Islam Pesat di Negeri Ratu Elizabeth

Pemeluk Islam di negeri Inggris terus meningkat. Tragedi WTC 11 September 2001 membangkitkan ketertarikan orang Inggris untuk mempelajari Islam, dan mulai banyak yang jadi mualaf.

Islam Pesat di Negeri Ratu Elizabeth
Pangeran Charles berbincang-bincang dengan muslimah di Inggris. (worldbulletin.net)

Inibaru.id – Meskipun sering tersiar berita soal islamofobia di Eropa, nggak termungkiri sekarang ini jumlah umat Islam di Inggris mencapai tiga juta jiwa (sekitar 2,6-3,2 persen) dari total penduduk Inggris yang mencapai 50 juta jiwa. Jumlah ini merupakan terbesar kedua setelah pemeluk Kristen. Jumlah ini kemungkinan akan kembali bertambah menyusul banyaknya orang Inggris yang belajar Islam.

Menurut Times seperti dikutip republika.co.id (8/12/2017), setelah peristiwa 11 September (9/11), Islam banyak mendapatkan perhatian dari kalangan warga kulit putih Inggris yang berekonomi kuat. Umat Islam jadi tertuduh. Namun, ini justru menyebabkan anak-anak muda dan para peneliti termotivasi untuk meneliti Islam.

Sejak kapan Islam masuk ke negeri Ratu Elizabeth itu? Banyak pendapat mengatakan, Islam ke Inggris pada akhir abad 18 M dan awal abad 19 M. Mereka dibawa oleh imigran dari Asia Selatan seperti Pakistan, Bangladesh, dan India. Para imigran muslim ini merupakan komunitas masyarakat terbesar di Inggris. Jumlahnya bahkan mencapai terbesar ketiga di Eropa setelah Prancis dan Jerman.

Para imigran ini adalah para kelasi yang direkrut oleh East India Company (Perusahaan India Timur). Seusai pembukaan Terusan Suez pada 1869 seiring makin meluasnya ekspansi kolonial Inggris, arus imigran meningkat ke negara tersebut. Mereka kemudian membentuk komunitas kecil dan permukiman di kota pelabuhan seperti Cardiff, South Shields (dekat Newcastle), Liverpool, dan juga di ibu kota, London. Secara perlahan, mereka mengajar Islam kepada penduduk setempat.

Baca juga:
Masjid Bayan Beleq, Saksi Bisu Masuknya Islam di Tanah Lombok
Sebelum Columbus, Islam Sudah Ada di Amerika

Sementara itu, komunitas muslim asal Afrika Barat muncul di Liverpool dan tumbuh pesat sejak abad 19. Kegiatan komunitas muslim ini menarik perhatian warga Inggris. Misalnya, sewaktu seorang muslim keturunan bangsawan bernama Abdullah (Henry William) tahun 1901 memelopori pembangunan masjid. Bahkan, sebelumnya masjid di Woking-London berdiri berkat upaya sebuah kelompok elite Muslim di sana. Masjid tersebut selalu penuh dengan kegiatan agama dan menjadi pusat dakwah para penerjemah Alquran terkenal seperti Marmaduke Pickthall dan Abdullah Yusuf Ali. Masjid tersebut juga kondang lantaran hubungan eratnya dengan gerakan Ahmadiyah cabang Lahore.

Sebuah rencana besar bagi pembangunan sebuah masjid pusat di London, mendapat dukungan penuh Raja George IV tahun 1944. Ini merupakan respons atas pembangunan masjid agung di Paris, Prancis, tahun 1930-an. Nggak hanya itu, raja juga menghibahkan sebidang tanah yang terletak di Taman Regent, pusat Kota London, sebagai balas jasa pada pemerintah Mesir yang telah menyediakan lahan untuk pembangunan Katedral Anglikan di Kairo.

Berbagai peristiwa seperti pecahnya Perang Dunia II dan masalah di semenanjung India, mengakibatkan tertundanya pembangunan masjid tersebut sampai tahun 1970-an. Pembangunan baru dapat terlaksana sekitar enam tahun kemudian dan diresmikan pada 1977. Masjid baru ini diberi nama Masjid Pusat London lengkap dengan fasilitas Islamic Cultural Center-nya.

Sobat Millens, sampai saat ini di daratan Inggris terdapat sebanyak 136 buah masjid. Tiap tahun jumlah ini terus mengalami peningkatan.

Baca juga:
Muslim Uruguay, Minoritas Tanpa Tekanan
Masjid Wapauwe, Masjid Tertua di Maluku dengan Arsitektur Unik

Dapat dipahami, meningkatnya jumlah tempat peribadatan tersebut mencerminkan pula makin bertambahnya angka muslim di Inggris. Apalagi, setelah ada kebijakan penyatuan kembali keluarga imigran yang berlaku sejak tahun 1960-an.

Konsentrasi terbesar permukiman komunitas muslim umumnya berada di kota-kota besar. Hampir separuh kaum muslim Inggris tinggal di Kota London dan sekitarnya. Adapun sisanya memilih menetap di West Midlands, Yorkshire, serta wilayah sekitar Kota Manchester. (EBC/SA)