Yuktiasih Proborini, Nggak Kenal Lelah Apalagi Nyerah Menyuarakan Hak Penyandang Disabilitas

Yuktiasih Proborini, Nggak Kenal Lelah Apalagi Nyerah Menyuarakan Hak Penyandang Disabilitas

Di Kota Semarang ada seorang penyandang disabilitas yang aktif menyuarakan hak-hak rekan-rekannya dalam memperoleh porsi yang setimpal sebagaimana warga negara lainnya. Siapakah dia? Yuk, ketahui lebih jelas.

Inibaru.id – Saat saya menemui Yuktiasih Proborini di Hotel Grasia pada Selasa (10/12) pagi, dia tampak semringah. Bukan, bukan lantaran mau saya wawancara tapi karena cerpennya diterbitkan Balai Bahasa Jawa Tengah. 

“Disabilitas adalah keniscayaan,” ujarnya ketika menjawab pertanyaan saya tentang bagaimana keadaan penyandang disabilitas di Kota Semarang.

“Nggak penah ada yang minta dilahirkan seperti ini. Dan nggak ada juga yang menduganya. Semua pemberian yang Maha Kuasa. Bisa karena kecelakaan, penyakit, atau salah minum obat. Kalau sudah begini sampai nangis berdarah-darah pun nggak bisa mengubah keadaan,” tambahnya.  

Yuktiasih membaca cerpennya yang baru saja diterbitkan. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Yuktiasih membaca cerpennya yang baru saja diterbitkan. (Inibaru.id/ Audrian F)

Saya nggak menyangka mobilitas perempuan berkursi roda ini tinggi. Kondisinya juga nggak membuatnya bergantung pada orang lain. Salut! Mau pergi ke mana pun, dia memakai jasa ojek mobil daring.

Meski lebih banyak sendiri, tapi dia mengaku nggak pernah merasa sendirian. Baginya, Tuhan selalu bersama dan membantunya. Seperti orang-orang yang membantu mendorong atau mengangkat kursi rodanya dia anggap sebagai perantara dari Tuhan.

Yuktiasih bergerak melalui Sejiwa Foundation. Yayasan ini dia gerakkan bersama Radit Yulianto. Kebetulan partner-nya ini adalah penyandang tunanetra. Sejiwa Foundation mencoba memberdayakan  dan berupaya mengikis diskriminasi serta ketidaksetaraan terhadap penyandang disabilitas. Hebat bukan? Sebagai orang yang masih bisa berjalan tegak dan melihat dengan baik, saya merasa nggak ada apa-apanya dibanding mereka.

“Kami nggak butuh dikasihani. Beri kami kesempatan. Ayo libatkan penyandang disabilitas ini sebagai subjek pembangunan yang ikut berencana, melaksanakan dan mengevaluasi. Sebab kami juga punya hak sebagai warga Negara dan kami tahu kebutuhan kami itu apa,” tukas Yukti. Dia rela meninggalkan profesinya sebagai konsultan di Jakarta hanya untuk bergerak bersama Sejiwa Foundation ini.

Dalam pergerakannya, Sejiwa Foundation mencoba menggandeng 5 pilar, yakni Pemerintah, swasta, media, Perguruan Tinggi, dan masyarakat. Dia ingin memberikan pemahaman bagaimana penyandang disabilitas seharusnya diperlakukan. Selain itu lewat Sejiwa pula Yukiasih ingin memupuk rasa percaya diri teman-teman disabilitas.

Yuktiasih Proborini, bergerak melalui Sejiwa Foundation. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Yuktiasih Proborini, bergerak melalui Sejiwa Foundation. (Inibaru.id/ Audrian F)

Sektor yang sangat Yuktiasih sorot adalah infrastrukur. Dalam hal ini dia sungguh kritis dalam memeringatkan Pemerintah kota untuk lebih bijak mengatur fasilitas bagi penyandang disabilitas. Nggak jarang dia memberi banyak masukan dan kritik.

Rupanya infrastruktur yang dia impikan nggak hanya ramah pada sesamanya, tapi juga untuk kalangan rentan lain seperti ibu hamil, lansia, dan anak-anak.

Sampai sejauh ini, Yuktiasih nggak pernah berhenti dalam mewakili penyandang disabilitas untuk berbicara. Melalui Facebook, radio, dan media apa pun dia terus bersuara.

“Saya nggak akan lelah untuk menyuarakan teman-teman disabilitas. Harapan saya 5 sampai 10 tahun lagi Indonesia sudah ramah bagi penyandang disabilitas,” tutupnya.

Wuih, keren. Semoga harapan Yuktiasih terkabulkan ya, Millens. (Audrian F/E05)