Sebuah Kisah Kepedulian Nyata untuk Penerus Bangsa

Sebuah Kisah Kepedulian Nyata untuk Penerus Bangsa
Ricky Maulana, salah seorang siswa SMA 5 Semarang yang mendapat peminjaman laptop. (Inibaru.id/ Audrian F)

Saya pikir langkah yang diambil SMAN 5 Semarang patut diacungi jempol. Tanpa ragu sekolah yang berada di Jalan Pemuda nomor 143 Sekayu ini meminjamkan laptop agar para siswa dapat mengikuti pembelajaran daring. Seperti apa ceritanya?

Inibaru.id - Ricky Maulana, siswa SMAN 5 Semarang membersihkan laptop berwarna silver di teras rumahnya. Dengan hati-hati remaja berkacamata ini mengelap seluruh permukaan gawai tersebut, menyingkirkan debu yang mungkin menempel di sana-sini. Dia seolah sedang berterima kasih karena komputer jinjing itu karena sudah memudahkannya mengerjakan tugas.

Laptop ini bukan miliknya, Millens. Pihak sekolah meminjami Ricky dan belasan siswa lain agar nggak terkendala saat harus belajar secara daring. Apalagi, Ricky akan menjadi peserta Olimpiade Ekonomi tingkat provinsi. Awalnya, dia berpikir mundur dari Olimpiade karena nggak ada piranti untuk melakukan persiapan. Tapi, berkat laptop pinjaman itu dia bisa terus maju.

“Kalau ngetik di gawai saya nggak bisa. Tulisannya terlalu kecil. Bikin mager,” ungkapnya.

Ricky mengelap laptop agar selalu bersih. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Ricky mengelap laptop agar selalu bersih. (Inibaru.id/ Audrian F)

SMA 5 Semarang memang berupaya meringankan kendala siswa yang kesulitan dalam melaksanakan sekolah dari rumah. Bantuannya berupa pemberian kuota, peminjaman modem, dan laptop. Wah, salut ya!

Siswanto, Kepala Sekolah SMAN 5 Semarang menuturkan kalau nggak pingin proses belajar siswa di rumah terhambat karena harus dilakukan secara daring. Begitu pula dengan peminjaman laptop tadi.

“Kami selalu bersedia membantu. Toh, barangnya juga ada,” katanya.

Laptop-laptop yang dipinjamkan SMA 5 Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Laptop-laptop yang dipinjamkan SMA 5 Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Prosedur peminjaman laptop dilakukan melalui menyebar formulir. Setelah itu pemohon disaring oleh wali kelas, guru mata pelajaran, dan guru Bimbingan Konseling (BK). Jadi diharapkan penerima bantuan bisa merata.

“Dari 50 laptop, ada 14 murid yang pinjam,” terang Siswanto.

Sebelum adanya sekolah dari rumah, laptop tersebut digunakan untuk membantu proses mengajar guru-guru. Selain itu digunakan juga saat melakukan ujian secara daring. Hm, kira-kira kalau rusak gimana ya?

Siswanto Kepal Sekolah SMA 5 nggak ingin anak-anaknya kesulitasn. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Siswanto Kepal Sekolah SMA 5 nggak ingin anak-anaknya kesulitasn. (Inibaru.id/ Audrian F)

Rupanya, kepala sekolah sudah memperhitungkan skenario terburuk tersebut. Katanya, nggak akan jadi masalah kalau sampai rusak. Toh, rusaknya karena dipakai siswa untuk belajar.

“Hanya memang anak-anak sudah diwanti-wanti agar jangan mengubah-ubah format yang ada di dalamnya,” tambahnya.

Sementara menurut Yuli Handayani, guru sekaligus wali kelas 11 IPA 3 di SMA 5 Semarang, bantuan seperti ini cukup penting. Yuli mengaku bahwa proses belajar-mengajar secara daring ini merupakan cara baru yang dia temui selama menjadi guru.

Yuli Handayani mengungkapkan jika para murid butuh benar fasilitas penunjang sekolah daring. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Yuli Handayani mengungkapkan jika para murid butuh benar fasilitas penunjang sekolah daring. (Inibaru.id/ Audrian F)

“Awalnya agak sulit memang. Jadi memang harus pakai perangkat pendukung seperti laptop itu,” ujarnya.

Yuli juga bercerita kalau nggak semua siswa mau mengajukan diri untuk meminjam laptop. Alasannya, malu. Padahal mereka sangat membutuhkannya. Nggak kehabisan akal, Yuli sampai mendatangi rumah mereka dan mendesak agar mau dibantu sekolah. Semua dia lakukan karena rasa tanggungjawabnya sebagai wali kelas. Dia pengin memastikan semua siswa bisa mengikuti proses pembelajaran dengan lancar.

“Akhirnya setelah dapat bantuan, manfaatnya juga mereka pakai,” pungkasnya.

Keren ya. Kalau di sekolahmu gimana, Millens? (Audrian F/E05)