Masjid Darussalam, Tempat Pertemuan Sinuhun (PB VI) dengan Pangeran Diponegoro

Masjid Darussalam, Tempat Pertemuan Sinuhun (PB VI) dengan Pangeran Diponegoro
Gerbang masuk Masjid Darussalam di kawasan Kedunggudel, Sukoharjo. (Solopos/Trianto Hery Suryono)

Masjid Darussalam dipercaya telah berdiri sekitar tahun 1880-an. Menurut kabar yang beredar, masjid ini menjadi tempat bertemu Sinuhun (PB VI) dengan Pangeran Diponegoro.

Inibaru.id – Masjid Kedunggudel terletak di Dukuh Kedunggudel, Kenep, Sukoharjo, Jawa Tengah. Tepatnya di tengah perkampungan, Masjid Darussalam itu berdiri. Dilansir dari kelurahankenep.blogspot.com, masjid ini merupakan peninggalan Wali Songo.

Keberadaan masjid yang dekat dengan pasar rakyat Kedunggudel ini turut menopang perekonomian masyarakat sekitar. Di kawasan itu banyak pengusaha batik, jenang, perusahaan jamu, serta kosmetik.

Penampakan Masjid Darussalam di Kedunggudel Sukoharjo

Penampakan Masjid Darussalam, Sukoharjo. (www.pintaram.com).

Kata Sehono, tokoh setempat, berdasarkan yang ditulis Solopos.com, Minggu, (29/4/2018), “Keberadaan masjid sudah ada sejak penjajahan Belanda. Di masa perang Pangeran Diponegoro, masjid ini menjadi tempat persembunyian sehingga Belanda nggak mampu menghancurkannya.”

Sehono menambahkan, saat Perang Diponegoro tahun 1825-1830, Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Paku Buwono (PB) VI, pernah bertapa di Kedunggudel. Berdasarkan kisah yang dia ingat, saat itu berlangsung pertemuan Sinuhun (PB VI) dengan Pangeran Diponegoro.

Pertemuan itu dilakukan di masjid untuk menyusun rencana melawan penjajah. Sayangnya, pihak tentara Belanda mengetahui adanya pertemuan itu, dan ingin menyerang masjid dengan meriam. Hal di luar nalar terjadi. Belanda gagal menghancurkan masjid dengan meriam.

http://4.bp.blogspot.com/-wnMjHw1K8TA/VVaUg9WlnRI/AAAAAAAAAWQ/0IDlCmJ18b8/s1600/IMG00545-20141109-1527.jpg

Interior Masjid Kedunggudel. (kelurahankenep.blogspot.com)

Dari segi arsitektur, masjid ini bisa dibilang masjid ini nggak banyak mendapat sentuhan modern. Masjid ini dikelilingi tembok dengan dua daun pintu sebagai jalan masuk menuju masjid.

Uniknya, kamu bisa menemukan 16 tiang di dalam masjid seperti pada Masjid Demak. Tiang-tiang masjid tersebut terbuat dari kayu jati bulat utuh dengan ketinggian enam meter sampai delapan meter. Di mimbar ada lambang bunga wijayakusuma. Harapannya, seseorang yang menjadi imam dapat menghidupkan dan memakmurkan masjid. 

Meskipun jauh dari kesan mewah dan modern, tapi kamu bakal merasakan hawa sejuk selama berada di masjid. (MG10/E05)