Jejak Islam di Portugal: Bermula dari Kekhalifahan Andalusia

Pengaruh Arab dan Islam dalam kebudayaan Portugal hingga sekarang masih terasa. Dari musik, kuliner, hingga dekorasi bangunan.

Jejak Islam di Portugal: Bermula dari Kekhalifahan Andalusia
Permainan musik khas Portugal, fado, yang terpengaruh musik Arab. (portugal.com)

Inibaru.id- Tak termungkiri, Arab telah menjadi bagian dari sejarah Portugal. Ratusan tahun kekhalifahan Andalusia memberikan kontribusi terhadap bahasa, arsitektur, kuliner, musik, dan pertanian.

Seperti yang dilansir Saudi Aramco World via Republika.co.id (7/9/2017), Habeeb Salloum, menulis “Arabian Memories in Portugal” yang mengulas berbagai pengaruh Arab di tengah kebudayaan Portugal.

Disebutkan bahwa George Sawa, peraih gelar doktor di bidang sejarah musikologi Arab dari University of Toronto, mengungkapkan kaitan fado orang Portugal dengan musik Arab. Petikan senar pada mandolin dan gitar, katanya, mirip dengan gaya pemusik Arab memetik 'Ud, nenek moyang kecapi (lute). Demikian pula, New Grove Dictionary of Music and Musicians menempatkan akar fado dalam tradisi musik Arab.

Baca juga: Jejak Islam di Portugal: Kisah Keharmonisan di Antara Pemeluk Agama

Pengenalan teknologi pertanian dan kerja keras orang Moor membuat tempat ini makmur. Sampai hari ini, orang Portugal mengenal frasa mourejar yang berarti “bekerja seperti orang Moor”.

Frasa itu biasa digunakan untuk menunjukkan ketekunan dan keuletan yang luar biasa. Orang-orang Arab memperkenalkan kebun dan ladang, menanaminya dengan almond, aprikot, buah ara, lemon, zaitun, jeruk, delima, gula, dan berbagai jenis sayuran.

Kincir air membantu merevolusi pertanian di Portugal. Pertanian berkembang dengan sistem irigasi, dilengkapi kincir angin, kincir air (kata Portugis “azenha” berasal dari kata Arab “al-saniyah”), dan roda air (“nora” dari “na'urah”).

Ahli geografi Maroko abad ke-12, Al-Idrisi, pernah mendeskripsikan sebuah kota di bagian selatan Portugal, Algarve, sebagai kota cantik yang dikelilingi oleh kebun dan taman-taman beririgasi. Inovasi di bidang pertanian ini mungkin salah satu sumbangan terbesar orang Arab kepada Portugal.

Warna, aroma, dan cita rasa kuliner Portugis juga meninggalkan jejak orang-orang Arab. Banyak nama Portugis untuk ikan, seperti atum (tuna, dari kata Arab “al-tun”) atau savel (dari “shabal”)

 Selain itu, banyak pula kue yang terbuat dari almond, telur, yoghurt, dan madu.

Sosiolog Brazil, Gilberto Freyre, mencatat dalam karya klasiknya The Masters and The Slaves (1933) bahwa buku resep Portugis kuno penuh dengan resep-resep Arab yang dengan mudah disebut domba Moor, sosis Moor, ikan Moor, kaldu Moor, dan seterusnya.

Baca juga: Jejak Islam di Portugal: Perjuangan Menepis Islamofobia

Dalam hal dekorasi, sebuah tradisi dekoratif Arab yang telah bertahan menjadi identitas Portugis modern adalah ubin hias azulejos (al-zulayi, "batu dipoles"). Dinding-dinding rumah, gereja, tempat publik, hingga stasiun kereta api menampilkan ubin berwarna-warni ini dalam pola geometris yang indah.

Loule, peninggalan benteng abad ke-12 yang masih tersisa, adalah sebuah kota dengan rumah-rumah yang dihiasi teras dan cerobong asap warna-warni. Kota ini merupakan salah satu sudut terindah dari Algarve.

Demikian pula, Olhao dan Tavira yang menyimpan jalan-jalan sempit dan bangunan khas Moor. Puncaknya, Silves atau Shalb, mantan ibu kota Algarve. Kota ini pernah bersaing dengan Cordoba dalam hal intelektualitas. Mistikus Ibn Qasi, raja penyair dari Sevilla, al Mu'tamid, dan penyair Ibn Ammar lahir di kota ini. (EBC/SA)