Semalam Menebar Kebaikan bersama Komunitas Berbagi Nasi Semarang

Semalam Menebar Kebaikan bersama Komunitas Berbagi Nasi Semarang
Salah satu sasaran Bernas yakni para pekerja malam dan juga tunawisma. (Inibaru.id/ Bayu N)

Di tengah masyarakat yang kian berjalan sendiri-sendiri, rupanya masih ada anak muda yang gemar berbagi. Nggak hanya sendiri, mereka berkumpul saban Jumat malam, lalu menyisihkan rezeki untuk mereka yang patut diberi. Inilah Komunitas Berbagi Nasi Semarang yang perlu kamu ketahui.

Inibaru.id - Di antara gemerlap lampu jalanan Kota Lama Semarang pada malam hari, muda-mudi ini berjalan pelan. Santai, tapi mata mereka siaga. Saya mengikuti mereka dari belakang, menyusuri jalanan yang mulai lengang, untuk membagikan nasi kotak di tangan.

Masing-masing dari mereka menjinjing kantung kresek. Sesekali mereka berhenti di hadapan orang-orang yang masih beraktivitas atau tengah mengeluk punggung di pinggir jalan. Sebentar bercakap, mereka kemudian mengansurkan nasi kotak dan minuman gelas dari dalam kresek.

Begitulah aktivitas mingguan para anggota Komunitas Berbagi Nasi Semarang (Bernas) tersebut. Menurut saya, sangat sederhana. Kegiatannya cuma membagikan makanan dan minuman kepada orang-orang yang hidup di jalanan, yang kerap belum beristirahat kendati malam sudah tiba.

Tutur Wijaya, salah seorang koordinator kegiatan Bernas yang berjalan bersama saya mengungkapkan, sasaran utama komunitas ini adalah para tunawisma, pekerja malam, dan penjaga warung di pinggir jalan. Mereka beraksi saban Jumat malam.

"Yang utama tunawisma dan pekerja malam, meski sebenarnya bisa siapa saja (yang diberi nasi). Kalau mau minta juga kami kasih," terangnya kepada saya di sela kegiatan berbagi nasi di Kawasan Kota Lama Semarang, belum lama ini.

Anggota Komunitas Bernas kebanyakan merupakan para mahasiswa. (Inibaru.id/ Bayu N)
Anggota Komunitas Bernas kebanyakan merupakan para mahasiswa. (Inibaru.id/ Bayu N)

Lelaki yang saat ini tengah menyelesaikan masa studinya di Universitas Diponegoro Semarang tersebut menjelaskan, malam itu dia bertindak sebagai koordinator. Namun, ini bukanlah jabatan tetap, karena anggota komunitas yang telah dikenal masyarakat sejak lebih dari sedekade itu memang berubah-ubah.

Wijaya, sapaan akrabnya, hingga saat ini bahkan nggak tahu siapa pendiri komunitas tersebut. Yang dia ingat, komunitas sosial itu telah berdiri sejak 2009. Namun begitu, anggota yang bersifat mana suka dan struktur organisasi yang nggak pernah ada membuat dia kehilangan jejak gimana awal berdirinya. 

"Di Bernas itu nggak ada ketua. Yang ada koordinator per kegiatan," terang lelaki berkacamata ini ringan. "Siapa saja yang mau datang, ya, tinggal datang saja.”

Dari Kas dan Para Donatur

Makanan dan minuman yang dibagikan Komunitas Bernas berasal dari donasi dan uang kas. (Inibaru.id/ Bayu N)
Makanan dan minuman yang dibagikan Komunitas Bernas berasal dari donasi dan uang kas. (Inibaru.id/ Bayu N)

Alih-alih komunitas dengan garis struktur organisasi yang pasti, Bernas sejatinya memang lebih mirip seperti klub atau perkumpulan sosial yang nggak terlalu merisaukan hierarki semacam itu. Mereka cukup mengandalkan penanggungjawab kegiatan untuk memudahkan koordinasi.

Sementara, untuk urusan logistik, terutama terkait makanan dan minuman yang bakal dibagikan kepada masyarakat, Wijaya mengungkapkan, mereka menggunakan uang kas anggota. Selain itu, mereka juga biasa dapat dari uang donasi.

Dia juga mengatakan, para donatur Bernas umumnya berasal dari relasi atau anggota senior yang udah nggak aktif di Bernas. Wijaya menambahkan, di Bernas juga ada penjual nasi goreng yang sudah lama menjadi donatur tetap.

"Namanya Pak Adi, tapi donasinya bukan uang,” ungkapnya. “Jadi, tiap Jumat malam gitu dia sudah menyiapkan beberapa kresek berisi nasi goreng bungkus.”

Masjid Kauman sebagai Titik Kumpul

Siapkan fisik yang baik kalau mau ikut beraksi membagikan nasi! (Inibaru.id/ Bayu N)
Siapkan fisik yang baik kalau mau ikut beraksi membagikan nasi! (Inibaru.id/ Bayu N)

Setiap melancarkan aksinya, para anggota Bernas selalu menjadikan Masjid Kauman Semarang sebagai titik kumpul. Menurut Wijaya, masjid yang berlokasi di Bangunharjo, Kecamatan Semarang Tengah, ini menjadi titik yang paling pas karena di lingkungan sekitar masjid banyak orang yang sesuai kriteria.

"Di sekitar titik (Masjid Kauman) itu paling sering kami jumpai orang-orang yang membutuhkan," akunya.

Dari masjid kebanggaan orang Semarang itu, mereka biasanya mulai bertolak ke sekitar Pasar Johar lama, lalu mengitari Bundaran Bubakan, terus ke Kota Lama, hingga tiba di Jembatan Berok. Sekali jalan, kegiatan yang dimulai pada malam hari itu bisa menempuh jarak hingga beberapa kilometer. 

Wijaya mengungkapkan, hal paling menarik ketika membagi-bagi nasi itu adalah bisa bertemu berbagai macam orang dengan profesi yang berbeda, tanpa perlu membeda-bedakan. Semuanya kebagian, mulai dari tukang becak, waria, hingga mereka yang tengah beristirahat di emperan toko.

Bagi sebagian orang, nasi kotak mungkin hanyalah pemberian sederhana. Namun, bagi mereka yang membutuhkan, pemberian ini tentu saja menjadi sangat bermakna. Dengan mata kepala sendiri, saya bisa melihat gimana penerima "bingkisan malam" itu berterima kasih. Bikin terharu, deh!

Maka, nggak berlebihan rasanya saya menganggap mereka ibarat para malaikat yang bergerak senyap di jalanan; membagikan kebaikan dengan sekotak nasi. Ha-ha. Sehat-sehat selalu ya, Wijaya dan kawan-kawan! (Bayu N/E03)