Tomo, Legenda Hidup Penjual Biji Kopi Keliling di Kota Semarang

Tomo, Legenda Hidup Penjual Biji Kopi Keliling di Kota Semarang
Tomo dan sepeda kopinya. (Inibaru.id/ Audrian F)

Di Kota Semarang ada penjual biji kopi keliling yang cukup legendaris. Namanya Tomo. Area edarnya di sekitar Semarang Utara dan Kota Lama. Darinya, kamu bisa membeli biji kopi asli dengan harga bersahabat.

Inibaru.id - “Begini saja kok heran. Saya tiap hari naik sepeda seperti ini,” kata Sutomo alias Tomo ketika berhenti sejenak untuk melayani pelanggan. Kalimat di atas dia lontarkan kepada saya yang hari itu "ngintil". 

Rabu (20/1/2021), saya ikut Tomo keliling menjajakan kopi bubuk. Dia bersepeda sebagaimana biasa sementara saya naik motor beberapa meter di belakangnya.

Rute yang Tomo tempuh lumayan jauh. Jarak jadi kian terasa karena matahari di kota ini begitu terik. Padahal, sedang musim hujan.

Itu juga yang jadi sebab saya memuji Tomo. Sayangnya, pujian saya dimentahkannya. Dia menganggap rute yang ditempuh itu bukan sesuatu yang perlu dibanggakan. Puluhan tahun dia melakoni rutinitas ini.

“Dulu awal-awal saya malah menggunakan pikulan dengan jalan kaki,” kata Tomo yang membuat saya salut.

Saya yang nggak kuasa menahan panas dan haus kemudian meraih sebotol air mineral dari dalam tas. Di depan saya, Tomo tampak biasa saja. Hm, tempaan hidup memang bikin orang jadi kuat.

Menempuh berbagai jarak. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Menempuh berbagai jarak. (Inibaru.id/ Audrian F)

Lelaki ini sudah berjualan kopi keliling sejak 1975 di Kota Semarang. Dia tinggal di Jalan Darat, Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara.

Tiga puluh tahun memikul dagangan berikut gilingan kopi, Tomo akhirnya membeli sebuah sepeda tua. Di bagian belakang, ada dua kaleng untuk menampung kopi dan perkakas pembungkus. Pada belakang sedel, dia mengikat penggiling kopi buatan Negeri Ratu Elizabeth, Inggris. Sponge & Co Ltd, tertera pada alat lawas itu.

'Kopi Pak Tomo 081329255694 Biji Kopi Asli', begitu tulisan pada sepotong kardus cokelat itu terbaca mata saya. Sebuah metode promosi lugas dan mengena. Buktinya, ada saja orang yang memesan kopi asli darinya melalui telepon. Nggak perlu endorse influencer atau menggunakan kata menye-menye

“Meskipun sederhana tapi orang jadi tahu, 'kopi Pak Tomo'. Kalau kosongan saja kan cuma nyebut penjual kopi keliling,” jelasnya.

Tomo memulai rutinitasnya pukul 06.00 pagi. Daerah yang dijamah dekat rumahnya, barulah sehabis istirahat siang ayah satu anak ini menjangkau pelanggan yang lebih jauh.

“Saya nggak suka mangkal di tempat umum. Lebih baik pulang saja,” katanya.

Menggiling kopi. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Menggiling kopi. (Inibaru.id/ Audrian F)

Bekas Santri Kiai Soleh Darat

Tomo bercerita kalau area dagangnya di sekitar Semarang Utara seperti Layur, Kota Lama, Poncol, Dr Cipto atau juga di Jalan Pemuda. Bisa juga lebih jauh lagi. Hal ini sudah dilakukan Tomo sejak remaja. Saat itu, dia adalah salah seorang santri di Pondok Pesantren Darat milik ulama besar di Jawa Tengah, Kyai Soleh Darat.

Di pondok tersebut, dia kenal dengan Ali Kholil, cucu dari Kiai Soleh Darat. Kata Tomo, Ali Kholil dulu juragan kopi. Pegawainya banyak termasuk ayah dan kakak Tomo.

“Ali Kholil banyak memberi ilmu kepada saya,” tambah laki-laki berusia 60 tahun tersebut.

Tahun-tahun berselang, usaha Ali Kholil itu nggak berjalan baik dan para pegawai ini jadi mandiri mencari kopi di tempat lain. Namun masalahnya harga kopi mentah di luar sana melambung tinggi. Praktis, banyak pedagang kopi keliling yang gulung tikar.

“Saya juga sempat ingin berhenti. Namun suatu ketika ada keajaiban,” kenang Tomo.

Kopi robusta dari yang dijual Tomo. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Kopi robusta dari yang dijual Tomo. (Inibaru.id/ Audrian F)

Suatu ketika di hari yang dipenuhi ketidakpastian, ada seseorang yang memanggilnya dari dalam mobil. Ternyata dia adalah utusan dari perusahaan biji kopi dari Tangerang yang menawarkan biji kopi harga dengan murah. Jadilah mereka mitra hingga saat ini.

“Dulu saya juga menyangrai sendiri. Sekarang tinggal menggiling saja karena dipasok dalam bentuk jadi,” ucapnya. Sebagai informasi, Tomo menjual kopi robusta Temanggung.

Harga Murah-Meriah

Harga yang dipatok Tomo beragam. Saya sempat melihat ada pelanggan yang membeli dengan harga Rp 5 ribu dan mendapat kopi yang mengisi setengah plastik berukuran 1/2 kilogram gula. Jadi, kalau kamu bisa membeli dengan nominal yang lebih besar, berarti akan mendapat kopi yang lebih banyak.

Dalam sehari pendapatan Tomo juga nggak pasti. Bisa Rp 100 ribu atau Rp 70 ribu. Bisa juga di bawah itu.

“Apa pun hasilnya disyukuri,” ujarnya.

Melayani pelanggan. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Melayani pelanggan. (Inibaru.id/ Audrian F)

Hari baik memang nggak saban hari datang, tapi Tomo menjalani profesinya dengan tulus. Barangkali, dedikasinya pada kopi yang nggak kenal umur ini juga yang membuatnya dikenal banyak orang. Kamu mungkin nggak akan percaya kalau penjual kopi keliling yang bersahaja ini pernah ikut pameran, bertemu pengusaha, artis, bahkan nimbrung dalam acara pemerintah.

“Jadi penjual kopi keliling sudah jalan hidup saya. Nggak akan saya tinggalkan,” pungkasnya.

Menutup perjumpaan, saya mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membeli kopi Tomo. Di rumah, saya menyeduhnya. Enak, ringan, dan nggak perih di lambung. Saya hanya sesekali minum kopi asli dan rasa kopi Tomo yang saya buat ini mengingatkan pada kopi di kafe. Bedanya, yang ini lebih murah.

Penasaran dengan rasanya? Langsung saja hubungi Tomo ya, Millens? (Audrian F/E05)