Manuskrip Alquran Tertua di Asia Tenggara Tersimpan di Pulau Alor

Manuskrip Alquran yang diduga berusia satu milenium di Pulau Alor jadi tengara penyebaran Islam di pulau tersebut.

Manuskrip Alquran Tertua di Asia Tenggara Tersimpan di Pulau Alor
Alquran Tertua di Asia Tenggara (GNFI/Akhyari Hananto)

Inibaru.id – Belakangan kerap muncul persoalan intoleransi di antara umat beragam. Padahal, kisah kurukunan beragama sudah berlangsung sudah beradab-abad.

Ditulis Akhyari Hananto dalam GNFI (24/10/2017),  Pulau Alor di Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu wajah nyata kerukunan umat beragama di Indonesia. Pulau itu dihuni oleh mayoritas pemeluk agama Protestan dan Katolik. Meski begitu, terdapat kampus STKIP Muhammadiyah di Kalabahi, ibukota Kabupaten Alor yang menjadi salah satu dari sedikit perguruan tinggi di Kabupaten Alor. Kampus ini tentu saja menjadi tempat belajar bagi mahasiswa lintas agama, dan sebagian besar adalah mahasiswa nonmuslim.

Baca juga: Benarkah Lafal “Allah” di Kain Viking Itu?

Tak hanya kampus perguruan tinggi Islam itu, di Pulau Alor juga terdapat manuskrip Alquran tertua di Asia Tenggara (beberapa bahkan menyebutkannya tertua di Asia) yang diperkirakan berusia hampir 1.000 tahun.  Terbuat dari bahan kulit kayu tipis dan tinta serta pewarna alami, Alquran ini masih 98% utuh kelengkapan ayat dan suratnya. Tahun 1982, sempat terjadi kebakaran di perkampungan Muslim ini termasuk rumah tempat disimpannya Alquran tua tersebut. Manuskrip Alquran itu selamat dan tidak rusak padahal disimpan dalam kotak kayu yang mudah terbakar. 

Menurut sejarah, Alquran kuno ini dibawa ke Pulau Alor pada 1523 M oleh Iang Gogo dari Kesultanan Ternate (pada masa Sultan Baabullah) yang terletak 1000-an km di utara, yang merantau bersama keempat saudaranya dengan misi penyebaran Agama Islam hingga ke Alor.  Pada saat dibawa ke Alor, Alquran tersebut dikatakan sudah berumur tua.

Kini Alquran tersebut disimpan di rumah Nurdin Gogo di Desa Lera Baing, Alor. Nurdin Gogo dalah keturunan ke-14 Iang Gogo. Rumah Nurdin terletak di sebelah masjid yang dibangun kali pertama di Pulau Alor, yakni Masjid Baabussholah yang tak jauh dari pesisir pantai. Masjid ini dibangun sekitar tahun 1633 Masehi dan telah beberapa kali mengalami renovasi, sehingga tak terlihat lagi sebagai masjid tua yang bersejarah.

Baca juga: Mengenal Islam Tua di Lenganeng

Alquran tertua dan masjid Baabusholah adalah saksi sejarah masuknya agama Islam di Pulau Alor melalui perdagangan, dan pengaruhnya menyebabkan mayoritas penduduk di pesisir pulau tersebut beragama Islam. Sementara agama Protestan dan Katolik mulai masuk ke pulau ini pada awal 1900-an dan penyebarannya lebih banyak di kawasan pedalaman.

Karena itu, populasi penduduk yang beragama Kristen lebih banyak di daerah pedalaman, meskipun antara penduduk pesisir dan pedalaman masih terikat oleh hubungan darah dan adat. Namun sekali lagi, tak pernah ada gesekan antarumat beragama di sana,. Itulah keindahan suatu pergaulan. (EBC/SA)