Suparjiyem dari Gunungkidul dan Kekerasan Tekad dalam Pemberdayaan Pangan

Gagasan memberdayakan ibu-ibu di bidang pertanian itu muncul dari kegiatan arisan rutin. Lewat kekerasan tekadnya, Suparjiyem menggerakkan para perempuan di desanya dalam pengembangan pangan alternatif selain padi.

Suparjiyem dari Gunungkidul dan Kekerasan Tekad dalam Pemberdayaan Pangan
Suparjiyem (harisfirdaus.id)

Inibaru.id –  Semua berawal dari arisan rutin ibu-ibu di Desa Wareng, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, DIY, pada 1989. Selayaknya kumpulan ibu-ibu, mereka suka bergosip dan bergunjing. Tapi Suparjiyem, salah seorang anggota arisan itu agak galau menyaksikan teman-temannya menghabiskan waktu untuk sesuatu yang dia anggap nggak bermanfaat.

Gagasan untuk mengajak mereka memanfaatkan waktu untuk sesuatu yang lebih berguna muncul di dalam benaknya. Dia ingin memberdayakan mereka di bidang pertanian, bidang yang sudah mereka akrabi.

Seperti dikutip dari Detik.com (27/8/2015), Suparjiyem lalu mendirikan Kelompok Wanita Tani Menur. Kelompok ini melakukan berbagai kegiatan produktif seperti pertanian organik, pengolahan bahan makanan, dan bimbingan kepada petani dalam mengatasi perubahan iklim/cuaca.

Perlu kamu tahu, Millens, perubahan iklim ini isu penting, khususnya untuk wilayah Gunungkidul. Di sana, sebagian besar lahan pertaniannya tadah hujan dan lebih banyak ditanami tanaman palawija dan umbi-umbian. Penentuan musim tanamnya pun masih tradisional dengan menggunakan sistem pranatamangsa. Padahal, perubahan iklim saat ini telah memengaruhi pengolahan lahan pertanian atau bercocok tanam.

Pada kenyataan, banyak peristiwa cuaca yang nggak lagi sesuai dengan pranatamangsa. Akibatnya banyak petani gagal panen.

“Petani masih menggunakan sistem pranatamangsa. Ini kalender tanam yang digunakan petani di Jawa selama ratusan tahun. Pranatamangsa yang tidak sesuai ini mengakibatkan petani banyak mengalami gagal panen," kata Suparjiyem dalam suatu acara.

Selanjutnya, Suparjiyem dan Kelompok Wanita Tani Menur itu mengikuti pelatihan tentang cara-cara untuk mengatasi perubahan iklim. Hasil pelatihan itu diterapkan dan panen mereka berhasil.

“Caranya, kami mengantisipasi musim tanam dengan cara mengolah tanah dan varietas tanaman,” tandas perempuan yang akrab disapa Bu Par itu.

Bu Par mencontohkan, ketika musim diprediksi menjadi sangat basah atau banyak curah hujan, petani perlu menanam tanaman yang dapat menahan banyak air.

Keberhasilan Bu Par dan kelompoknya selanjutnya menjadi anutan petani-petani lain.  Mereka mencontoh apa yang diiniasiasi perempuan tersebut.

Perlu Millens tahu juga, nggak hanya cara-cara mengantisipasi perubahan iklim dalam bercocok tanam, aksi inspiratif Bu Par adalah gagasan dan ajakan untuk menanam tanaman pengganti beras sebagai makanan pokok sehari-hari. Gagasan itu bukannya tanpa tentangan. Para suami di wilayahnya  menolak menanam tanaaman alternatif padi karena umumnya lahan mereka nggak luas.

Gagasan ditolak, Bu Par pantang surut. Dia dan Kelompok Wanita Tani Menur menggalang dana dari anggota dan sumbangan orang untuk menyewa lahan yang akan dijadikan tempat percontohan tanaman pengganti padi.

"Awalnya kami coba tanam ketan hitam, buah-buahan dan sayuran seperti mangga, rambutan dan kacang-kacangan, serta berbagai jenis umbi," katanya.

Ya, kekerasan tekad Suparjiyem dan kelompoknya berbuah bagus. Dikutip dari Tempo.co (30/8/2015), ibu dua anak itu berhasil menggerakkan komunitas untuk memanfaatkan tanaman alternatif selain padi di Gunungkidul, daerah yang identik dengan kemiskinan. Tanaman uwi, gembili, garut, gadung, singkong, ganyong, dan jahe tumbuh subur di pekarangan penduduk.

Inspiratif banget kan yang dilakukan Bu Par? Kamu juga bisa melakukan hal serupa, tentu saja sesuai dengan bidangmu. (IB02)