Al-Mashun, Masjid “Tiga Benua” di Medan

Keunikan masjid ini adalah arsitekturnya yang mencirikan gaya tiga benua. Bangunan itu juga jadi ikon Kota Medan.

Al-Mashun, Masjid “Tiga Benua” di Medan
Masjid Raya Al-Mashun di Kota Medan. (analisadaily.com)

Inibaru.id – Di Sumatera Utara (Sumut), ada beberapa masjid bersejarah. Dikutip dari Republika.co.id (25/1/2018), Abdul Baqir Zein, penulis buku Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia menyebut tiga masjid bersejarah di wilayah tersebut, yaitu Masjid Raya Al-Mashun Medan, Masjid Raya Labuhan Medan, dan Masjid Azizi Langkat.

Masjid Raya Al-Mashun adalah masjid negara pada masa kejayaan Kesultanan Melayu Deli, yang dibangun 1906 dan selesai 1909. Yang lebih tua adalah Masjid Raya Labuhan Medan, didirikan pada 1824 oleh Sultan Deli yang bernama Sultan Mahmud. Masjid yang semula berukuran 16 m x 16 m dan terbuat dari kayu, pada 1884 dipugar sekaligus dibangun secara permanen. Adapun Masjid Azizi Langkat yang berada di Langkat, Tanjung Pura, Sumatra Utara, didirikan oleh Tengku Sultan Abdul Aziz bin Tengku Sultan Haji Musa al-Khalidy al- Muazhzham Syah, Raja Langkat yang berkuasa antara 1862-1896. Namun, sebelum pembangunan masjid selesai, Sultan Abdul Aziz wafat. Lalu, pembangunan dilanjutkan oleh anaknya, Tengku Sultan Mahmud Rahmat Syah, pada 1936.

Nah, Millens, dari ketiga masjid tersebut, Masjid Raya Al-Mashun menjadi salah satu ciri khas Medan. Ini masjid dengan arsitektur unik.

Baca juga:
Dengan OneQuran, Kamu Bisa Belajar Ngaji via Daring
“Kehebatan” Masijd Bibi Heybat di Azerbaijan

Keunikannya, seperi dilansir Republika.co.id (27/1/2018) terlihat dari gaya arsitektur, bentuk bangunan, kubah, menara, pilar utama, hingga ornamen-ornamen kaligrafi yang menghiasi setiap bagian bangunannya. Itulah yang membuat Masjid Al-Mashun jadi istimewa. Nggak heran, siapa pun yang kali pertama kali melihat bagian dalam dan ornamen-ornamen yang menempel di bagian dindingnya, bakal berdecak kagum.

Lebih-lebih ruang utamanya yang berbentuk segi delapan nggak sama sisi digunakan sebagai tempat salat. Di bagian ini ada keunikan lagi nih: pada setiap sisi, terdapat bagian yang menjorok keluar dan di depan setiap bagian itu terdapat tangga. Sisi kiri dan kanan ruang salat utama dikelilingi gang yang memiliki deretan jendela tertutup berbentuk lengkung, yang berdiri di atas balok.

Di luar itu semua, yang paling menonjol arsitekturnya adalah ragam arsitektural beragam gaya. Kamu tahu siapa arsiteknya? Orang Belanda, lo.

Ya, masjid yang diarsiteki JA Tingdeman ini dibangun pada 1906, di atas lahan seluas 18 ribu meter persegi dan dapat menampung sekitar 1.500 jamaah.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh beberapa temuan. Yakni, komponen-komponen budaya yang mendominasi arsitektur dan ragam hias Masjid Raya Al-Mashun, pada umumnya berasal dari arsitektur Islam, khususnya Mesir (periode Mamluk yang berlanjut pada periode Ottoman), Spanyol (Andalusia) dan Maghribi (Maroko), India (periode Mughal Architecture), serta Arab (Timur Tengah).

Baca juga:
Perekat Bangunan Masjid Itu Putih Telur
Uniknya Masjid Lumpur Agadez

Adapun komponen-komponen yang berasal dari Eropa, merupakan komponen pelengkap.

Nah, dengan semua ciri itu, wajar bila disebut bahwa Masjid Raya Al-Mashun adalah masjid dengan gaya arsitektural tiga benua (Asia, Afrika, dan Eropa).  Nggak heran, masjid itu banyak dikagumi wisatawan, baik domestik maupun mancanagara.

Selain itu, masjid itu juga menyisratkan soal kebesaran Islam di Nusantara. (EBC/SA)