Sudahkah Kota Lama Semarang Ramah bagi Penyandang Disabilitas?
Sejumlah penyandang disabilitas menyusuri jalanan di Kota Lama Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Sudahkah Kota Lama Semarang Ramah bagi Penyandang Disabilitas?

Sudah seharusnya penyandang disabilitas juga bisa menikmati fasilitas wisata sebagaimana yang didapatkan oleh masyarakat umum.

Inibaru.id – Kawasan Kota Lama Semarang belakangan mengalami banyak pemugaran. Gedung-gedung hingga trotoar yang tadinya kurang menarik kini menjadi semakin apik. Dengan pembaruan tersebut, nggak heran kalau Kota Lama akhir-akhir ini banyak dikunjungi para wisatawan.

Memang Kota Lama kini semakin rapi dan tertata. Fasilitas pun semakin memadai dan terpenuhi baik untuk pejalan kaki maupun pengguna kendaraan. Namun bagaimana untuk penyandang disabilitas? Apakah juga sudah terpenuhi?

Dalam acara “Telusuri Sejarah Jalur Kota Lama-Pecinan Semarang”, sang penyelenggara acara yakni Sekolah TelusuRI mengajak penyandang disabilitas. Sebab sejauh ini tampaknya memang infrastruktur di berbagai tempat wisata belum ramah untuk penyandang disabilitas termasuk di Kota Lama Semarang.

Penyandang difabel saat mengikuti acara Sekolah Telusuri yang diadakan di Kota Lama. (Inibaru.id/ Audrian F)

“Siapa pun berhak dapat fasilitas yang sama termasuk difabel. Sarana untuk mereka belum banyak dipenuhi. Mungkin ada di beberapa tempat tapi belum merata,” ujar Mauren Fitri, Communite Manager dari Sekolah TelusuRI pada Minggu (20/10).

Hal senada diungkapkan oleh Dea Zahara. Pegiat difabel ini mengungkapkan kalau insfrastruktur di Kota Lama ini nggak memadai bagi penyandang disabilitas, dia jadi nggak bisa mengajak teman-teman yang menyandang disabilitas. Dia menyayangkan nggak ada akses khusus untuk mereka.

Pendapat ini diperkuat dengan pernyataan Reza Kurniawan, seorang penyandang disabilitas. Baginya infrastruktur di Kota Lama belum ramah. Dia mencontohkan celah untuk lewat antara tiang-tiang kecil pembatas trotoar itu masih terlalu sempit bagi pengguna kuris roda.

“Ketersediaan fasilitas bagi penyandang difabel nggak cuma di tempat-tempat khusus seperti rumah sakit dan sekolah. Tapi juga di tempat pariwisata. Kami juga berhak mendapat fasilitas yang layak,” tambahnya.

Para penyandang disabilitas mengabadikan momen di salah satu sudut Kota Lama. (Inibaru.id/ Audrian F)

Kesulitan mendapatkan fasilitas di tempat wisata juga dialami teman tuli. Eko Yuli misalnya, dirinya mengeluhkan nggak ada informasi berbentuk visual di gedung-gedung bersejarah. Untuknya yang seorang tuli, tentu hal ini menyulitkan.

“Kemudian saya berharap juga agar masyarakat paham bagaimana komunikasi dengan teman tuli. Berkomunikasi dengan teman tuli nggak harus dengan bahasa isyarat tapi bisa dituliskan atau dengan menggunakan gestur,” pungkas Eko Yuli.

Hm, semoga bisa jadi masukan buat pemerintah Kota Semarang ya untuk membenahi infrastruktur. (Audrian F/E05)