Islam di Peru (1): Minoritas yang Dikagumi

Orang Islam di Peru memperlihatkan bahwa penyiksaan nggak bikin mereka meninggalkan keyakinan. Kini, seusai Tragedi WTC 11 September 2001, Islam berkembang bagus di negara tersebut.

Islam di Peru (1): Minoritas yang Dikagumi
Muslim Peru saat melaksanakan saat berjamaah. (ihh.org via republik.co.id)

Inibaru.id – Mayoritas penduduk Peru di Amerika Latin beragama Katolik. Bagaimana dengan pemeluk Islam di sana? Seberapa besar populasinya? Bagaimana sebagai minoritas orang Islam menjalankan aktivitasnya?

Republika.co.id (5/12/2017) menulis, secara historis, Islam kali pertama dikenalkan di Peru oleh bangsa Moor atau Moros dari Spanyol. Mereka melarikan diri dari Spanyol ke Peru lantaran mendapat penyiksaan.

Tercatat dalam sejarah, ada seorang wakil penguasa Spanyol di Peru yang aslinya bangsa Moor dari Guadalajara. Namanya Alvaro Gonzalez.

Pada 1560, Alvaro dijebloskan ke penjara di Kota Cuzco dengan leher terbelenggu karena telah mempraktikkan dan menyebarkan agama Islam. Rekannya yang merupakan keturunan Spanyol dan Negro, Luis Solano, mengalami nasib serupa dengan dakwaan yang sama.

Nggak ayal lagi, pemeluk Islam sempat “hilang” lantaran banyaknya penyiksaan terhadap muslimin. Umat Islam sempat dicekam ketakutan hingga enggan menyebut diri sebagai muslim.

Nah, sementara Islam tenggelam, misionaris Peru McNaim giat menyebarkan paham gereja.

Sobat Millens, keadaan berubah ketika pada 1940-an terjadi eksodus muslim Palestina dan Lebanon. Mereka masuk ke Peru dan Islam pun dikenal kembali di negara itu untuk kali kedua.

Nggak hanya berjasa mengenalkan kembali Islam, para pengungsi dari Palestina dan Lebanon juga berperan penting dalam membangun perekonomian Peru. Pada 1993, kaum muslimin membentuk komunitas dan membangun masjid. Sayang banget, masjid itu nggak bertahan lama karena kesulitan dana untuk perawatan dan pengelolaannya.

Kaum imigran dari Palestina dan Lebanon itu lalu menjalin hubungan ukhuwah Islamiyah dengan kelompok etnis Moor yang merupa kan pemeluk Islam awal di Peru. Mereka saling memengaruhi adat -istiadat hingga terbentuklah budaya perpaduan keduanya: budaya Islam. Maka, nggak heran bila sekarang Lima, ibukota Peru, memiliki aura keislaman yang kuat.

Geliat persebaran Islam itu nggak hanya berlangsung di kota-kota besar, tapi juga ke daerah perdesaan hingga ke pelosok negeri Peru.

Baca juga:
Islam di Peru (2): Kepedulian Besar terhadap Anak Yatim dan Telantar
Yerusalem, Kota Suci yang Selalu Menderita

Yap, kendati minoritas, umat Islam mampu memberikan pengaruh luas di dalam masyarakat. Kiprah mereka meram bah ke berbagai bidang.

Jadilah Peru contoh terbaik dalam hal persebaran dan perkembangan Islam di wilayah Amerika Latin. Di sana umat Islam begitu dikagumi, terutama dalam keterampilan mendesain bangunan. Beberapa gedung dan bangunan indah di negara itu berarsitektur Islam.

Gaya Arabescos

Mau bukti? Memasuki Kota Lima kamu akan melihat pemandangan layaknya Andalusia pada masa kejayaan Islam. Begitu banyak arsitektur Islam yang menghiasi Kota Lima. Masyarakat setempat menyebut arsitektur tersebut sebagai gaya Arabescos, yakni perpaduan gaya Timur Tengah dan Mediterania. Jelaslah bahwa kehadiran bangunan- bangunan berasitektur Islam itu mem buat Muslim dikagumi masyarakat setempat.

Nggak sekadar menjalin ukhuwah Islamiyah, komunitas Moor dan kaum imigran Palestina dan Lebanon bersama-sama menyebarkan agama Islam di Peru. Dimulai sekitar 1980-an, kegiatan dakwah menggeliat. Hasilnya? Nggak sedikit warga Latin yang memeluk agama Islam. Bahkan, pascaperistiwa 11 September 2001, jumlah mualaf meningkat tajam, meski masih terhitung kelom pok minoritas.

Yang nggak bisa dimungkiri, muslim Peru sangat aktif melakukan syiar Islam hingga sekarang. Aktivitas dakwah ini bisa berjalan berkat kebijakan Pemerintah Peru yang memberikan kebebasan bagi setiap umat beragama.

Walau begitu, kendala dan perbedaan perlakuan oleh pemerintah nggak bisa ditampik. Peru dengan mayoritas penduduk beragama Katolik (mencapai 85 persen dari keseluruhan penduduknya) memberikan keistimewaan tersendiri kepada gereja Katolik. Mereka mendapatkan kemudahan dalam hal perpajakan, pendidikan, tenaga kerja, pembangunan sarana ibadah, dan sebagainya.

Baca juga:
“Pesantren Federasi” yang Teguh dalam Salaf
Survei: Populasi Muslim Eropa 75 Juta pada 2050

Sedangkan, bagi agama minoritas seperti Islam, pemeluknya dikenakan pajak yang cukup tinggi, termasuk dana bantuan dari luar negeri pun dikenai pajak yang nggak sedikit. Namun, secara umum, hampir nggak ada permasalahan terkait kehidupan beragama, kendati pernah muncul sikap curiga terhadap Islam setelah terjadinya peristiwa 11 September.

Di bidang pendidikan keagamaan, pemerintah setempat mengizinkan pengelolaan sekolah agama bagi tiap komunitas agama. Terhadap siswa muslim yang menempuh pendidikan di sekolah non-Islam mereka diberi kesempatan menyusun program pembelajaran agama sesuai kepercayaannya. (EBC/SA)