Tinggal Berimpitan, Bagaimana Penghuni Omah Boro Terapkan Physical Distancing saat Pandemi?

Tinggal Berimpitan, Bagaimana Penghuni Omah Boro Terapkan Physical Distancing saat Pandemi?
Penghuni Omah Boro yang masih bertahan. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Dari beberapa yang memilih pulang kampung, beberapa penghuni Omah Boro yang bertahan mengaku menerapkan konsep physical distancing sebisa mereka. Seperti apa mereka melakukannya sementara tinggal secara komunal?

Inibaru.id - Suasana siang itu nggak seperti biasanya. Rumah yang setiap harinya bisa dihuni hingga 300-an orang ini, kini tinggal 80-an orang setiap harinya. Pandemi corona yang membuat pekerjaan tersendat dan pemasukan yang semakin kecil, membuat para pekerja penghuni Omah Boro pilih untuk pulang kampung.

Kala itu saya bertemu dengan beberapa orang yang masih bertahan di Omah Boro Tersebut. Sepulangnya dari menjajakan pisau, Rahmat saya cegat dari pintu belakang. Dia merupakan salah satu pedagang pisau yang mengaku belum pulang ke kampung halaman.

“Yang jualan pisau ada 10 orang, sebagian pulang, sebagian jualan,” kata lelaki berperawakan tinggi ini.

Menurutnya, teman-temannya yang mengalami penurunan pendapatan karena pandemi memutuskan untuk pulang sebelum pemerintah melarang mudik. Rahmat yang satu setengah bulan belum pulang kampung juga berencana pulang, besok menjelang lebaran.

Ada pula Agus Darmanto yang memutuskan untuk tinggal di tengah pandemi. Bukan karena mengikuti anjuran pemerintah, keputusannya untuk nggak pulang kampung adalah pendapatannya yang menurun sehingga belum cukup sebagai bekal untuk dibawa pulang.

“Biasanya pulang, tapi karena pendapatan menurun cukup drastis dan belum ada pemasukan jadi belum bisa pulang,” tutur pedagang asongan ini.

Hm, ternyata begitu ya alasan mereka nggak mudik.

Sepi, Jadi Bisa Physical Distancing

Rahmat dan Sutarmi, dua orang yang tetap bertahan di Omah Boro. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Rahmat dan Sutarmi, dua orang yang tetap bertahan di Omah Boro. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Salah satu anjuran lain dari pemerintah adalah penerapan physical distancing. Kebetulan, penghuni Omah Boro yang kini tergolong sedikit menjadi kesempatan untuk menerapkan imbauan ini. Hal ini diungkapkan oleh Rahmat. Dia yang mengaku biasanya jika ramai bisa tidur bak ikan pindang, kini bisa menjaga jarak dengan temannya yang lain karena satu amben panjang hanya dihuni 3-4 orang saja.

“Ya kalau jaga jarak ya tidurnya agak dibatasi. Saya di sini, lainnya di bagian lain yang agak jauh,” tuturnya sambil menunjukkan bagian tempat tidurnya ala room tour.

Berbeda dengan Rahmat, Agus malah nggak menerapkan physical distancing selama tinggal bersama di Omah Boro. Nampak nggak ada yang berubah di saat musim pagebluk seperti ini.

“Biasa saja kalau di sini, ya seperti ini adanya,” katanya yang bikin saya kecewa.

Namun Agus mengaku menjaga jarak dan memakai masker ketika berada di luar rumah. Lebih-lebih, dirinya yang bekerja sebagai pedagang asongan yang bertemu dengan banyak orang.

“Kalau keluar baru menjaga jarak dan pakai masker kalau di pasar,” ungkapnya.

Pengelola Omah Boro dalam mencegah penularan Covid-19 juga sudah dilakukan dengan menyediakan tempat cuci tangan serta sabun.

“Di sini ada padasan dan sabun yang banyak. Kalau setiap mau salat kan juga wudu, jadi insyaallah aman dari corona,” ungkapnya.

Nah buatmu yang berada di Zona Merah, apa nih upaya yang sudah kamu lakukan untuk menekan penyebaran corona, Millens? (Zulfa Anisah/E05)