, sekilas masjidnya terlihat kecil. Tapi jangan salah, karena di dalamnya luas sekali. Selain itu di belakang masjid terdapat kompleks makam: makam Sunan Kudus dan para ahli warisnya, tokoh lain seperti Panembahan Palembang, Pangeran Pedamaran, Panembahan Condro, dan lain-lain.

Kompleks makam tersebut terbagi-bagi dalam beberapa blok dan tiap blok merupakan bagian tersendiri dari hubungannya terhadap Sunan Kudus. Uniknya, semua pintu penghubung antarblok berbentuk gapura candi. Tembok-tembok yang mengitarinya juga dari bata merah yang disusun berjenjang, ada yang menjorok ke dalam dan ke luar seperti layaknya bangunan candi. Panorama yang tampak adalah kompleks pemakaman Islam namun bercorak Hindu.

Baca juga:
Ada Kurikulum Islam untuk Siswa Muslim di Amsterdam
“Kehebatan” Masijd Bibi Heybat di Azerbaijan

Dengan keunikan dan berbagai cerita yang dimilikinya, wajar saja banyak wisatawan yang tertarik untuk berkunjung. Hanya berjarak 5 menit dari Alun-alun Kudus, Masjid Menara Kudus selalu ramai setiap hari. Puncak keramaiannya biasanya saat haul Sunan Kudus pada tanggal 10 Muharram.

Menjadi salah satu cagar budaya, Masjid Menara Kudus nggak hanya sebagai tempat ibadah saja. Namun masjid itu juga menjadi salah satu simbol toleransi keberaragaman etnis dan agama masyarakat Kudus. (ALE/SA)