Three Maskerteens, Masker Antipolusi Jawara LGIS 2017

Ciptakan masker antipolusi, tiga siswa SMA Plus Pembangunan Jaya, Jakarta berhasil jadi jawara dalam ajang tahunan L’Oreal Girl in Science (LGIS).

Three Maskerteens, Masker Antipolusi Jawara LGIS 2017
Ashila Maitsa, Ayu Sekar Tunjung, dan Alia Reiza. (foto: global.liputan6.com)
2k
View
Komentar

Inibaru.id - Jika Athos, Porthos, dan Aramis disatukan Alexandre Dumas dalam novel The Three Musketeers, tiga dara cantik AshilaMaitsa, AyuSekarTunjung, dan Alia Reiza menciptakan Three Maskerteensdalam kompetisi LGIS 2017.

Three Maskerteens merupakan masker antipolusi yang terbuat dari bahan-bahan alami. Inovasi ketiga siswa asal SMA Plus Pembangunan Jaya, Jakarta itu pun berhasil menjadi jawara dalam ajang tahunan L'Oreal Girls in Science (LGIS) terbaru.

Ide pembuatan masker anti polusi ini berangkat dari adanya pencemaran udara yang saat ini begitu mengancam kesehatan manusia.

Di Indonesia, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) menduduki peringkat pertama sebagai penyakit yang paling banyak di derita masyarakat, khususnya anak-anak.

Keadaan ini mendorong munculnya inovasi masker alami antipolusi. Secara fisik, masker ini terlihat sebagaimana penutup mulut dan hidung yang biasa kita lihat atau pakai sehari-hari. Para pengendara sepeda motor di kota-kota besar dengan tingkat polusi tinggi merupakan orang yang paling sering menggunakannya.

Namun, dalam inovasi ini, yang membedakan adalah kandungan bahan-bahan di dalamnya. Secara umum, masker ini mengandung tiga bahan utama, yakni arang aktif, tanaman lidah mertua (sanseviera), dan kulit jeruk. Bahan terakhir berfungsi sebagai aromaterapi. 

Sebagaimana dilansir dari CNN Indonesia, bahan-bahan tersebut kemudian dijadikan semacam sachet yang kemudian ditumpuk di dalam masker yang terbuat dari kain katun jepang. Sachet ini disediakan dalam paket refill juga. Penggantiannya antara satu hingga dua pekan.

“Bahan ini nyerap keringat banget, tipis dan adem. Kalau kita pakai di daerah hidung enggak akan pengap. Kita cari bahan setipis mungkin, supaya orang pakai nyaman, enggak tebal,” kata Ashilla, di Gedung A Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta.

Mewakili tim, dia menjelaskan, penggabungan ketiga bahan akan menghasilkan penyaringan polutan yang maksimal. Keunggulan lain, ada aromaterapi jeruk yang menciptakan aroma segar. 

“Jadi segar, enggak mengantuk, bisa mengurangi tingkat kecelakaan juga. Dengan masker ini kami harap bisa meningkatkan kesehatan dan kenyamanan,” harapnya. 

Untuk pembuatan maskernya sendiri, Ashilla mengaku, dirinya dan tim hanya membutuhkan waktu sepekan.

“Yang lama konsepnya. Kami membutuhkan waktu sekurangnya satu hingga dua bulan dari ide awal hingga menjadi konsep matang,” terang dia.

Terkait kemungkinan dijadikan produk yang siap dijual ke publik, ketiganya masih ragu. Menurut mereka, masker itu masih harus dikembangkan lebih lanjut.  

“Penelitian ini masih dasar, jadi masih harus diteliti lebih lanjut. Misalnya, ya, biar bahannya tahan lama, dan sebagainya,” tutur Ayu, anggota tim yang lain. (OS/IB)