Kisah tentang Suku Maya yang Muslim

Kali pertama sebagian orang Suku Tzotzil Maya memeluk Islam, banyak yang memprasangkai mereka sebagai teroris

Kisah tentang Suku Maya yang Muslim
Solidaritas muslim Chiapas untuk Palestina. (Chiapas Pararelo/x.detik.com)

Inibaru.id – Mayoritas penduduk Meksiko beragama Katholik Roma. Tapi tahukah bahwa di wilayah Amerika Tengah itu ada komunitas warga yang beragama Islam?

Dilansir Tempo.co (30/10/2017), di negara bagian Chiapas, Meksiko, terdapat komunitas muslim dari suku asli Tzotzil Maya.  Chiapas adalah wilayah di bagian selatan Meksiko yang beribukta Tuxtla Gutierrez.

Tentu saja, keberadaan mereka menarik perhatian mengingat mayoritas warga Meksiko beragama Katholik Roma. Orang Islam di negeri itu hanya berjumlah kurang dari 1 persen dari populasi keseluruhan penduduk Meksiko sekitar 120 juta.

Baca juga: Haruskah Perempuan Bercadar?

Komunitas muslim dari Suku Tzotzil ini terdiri atas pria dan wanita. Mereka hidup di kawasan pegunungan yang subur.  Di tempat tersebut amat kental kesan mengenai percampuran identitas antara Suku Maya dan Spanyol.

Orang Islam Suku Tzotzil itu bisa dilihat dari ciri penampilan mereka sehari-hari. Yang pria mengenakan kupluk khas, mirip peci. Sementara kaum perempuan mengenakan hijab dari syal tradisional suku Maya.

Orang-orang setempat menceritakan, Islam masuk ke wilayah itu pada akhir 1980-an. Sebagai catatan, era itu sama dengan kebangkitan gerakan Zapatista yang menarik perhatian di Chiapas itu.

 “Orang-orang memandang aneh kami saat dulu pindah agama. Mereka berpikir kami teroris dan itu membuat kami takut,” kata Mustafa, salah seorang dari mereka.

Ya, seperti dikutip dari Detik.com (20/6/2016) tak lama setelah konflik Zapatista sering terjadi, ulama dari kelompok Murabitun Spanyol datang ke Chiapas dan memperkenalkan Islam. Salah seorang ulama yang datang adalah Muhammad Nafia, yang dulunya bernama Aureliano Perez.

Sejak saat itu, orang Tzotzil semakin mengenaui tentang Islam dan banyak dari mereka yang memutuskan jadi mualaf. Bertahun-tahun berlalu, semakin banyak yang masuk Islam. Para wanita mulai mengenakan jilbab dan pria-pria menumbuhkan jenggot.

Presiden Meksiko Vicente Fox yang saat itu berkuasa sempat khawatir apakah perpindahan sebagian warganya ke Islam ini ada hubungannya dengan terorisme. Namun orang Tzotzil menegaskan mereka tidak tertarik dengan hal-hal semacam itu. Sudah cukup rasanya konflik politik mengoyak mereka. Kini mereka ingin hidup damai dalam naungan Islam.

Baca juga: 4 Masjid Tertua di Indonesia Itu Masih Berdiri

Orang Tzotzil yang masuk Islam pun sedikit demi sedikit bertambah hingga lebih dari 300 orang. Di Kota San Cristobal, Chiapas, Murabitun membangun sekolah Alquran, sebagai tempat belajar mengaji dan salat lima waktu. Kedai pizza yang tidak memakai babi pun di buka di kota ini.

Orang Tzotzil juga bahu membahu membangun masjid. Beberapa masjid yang sudah dibangun di San Cristobal antara lain Masjid Al Kautsar serta Masjid Al Medina. (EBC/SA)