Ajakan Shinta Nuriyah Wahid Jaga Persatuan Lewat Sahur Bersama

Ajakan Shinta Nuriyah Wahid Jaga Persatuan Lewat Sahur Bersama
Shinta Nuriyah Wahid dalam memberikan Tausiah dalam Sahur Bersama pada Sabtu (18/5). (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Shinta Nuriyah Wahid, Istri mendiang Gus Dur punya cara tersendiri untuk menyebarkan semangat persatuan dan kerukunan antarumat beragama. Dia berkeliling Indonesia dan mengajak masyarakat lintas agama untuk santap sahur bersama. Seperti yang digelar di Gereja St. Yusup pada Sabtu (18/5) lalu.

Inibaru.id - Selama 20 tahun, Shinta Nuriyah Wahid berkeliling Indonesia untuk menggelar sahur bersama ketika Ramadan tiba. Namun  yang berbeda, sahur yang menjadi kegiatan rutin umat muslim sebelum berpuasa seharian ini dilaksanakan di tempat ibadah agama selain Islam seperti gereja atau wihara.

Kali ini, Shinta menggelar sahur bersama di Gereja St. Yusup pada Sabtu (18/5). Acara yang dimulai pukul 02.00 dinihari ini dihadiri pelbagai lapisan masyarakat. “Ada masyarakat di sekitar Gereja St. Yusup, teman-teman Lintas Agama, Gusdurian Semarang serta mahasiswa,” kata Setyawan Budi selaku ketua panitia.

Romo Aloysius Budi Purnomo, tokoh Katholik ikut hadir dalam acara Sahur Bersama. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Benar saja, nggak hanya umat Islam yang menghadiri acara ini. Umat lintas agama pun berbondong-bondong datang ke acara dini hari tersebut. Reni, seorang jemaat Gereja St. Yusup sengaja datang dengan putranya. “Sengaja datang untuk merasakan guyub rukunnya serta pengen bertemu Bu Shinta,” katanya dengan semringah.

Dalam penuturannya, Shinta mengaku bahwa dia telah berkeliling Indonesia untuk sahur bersama. “Kalau ketemunya kuli bangunan ya sahurnya di kolong jembatan, kalau ketemunya pedagang ya sahurnya di pasar,” tuturnya. Dia pengin bersantap sahur dengan siapapun yang ditemuinya di tempat yang mungkin nggak terduga.

Peserta lintas agama memadati halaman Gereja St. Yusup. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Shinta juga mengajak warga lintas agama dan multietnis yang datang untuk senantiasa menjaga persatuan Indonesia. “Kita lahir dan besar di indonesia, kita harus menjaga persatuan Indonesia tanpa memandang suku dan agama,” tandasnyaa. Meski nggak lagi muda dan harus menggunakan kursi roda untuk beraktivitas, Shinta nggak kehilangan semangat untuk membuat masyarakat. Salut!

Selain mendengarkan tausiyah, acara ini juga menjadi ajang interaksi antara masyarakat dengan ibu negara ke-4 Indonesia ini. Suasana toleransi terasa sangat kental, lo. Hal ini senada dengan tujuan dari acara tahunan tersebut. Romo Vikjen yang mewakili kepala pastur mengatakan, acara tersebut bertujuan untuk menegaskan semangat ke-Indonesiaan dalam persaudaraan.

Panitia yang menyambut datangnya peserta Sahur Bersama. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Sedikitnya 1100 peserta undangan dan masyarakat umum memadati halaman Gereja St, Yusup, Gedangan. Meskipun pernah mendapatkan penolakan dari salah satu ormas islam pada 2016 lalu, Acara yang sudah digelar beberapa kali di Semarang ini selalu ramai dan mendapat sambutan positif dari masyarakat.

Semoga masyarakat Indonesia selalu menjunjung persatuan ya, Millens. (Zulfa Anisah/E05)