Bantuan Spesial Pondok Pesantren Darut Tasbih untuk Para Penyandang Gangguan Jiwa

Bantuan Spesial Pondok Pesantren Darut Tasbih untuk Para Penyandang Gangguan Jiwa
Pelaksanaan salat berjamaah di Pondok Pesantren Darut Tasbih, Banten. (Viva.co.id)

Di Banten, ada sebuah pesantren bagi orang-orang yang mengalami gangguan jiwa. Di sana mereka direhabilitasi dan diajak mengenal Tuhannya.

Inibaru.id – Adalah Rafiudin, pria di balik berdirinya pesantren tersebut. Memiliki nama Pesantren Darut Tasbih, tempat tersebut kini dikenal sebagai pesantren rahabilitasi bagi orang-orang yang mengalami gangguan jiwa dan keterbelakangan mental.

Awalnya, nggak ada niat bagi Rafiudin untuk membangun sebuah pesantren rehabilitasi. Dia hanya berkeinginan untuk membantu sesama agar para penderita gangguan jiwa tersebut bisa hidup layak.

Berawal pada tahun 1986 KH Rafiudin membawa pulang sejumlah orang yang terlantar di pinggir jalan yang mengalami gangguan jiwa.

''Hati saya benar-benar sedih dan kasihan ketika melihat orang-orang itu diejek dan dihina oleh anak-anak. Saya membawa mereka ke rumah, saya mandiin, saya kasih makan, dan saya ajak ngobrol,'' ungkap Rafiudin, Senin (4/06/2018).

Rafiudin mengungkapkan bahwa penderita gangguan jiwa juga sama seperti kita, mempunyai kehidupan yang sama dan layak seperti orang normal.

''Saya perlakukan mereka seperti kakak, orang tua, ataupun seperti adik saya sendiri. Mereka kalau diajak ngobrol juga sama seperti ngobrol sama orang normal, cuma terkadang memang mempunyai tingkat khayal yang berlebihan,'' ungkap Rafiudin.

Rafiudin menjelaskan pesantren khusus gangguan jiwa ini baru terbentuk pada tahun 2000. Dan berdiri di atas lahan seluas satu hektar, tepatnya di Gelam Jaya, Pasar Kemis, Tangerang, Banten.

Ditulis Kompas.com (08/06/2018), Rafiudin beberapa kali berhasil menyembuhkan mereka hingga normal, sampai pada akhirnya laki-laki yang sudah berumur setengah abad itu membuat sebuah majelis taklim khusus untuk orang-orang yang mempunyai keterbelakangan mental.

Gratis Bagi yang Kurang Mampu

Rafiudin mengratiskan pasien yang kurang mampu secara ekonomi, tetapi untuk orang yang mampu dikenakan biaya sebesar Rp 3 Juta.

''Para pasien yang mempunyai uang lebih saya kenakan tarif. Tarif ini akan saya subsidi silang untuk pasien yang kurang mampu. Semua biaya digunakan untuk konsumsi pasien. Untuk para penjaganya saya gaji dari uang pribadi saya, hasil ceramah dan usaha,'' ungkap Rafiudin.

Menurut KH Rafiudin ada tiga kategori pasien yang datang ke pesantren. Pertama, mengalami gangguan kejiwaan karena stres, kedua karena narkoba, dan ketiga karena gangguan mahluk halus jin. Para pasien ini setiap harinya disibukkan dengan kegiatan-kegiatan seperti beribadah, mengaji, dan mendengar tausiyah.

 

Para santri sedang mengaji. (kompas.com / Andreas Lukas Altobeli)

Nah, untuk memaksimalkan penyembuhan, pesantren ini hanya membatasi untuk 50 pasien saja yang dibagi menjadi dua kelas. Kelas pertama, pasien berada di ruangan yang dijaga ketat dengan petugas pesantren. Menurut Rafiudin, pasien kelas pertama ini merupakan para penderita gangguan jiwa yang sulit dikontrol jadi harus dijaga ketat.

''Harus dijaga ketat, takut berantem satu sama lain. Kegiatan ibadah seperti solat masih kita bimbing," tegasnya.

Berbeda dengan kelas pertama, kelas kedua ini diperuntukkan bagi pasien yang sudah bisa dikontrol. Selain itu, Millens, rata-rata pasien juga sudah bisa diajak berkomunikasi dengan baik lo.

Bagaimana pun kondisi para pasiennya. Rafiudin selalu membuka diri untuk membantu mereka. Dia berharap para pasiennya bisa sembuh dengan kegiatan religius di pesantren. (IB06/E05)