Geliat Dakwah Ponpes Assalam di Pedalaman Kutai Barat

Keberadaan Ponpes Assalam Arya Kemuning di pedalaman Kalimantan ini punya peran penting dalam perkembangan Islam di sana. Ribuan orang menjadi mualaf berkat dakwah para dai di ponpes itu.

Geliat Dakwah Ponpes Assalam di Pedalaman Kutai Barat
Khitan Mualaf Ponpes Assalam Arya Kemuning. (Republika.co.id)

Inibaru.id - Menjadi daerah dengan penduduk mayoritas beragama kristen, perkembangan Islam di Kutai Barat nggak terlalu mencolok.  Dihuni oleh mayoritas Suku Dayak, geliat dakwah di daerah pedalaman Kalimantan Timur itu memang tak segencar perkotaan, apalagi dibandingkan dengan Jawa. Nggak banyak da' dan pondok pesantren di sana. Nah, keberadaan pondok pesantren Assalam Arya Kemuning pun menjadi salah satu dari sedikit tempat pusat dakwah di sana.

Berusia 25 tahun, ponpes yang berada di Barong Tongkok, Kutai Barat itu telah memualafkan lebih dari 3.000 orang di sana. Para mualaf dibina oleh Ponpes Assalam, baik di sekitar Barong Tongkok, hingga kampung-kampung terpencil seperti Tering, Temula, lingau, Muara Kalaq, Jerang Melayu, Jempang, dan lain lain. Tentu saja, itu bukan perjuangan yang mudah bagi para pendakwah di ponpes pimpinan Ustaz Arief Heri Setyawan.

Mengutip dari laman Assalamkubar.com, keberadaan Ponpes Assalam berawal ketika MUI Provinsi Kalimantan Timur menugaskan Ustaz Arief menjadi Dai Pembangunan untuk daerah Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai pada 1991.

Mengawali tugasnya di asrama tua Angkatan Darat, dia berkeliling dari kampung ke kampung untuk berdakwah. Selama sekitar setahun, Ustaz Arief pulang setiap sore sambil membawa anak-anak yang ingin belajar tentang Islam. Cobaan muncul ketika ada oknum Danramil Kecamatan Barong Tongkok menyuruh ustaz beserta santrinya pindah dari asrama.

Baca juga:
Keindahan Masjid dan Sejarah Penyebaran Islam di Bangladesh
Wali Pitu dan Jejak Islam di Pulau Dewata

Nggak ingin berkonflik, ia pun pindah. Beberapa masyarakat kampung yang menjadi binaannya menawarkan tanah wakaf. Mendapat dukungan dari masyarakat lingkungan sekitar, Ponpes Assalam pun berdiri di tengah lingkungan nonmuslim.

Nggak lama kemudian, Ponpes Assalam berpindah ke lokasi yang sekarang dengan memanfaatkan lokasi tanah jatah trans-Arya Kemuning pada 1965 yang sebagian sudah ditinggalkan oleh penduduknya. Terletak 5 Km dari jalan raya Kampung Barong Tongkok, saat itu kondisi tanah masih berupa rawa-rawa dan belum diolah. Pembersihan hutan dan lahan dilakukan secara manual dengan bergotong-royong.

Dalam waktu satu minggu bangunan Ponpes akhirnya bisa berdiri meskipun masih sangat sederhana. Beratap daun nipah, berdinding slebetan (papan sisa yang nggak terpakai oleh penjual kayu), tiang dan pondasi berupa kayu bulatan, bangunan itu menjadi asrama anak-anak dengan ukuran 8 X 8 meter persegi. Selama sekitar 1,5 tahun, mereka menempati bangunan yang jika ditiup angin, kotoran dan air hujan masuk ke ruangan. Bisa Sobat Millens bayangkan bukan, perjuangan berdakwah mereka? Sampai akhirnya seiring berjalannya waktu, Ponpes Assalam bisa seperti sekarang.

Kini, Ponpes yang dirikan pada 1992 itu telah memiliki puluhan pendakwah. Dari merekalah banyak warga Suku Dayak menjadi mualaf. Pembinaan Islam pun dilakukan di desa-desa mualaf dengan menggelar kajian keislaman serta mengkhitankan para mualaf. Dalam melakukan syiar Islam tersebut, dibutuhkan para pendakwah yang tangguh dan bermental pejuang.

Bagaimana nggak, untuk sampai ke desa binaannya, mereka harus melewati hutan berbukit-bukit. Jalanan yang rusak, berlumpur, hingga mengarungi luasnya sungai anak Mahakam, menjadi menu sehari-hari pengembaraan dakwah mereka.

Apakah tantangan dakwahnya hanya sebatas itu saja?
Tentu saja lebih dari itu dong. Laman satuislam.org (25/2/2017) menyebutkan, selain sulitnya akses jalan, tantangan lain berdakwah di pedalaman adalah masih banyak di antara mualaf belum paham tentang tata cara bersuci dan adab sesuai syariat Islam. Nah,salah satunya adalah tentang khitan. Bukan hal yang mengherankan kalau banyak mualaf yang berusia 40 tahunan belum berkhitan. Masalah kemiskinan dan nggak adanya puskesmas atau klinik di kampung-kampung membuat mereka yang ingin khitan harus menempuh jarak sampai ratusan kilometer dengan medan yang berat.  Maka ponpes pun sering mengadakan khitanan massal untuk para mualaf.

Baca juga:
Festival Maulid Nabi di Kota Tua Lamu, Kenya
Aboge, Saka Tunggal, dan Kidung Jawa


Eits, tapi khitan ini bukan hanya untuk mualaf asli Suku Dayak saja, lo. Sedari awal, ponpes membuka tangan lebar-lebar untuk peserta nonmuslim. Jadi, yang beragama lain juga bisa ikut berkhitan.

Dengan jalan berkhitan, mereka akan merasakan indahnya hidup dengan aturan Islam. So pasti, semuanya dilakukan tanpa adanya paksaan. (ALE/SA)