Usia Senja Tak Pupuskan Tekad Rohmat Jajakan Mainan Tradisional

Usia senja rupanya nggak menghalangi Rohmat untuk mencari nafkah. Hingga kini, dia masih berkeliling menjajakan dagangannya berupa peluit tradisional.

Usia Senja Tak Pupuskan Tekad Rohmat Jajakan Mainan Tradisional
Rohmat menjajakan mainan tradisional buatannya. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Inibaru.id – Pengunjung Festival Ampyang Maulid di Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus, sudah berangsur pulang sore itu, Selasa (20/11/2018). Namun, Rohmat masih hilir mudik menjajakan peluit (sempritan) tradisional buatannya. Bunyi sempritan yang sesekali ditiupnya terkadang sukses membuat sisa pengunjung tertarik dan mendekatinya.

Di usianya yang senja, lelaki bertopi itu masih bersemangat  mencari nafkah dengan menjual mainan tradisional serupa peluit berbahan kayu dengan lubang kecil di tengahnya. Peluit itu kemudian diberi cover supaya tampak lebih menarik. Rohmat mengklaim, mainan tersebut bisa menghasilkan lima suara berbeda.

“Betul, ini bisa suara bayi, tokek, juga kucing,” klaimnya, lalu meniup dan menghasilkan suara yang disebut.

Peluit buatan Rohmat. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Rohmat menjual peluit itu seharga Rp 5.000 per biji. Sekilas, harga itu mungkin terlihat mahal untuk ukuran sebuah peluit kayu. Namun, melihat proses pembuatan dan jarak tempuh begitu jauh yang dilalui Rohmat, harga ini sangatlah murah.

“Saya sudah keliling seluruh Jawa. Pernah ke Jakarta, Bandung, dan Madura. Ini saya juga mau ke Sukolilo, Pati,” jelas warga Mlati Lor, Kudus, itu.

Sayang, dengan perjuangan sebesar itu, nggak banyak laba yang bisa dihasilkannya. 

“Sekarang sepi sekali. Tadi cuma Rp 20 ribu sampai sekarang. Kalau ramai ya bisa sampai Rp 150 ribu,” ungkap Rohmat.

Penghasilan itu nggak bisa mencukupi kebutuhannya dan keluarga. Alhasil, dia mencari nafkah tambahan dengan menjual mi ayam pada hari-hari biasa.

Dua anak kecil membeli peluit buatan Rohmat. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Lelaki yang sebagian rambutnya sudah beruban itu mengatakan, dia sudah menekuni bisnis tersebut sejak 1970. Dulu, produk bikinannya sangat digandrungi anak kecil. Namun, seiring perkembangan zaman, peluit tradisional itu mulai ditinggalkan.

Hm, salut dengan kegigihan Pak Rohmat untuk mencari nafkah, nih! (Ida Fitriyah/E03)