Masjid Agung Keraton Surakarta dan Pusat Kegiatan Tradisi Keislaman

Menjadi pusat pelaksanaan dalam penyebaran islam di Solo, Masjid Agung Keraton Surakarta direnovasi tiap berganti pemerintahan. Kini, bangunan bersejarah itu menjadi masjid paling besar di Solo.

Masjid Agung Keraton Surakarta dan Pusat Kegiatan Tradisi Keislaman
Masjid Agung Surakarta, dengan menara ala Qutub Minar di India. (jayakartanews.com/Resti Handini)

Inibaru.id –  Sebagai salah satu daerah yang penyebaran Islam di Tanah Jawa, Solo mewarisi banyak tradisi islam. Salah satunya Masjid Agung Keraton Surakarta.

Masjid ini berada di Jalan Alun-alun Utara, Kedung Lumbu, Pasar Kliwon, Kauman, Kota Surakarta, Jawa Tengah, tepatnya di sebelah barat Alun-alun Utara Keraton Kesunanan Surakarta dan bersebelahan dengan Pasar Klewer Surakarta.

Dibangun oleh Pakubuwono III sekitar 1749, masjid ini nggak hanya berfungsi sebagai masjid jami’, tetapi juga berfungsi untuk mendukung segala keperluan kasunanan yang terkait dengan keagamaan seperti acara Garebeg dan Sekaten. Jika Raja Surakarta sebagai panatagama atau pengatur urusan agama, masjid ini berperan sebagai pusat pelaksanaannya.

Masjid yang mempunyai nama asli Masjid Ageng Karaton Surakarta Hadiningrat ini mendapat pengaruh gaya arsitektur Jawa dan Belanda lo, Millens. Penggunaan bahan kayu mendominasi beberapa bagian masjid. Secara keseluruhan, bangunan berbentuk tajug dengan atap tumpang tiga dan berpuncak kubah. Makna tajug bertumpang tiga tersebut adalah pokok-pokok tuntunan Islam, yakni iman, Islam, dan ihsan.

Baca juga:
Melongok Penyebaran Islam di Solo dari Masjid-Masjid Bersejarah
Sunan Bonang dan Dakwah yang Akrab dengan Tradisi

Tahu nggak Millens, kubah Masjid Agung Keraton Surakarta dibangun semasa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono IV (1788- 1820), sekaligus peresmian nama aslinya.

Awalnya kubah dibuat dari lapisan emas murni seberat 7,68 kg seharga 192 ringgit lo. Tetapi pada 1843 Saka atau 1921 M, lapisan emas itu diganti dengan bahan metal yang kuat. Berbeda dengan masjid pada umumnya yang berhiaskan bulan sabit atau bintang, kubah masjid ini berbentuk paku yang menancap ke bumi. Itulah simbol dari Pakubuwono yang berarti “penguasa bumi”.

Ciri khas dari masjid terbesar di Kota Solo ini adalah adanya ukiran bermotif bunga bersepuh warna keemasan menghiasi mimbar, mihrab, dan pagar tembok masjid. Daun pintu, jendela, kosen, dan reng, semuanya terbuat dari kayu jati pilihan.

Masjid Agung ini beberapa kali direnovasi, Sobat Millens. Renovasi juga dilakukan oleh Pakubuwono X. Dia membangun sebuah menara di sekitar masjid serta sebuah jam matahari untuk menentukan waktu salat. Pintu masuk masjid pun mengalami perubahan. Pintu bercorak gapuran bangunan Jawa beratap limasan diganti menjadi bercorak Timur Tengah yang terdiri atas tiga pintu. Pintu yang berada di tengah lebih luas dari kedua pintu yang mengapitnya.

Renovasi selanjutnya dilakukan Pakubuwono XIII. Dia membangun kolam yang mengitari bangunan utama masjid. Pembangunan kolam ini dimaksudkan agar setiap orang yang akan masuk ke dalam masjid dalam keadaan bersih. Tapi, karena berbagai alasan, kolam ini tidak lagi difungsikan. Selain itu, Pakubuwono XIII juga membangun ruang keputren dan serambi di bagian depan.

Baca juga:
Al-Mashun, Masjid “Tiga Benua” di Medan
Masjid Menara Kudus, Simbol Toleransi dari Masa Lampau

Renovasi terakhir dilakukan oleh Pemerintah Surakarta. Masih di area masjid, ditambahkan beberapa bangunan dengan fungsi berbeda. Ada perpustakaan, kantor pengelola, dan poliklinik.

Jadi tambah bermanfaat ya, Millens. Asalkan nggak mengubah ciri khas peninggalan kerajaan sih nggak apa-apa ya.

Seperti ditulis laman indonesiakaya.com, sampai saat ini, Masjid Agung Surakarta masih menjadi pusat tradisi Islam di Keraton Surakarta. Masjid ini masih menjadi tempat penyelenggaraan berbagai ritual yang terkait dengan agama seperti Sekaten dan Maulud Nabi, yang salah satu rangkaian acaranya adalah pembagian 1.000 serabi dari raja kepada masyarakat. Kalau Sobat Millens mau, datang aja ya ke Masjid Agung Keraton sewaktu Maulud Nabi. (SR/SA)