Berkah Kiai Damar yang Tak Kunjung Padam

Kiai Damar berhasil menjadikan Islam sebagai pelita bagi warga Pedamaran yang hidup dalam kegelapan.

Berkah Kiai Damar yang Tak Kunjung Padam
Makam Kiai Damar bersebelahan dengan istri dan keponakannya di kawasan Pedamaran, Semarang (Sindonews/Arif Nugroho)

Inibaru.id – Nama aslinya Raden Dipa Pamulya. Namun, masyarakat kala itu memanggilnya Kiai Damar yang dalam bahasa Jawa berarti "dian" atau "penerang kegelapan". Bagi warga, sosok penyebar agama Islam di Pedamaran, Kota Semarang, itu memang dianggap mampu menerangi mereka.

Dilansir dari Sindonews (26/6/2015), Kiai Damar dikenal sebagai seorang wali penyebar Islam dari Kerajaan Demak Bintoro. Ia ditugaskan bersama Syekh Jangkung, sosok yang cukup dikenal di kalangan masyarakat di Jawa.

Sosok Kiai Damar kini dimakamkan di Pedamaran, di tengah kampung padat tak jauh dari Pasar Johar. Selain Kiai Damar, ada dua makam lain di sebelahnya, yakni makam istri dan keponakannya.

Baca juga: Menikmati Lotong Balap dan Legendanya

Juru kuci makam, Kiai Masruh Budiono Abdul Kholib, mengaku tak ada catatan sejarah memadai terkait sosok yang terbaring di makam itu. Namun, kata Masruh, berdasarkan cerita terdahulu, Kiai Damar berasal dari Kerajaan Demak Bintoro.

“Nama Kiai Damar hanyalah sebutan warga. Beliau adalah sosok pijar yang menerangi warga yang masih tersesat dalam kegelapan hidup,” terangnya.

Saat ditemukan dulu, ungkap Masruh, makam Kiai Damar sejatinya ada di sebuah lubang yang cukup dalam. Ketika itu banyak yang menggunakannya untuk bersemadi, meditasi, atau aktivitas lain. Nah, untuk menghilangkan kesyirikan, lubang ditimbun.

"Jadilah yang seperti saat ini. Jika digali, di dalam sana masih ada makam asli  dengan tiga nisan yang besar," tuturnya.

Makam Kiai Damar dipugar dan diresmikan Walikota Semarang Soetrisno Soeharto pada 26 Februari 1998. Setelah diresmikan, lokasi tersebut sering dikunjungi peziarah untuk berdoa. Yang datang pun tak hanya dari Semarang. Ada juga yang khusus hadir dari luar Jawa.

Baca juga: 
Masjid Kuno di Indonesia Dibangun Tanpa Menara dan Kubah
Manuskrip Alquran Tertua di Asia Tenggara Tersimpan di Pulau Alor

"Acara rutin doa bersama adalah setiap Kamis malam, tapi yang paling ramai adalah pas Haul Kiai Damar tiap Maulud," jelas Masruh.

Kiai Damar tidak hanya dikenal sebagai penyebar ajaran Islam, tapi juga sosok pelindung warga dari segala bencana. Bahkan, sejumlah warga meyakini, perlindungan itu masih mereka rasakan hingga kini, misalnya pada musibah kebakaran Pasar Johar 9 Mei 2009 lalu.

Pada kebakaran dasyat tersebut, api menghanguskan sebagian bangunan pasar. Namun begitu, tak ada satu rumah pun di perkampungan Pedamaran Sumeneban yang terjilat si jago merah. Padahal, lokasinya berdekatan.(GIL/SA)