Keindahan Masjid dan Sejarah Penyebaran Islam di Bangladesh

Masjid-masijd indah dan unik itu menyimpan sejarah Islam yang panjang di Bangladesh. Direkomendasikan sebagai tempat tuju kamu yang suka wisata religi.

Keindahan Masjid dan Sejarah Penyebaran Islam di Bangladesh
Masjid Shait-Gumbad, Bagerhat (Wikipedia)

Inibaru.id -  Bangladesh ikut disebut-sebut dalam pemberitaan seputar konflik di Rohingya, Myanmar. Bukan terlibat konflik, negara itu justru memberi tempat sementara bagi para pengungsi Rohingya. Satu hal yang patut dicatat dulu, Bangladesh adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam.

Republika.co.id (17/9/2017) menulis, Islam menyebar di Bangladesh dibawa oleh seorang muslim Irak, Syed Shah Nasiruddin. Kemudian orang Islam Arab tiba dan berdagang di daerah pesisir melalui Pelabuhan Chittagong.

Salah satu bukti pedagang Arab menyebarkan Islam di wilayah ini adalah tulisan ahli geografi Arab yang ditemukan di Sungai Meghna dekat Sandwip di Teluk Benggala. Bukti ini menunjukkan pedagang Arab tiba di sepanjang Pantai Bengal sebelum penaklukan Turki.

Penulis Arab juga menyebut, saat Islam menyebar, Kerajaan Smrup dan Ruhmi serta kekaisaran Dharmapal dan Pala berkuasa di sana. Kerajaan terakhir, yakni Kerajaan Pala, dikenal sebagai penganut Buddhisme pada abad ke-8 hingga ke-12.

Setelah dinasti Pala mengalami kemunduran, Dinasti Sena mula berkuasa pada abad ke-13. Pada saat itulah penduduk Bengal berbondong-bondong masuk Islam. Bukti penyebaran Islam di sana adalah berdirinya sejumlah masjid. Tiga masjid di antaranya termasuk masjid tua dan unik.

Masjid Bintang

Masjid yang sangat indah ini ada di Mahuttuly, sebelah barat Armanitola. Desainnya bergaya Mughal. Dengan lima kubah dan hiasan ratusan bintang berkelap-kelip besar dan kecil, masjid ini memikat perhatian masyarakat sekitar. Bintang-bintang itu dibuat dengan mengatur potongan barang pecah belah di semen putih. Bila kamu melihat dari bagian façade-nya atau bagian depan, kamu akan melihat kesan seolah-olah bersinar di atas permukaan bumi. Menarik, kan?

Baca juga:
Geliat Dakwah Ponpes Assalam di Pedalaman Kutai Barat
Menilik Kesucian Masjid Aqsha

Lantai mosaik dihiasi banyak motif bunga. Masjid ini awalnya dibangun dengan tiga kubah pada awal abad ke-18 oleh Mirza Ghulam Pir, seorang Zamindar yang sangat dihormati dari Dhaka, kota yang kini jadi ibu kota Bangladesh. Masjid itu menjadi kebanggaan umat Islam di sekitarnya. Masyarakat memanfaatkan masjid itu untuk beribadah.

Masjid Baitul Mukarram

Tempat beribadah satu ini berada di Purana Paltan sebelah timur Sekretariat Bangladesh dan utara Stadion Dhaka. Masjid terbesar di kota tersebut bertingkat tiga dan dibangun seperti Kakbah. Masjid ini terlihat indah dan mewah karena dekorasinya berupa tatanan padang rumput, taman, dan deretan air mancur di selatan dan timur.

Masjid ini berada pada dataran yang sangat tinggi. Tangga yang menuju ke masjid terlihat seperti melayang, berada di selatan, timur, dan utara. Di sebelah timur ada beranda yang luas yang juga digunakan untuk shalat berjamaah. Di bawah lantai dasar ada pusat perbelanjaan.

Masjid Shait-Gumbad, Bagerhat

Pada pertengahan abad ke-15, sebuah kelompok tentara muslim bermukim di hutan mangrove Sundarbans, dekat pantai laut di Distrik Bagerhat. Mereka dipimpin oleh Jenderal Ulugh Khan Jahan. Dia adalah pendakwah Islam di selatan yang membawa kejayaan wilayah ini pada masa pemerintahan Sultan Nasiruddin Mahmud Shah (1442-1459).

Khan Jahan memenuhi kotanya dengan banyak masjid, jalan, dan bangunan umum lainnya. Masjid dengan banyak kubah yang paling mengesankan dan terbesar di Bangladesh dikenal dengan nama Shait-Gumbad. Masjid ini seperti kain yang berbentuk monumen megah, tenang, dan mengesankan, berdiri di tepi timur.

Masjid itu beratap dengan 77 kubah persegi, termasuk tujuh chauchala atau kubah Bengali bertingkat empat di barisan tengah. Ruang shalat yang luas dilengkapi dengan 11 pintu lengkung di timur dan masing-masing tujuh di utara dan selatan untuk ventilasi dan cahaya.

Baca juga:
Islam di Peru (2): Kepedulian Besar terhadap Anak Yatim dan Telantar
“Pesantren Federasi” yang Teguh dalam Salaf

Ini terbagi menjadi tujuh lorong longitudinal dan 11 lengkungan dengan tiang dari batu yang ramping memperlihatkan deretan deretan lengkungan tanpa ujung, yang mendukung kubah. Dindingnya sedikit meruncing dan menara sudut yang berombak dan bundar, hampir terlepas, menyerupai benteng-benteng, masing-masing ditutupi oleh kubah bundar kecil, mengingatkan arsitektur Tughlaq di Delh.

Nah Sobat Millens, kalau sempat berkunjung ke Bangladesh, sempatkan mengunjungi masijd-masijd itu, ya….(EBC/SA)