Sepeminuman Teh Bersama Duo Perias Jenazah di Kota Semarang: Tersemat Duka, tapi Banyak Tertawa!

Sepeminuman Teh Bersama Duo Perias Jenazah di Kota Semarang: Tersemat Duka, tapi Banyak Tertawa!
Sri Sumiyati (kanan) dan Indah Murti Astuti (kiri), duo perias jenazah Kota Semarang, saat hendak menyempurnakan riasan jenazah. (Inibaru.id/ Audrian F)

Mendedikasikan lebih dari separuh hidup sebagai perias jenazah di Kota Semarang tentu jadi kisah menarik dua bersaudara ini. Saat sepi order, mereka kadang merasa berdosa karena sering mikir, kok nggak ada yang meninggal?

Inibaru.id - Saya yakin, perias jenazah bukanlah profesi yang bakal disebutkan dengan lantang di depan kelas saat guru SD bertanya kepada murid tentang pekerjaan impian mereka. Namun, mungkin ini nggak berlaku bagi Sri Sumiyati dan Indah Murti Astuti, perias jenazah Kota Semarang.

Kepada saya, belum lama ini keduanya mengaku menjadikan profesi tersebut sebagai semacam panggilan jiwa. Satu hal yang menarik, mereka nggak terikat pada rumah duka atau instansi mana pun, melainkan pekerja lepas yang bisa "diundang" siapa saja. 

Kendati "hanya" pekerja lepas, nggak gampang menemui Sri dan Indah, panggilan akrab mereka. Jadwal kedua bersaudara itu padat. Saya bahkan harus beberapa kali menghubungi mereka untuk punya kesempatan bercakap-cakap, itu pun nggak lama.

Lebih dari setengah abad mereka menjalani profesi sebagai perias jenazah di Kota Lunpia. Sepeminuman teh bersama Sri dan Indah di rumahnya yang ada di Kampung Brumbungan, banyak cerita yang saya dapatkan. Ada suka, tapi banyak dukanya.

Menjadi perias jenazah bagi Sri dan Indah merupakan pilihan hidup yang memang harus . (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Menjadi perias jenazah bagi Sri dan Indah merupakan pilihan hidup yang memang harus . (Inibaru.id/ Audrian F)

Hingga kini, Indah mengaku sebetulnya juga nggak menyangka bakal bekerja berhadapan dengan jenazah, apalagi bertahan hingga 30 tahun. Waktu, lanjutnya, menjadi harta yang cukup berharga bagi mereka.

Ya, karena nggak terikat dengan suatu instansi, Sri dan Indah menjadi sangat terikat dengan pada waktu. Lantaran nggak tahu kapan kematian akan menjemput, mereka harus siap dengan tiap panggilan merias, jam berapa pun. Inilah yang Indah sebut sebagai pengabdian.

Dia mengatakan, mereka memang nggak bisa seenaknya bepergian, apalagi berdua. Salah seorang dari mereka harus tinggal di rumah, mengantisipasi kalau ada panggilan merias.

"Kapan pun, tetap saya sanggupi," tutur perempuan bersahaja tersebut, yang mengaku suatu kali pernah harus buru-buru pulang dari kondangan lantaran ada panggilan merias. "Ada semacam tanggung jawab moral.”

Ngobrol dengan Jenazah 

Sri Sumiyati menuturkan, saat meninggal, tubuh seseorang biasanya akan kaku dan bertambah berat. Inilah yang kerap membuat dia kesulitan dalam memperindah dandanan jenazah.

“Kalau jenazahnya ringan nggak masalah. Namun, kalau dapat yang berat, saya yang susah," akunya, diikuti dengan senyuman. Dia percaya, kalau semasa hidup mendiang memiliki watak yang kolot atau minim amal baik, jenazah bakal terasa lebih berat.

Saat menghadapi situasi tersebut, Sri biasanya mencoba mengobrol dengan mendiang. Dia percaya, saat seseorang meninggal, arwahnya masih ada di sekitar jasad.

"Saya biasa ngomong, 'Mak, aku sendirian. Jangan susah-susah ya!',” kata Sri, yang seketika itu bikin saya merinding. Ha-ha.

Belum habis bulu kuduk saya berdiri, Indah menimpali dengan bercerita tentang jenazah yang menangis saat hendak mereka dandani. Duh, hati saya tambah nggak karuan. Keringat dingin keluar.

Saya pernah membaca, jenazah memang mengalami beberapa perubahan, misalnya tubuh menyusut. Kadang, kondisi biologis jasad juga memunculkan "anomali" seperti mendengkur atau kentut, tapi bukan menangis.

Sri Sumiyati, mendedikasikan secara tulus hidupnya untuk merias jenazah. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Sri Sumiyati, mendedikasikan secara tulus hidupnya untuk merias jenazah. (Inibaru.id/ Audrian F)

Indah berkisah, jenazah yang menangis itu adalah seorang perempuan. Dia seorang ibu yang saat meninggal diikuti dengan perseteruan anak-anaknya. Anak-anak itu, kenangnya, saling menyalahkan atas kematian sang ibu, cekcok di rumah duka. 

"Air mata tiba-tiba menetes dari kelopak mata si ibu," ujar Indah, yang kemudian segera memanggil seluruh keluarga sang ibu untuk melihat kejadian tersebut. "Akhirnya mereka minta maaf.”

Selama ngobrol dengan Sri dan Indah, saya nggak berhenti menahan nafas. Selain karena cerita yang agak bikin bulu kuduk berdiri, upah minim yang mereka terima, bahkan setelah 30 tahun menjadi perias jenazah, juga membuat hati saya teriris.

Perlu kamu tahu, memilih menjadi pekerja lepas dan nggak terikat dengan satu institusi tertentu sengaja dipilih keduanya untuk menjaga agar upah yang mereka terima tetap rasional. Namun, Indah mengatakan, terkadang pilihan itu membuatnya kesulitan, khususnya saat kerjaan sepi.  

"Kalau sedang sepi, saya kadang mikir, kok nggak ada yang meninggal ya?" kelakar Indah.

Lantaran mikir begitu, dia mengaku sering merasa berdosa. Namun, nggak ada yang bisa diperbuatnya, karena mata pencaharian mereka memang ada di situ. 

"Tuhan mungkin sudah tahulah,” tutupnya. Kami bertiga pun tertawa.

Kisah Indah dan Sri ini bikin saya berpikir, mereka adalah orang-orang yang memanusiakan jenazah. Mereka juga bikin kematian jadi nggak terlihat begitu mencekam. Salut! (Audrian F/E03)