Tuswadi, Sang Doktor Lulusan Jepang dan Cerita Tentang Pengabdian

Meraih gelar doktor dari universitas ternama di Jepang, dia pulang dan membuat lembaga pendidikan di desanya. Namanya Dr Tuswandi, akrab disapa Dr Tus atau Mr Tus.

Tuswadi, Sang Doktor Lulusan Jepang dan Cerita Tentang Pengabdian
Tuswadi. (Foto: jktpress.com)

Inibaru.id -  Pulang ke kampungnya di Desa Tapen, Kecamatan Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara, Jateng, bagi Dr Tuswandi adalah perjalanan untuk memulai suatu pengabdian. Mengantongi gelar doktor di bidang Pendidikan dan Mitigasi dari Universitas Hiroshima, Jepang, dia memilih menjadi guru Bahasa Inggris SMA di kampung halamannya. Selain itu, lantaran kecintaannya pada dunia pendidikan dan tekadnya untuk mencerdaskan banyak orang, dia mendirikan Rumah Pintar Dr Tus, lembaga pendidikan yang mengadopsi sistem pembelajaran ala Jepang.

Ya, kegiatan di Rumah Pintar Dr Tus mencerminkan banyak sekali metode pembelajaran yang tidak diperoleh anak didik saat berada di sekolah. Di sana, selain belajar bahasa Inggris, siswa diajari soal kemandirian, pembentukan karakter, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Baca juga: Ilmuan Perempuan Ini Getol Ajarkan Sains pada Anak-anak

“Di Jepang siswa diajari mandiri. Membersihkan lantai, membersihkan ruangan kelas, kebun, atau taman sekolah. Karena itu di sana tidak ada yang namanya tukang kebun,” ungkap Tuswandi seperti dilansir brilio.net (19/9/2017).

Tuswandi lahir dari keluarga sederhana.  Kusnedi, ayahnya, seorang pedagang cangkul, dan Rati, ibunya, ibu rumah tangga. Sejak kecil, dia ingin menjadi seorang pendidik. Karena itu, selepas SMA, dia berkuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Semarang (kini Unnes). Sebagai sarjana pendidikan pada 1999, dia mengantongi akta mengajar. Namun, keinginannya untuk melanjutkan pendidikan begitu besar. Maka dengan biaya sendiri sebelum memperoleh beasiswa, dia melanjutkan S-2 dan berlanjut ke S-3 di Universitas Hiroshima, Jepang.

Ditanya alasan pendirian lembaga pendidikan yang mengadopsi gaya pembelajaran Jepang, Tuswandi mengatakan, sebagai seorang guru, dia berkewajiban menyediakan rumah yang berbeda dari rumah orang biasa.

“Rumah yang mencerminkan dirinya seorang guru, di mana banyak buku yang bisa menambah ilmu pengetahuan. Jadi, saat siswa atau orang tua siswa berkunjung, mereka akan belajar sesuatu yang positif.”

Itulah mengapa dia “menyulap” rumahnya sebagai Rumah Pintar Dr Tus. Apalagi menurutnya, selama ini ada jurang komunikasi antara guru dan peserta didik, yang menyebabkan peserta didik tidak mampu mencapai prestasi akademis dan nonakademis secara maksimal.

“Di sini kami mencairkan suasana. Anak-anak yang berkunjung akan belajar banyak hal, baik dari saya maupun dari lingkungan. Kami juga kolaborasi dengan ustaz untuk menanamkan nilai agama.”

Baca juga: Cewek Ini Sukses Menjadi Guru Bahasa Inggris di Jepang Bermodal TOEFL 360

Seiring berjalannya waktu, sosok pengagum BJ Habibie ini, menjadikan Rumah Pintar Dr Tus sebagai semacam kawah candradimuka bagi para mahasiswa Indonesia yang ingin meneruskan kuliah ke Universitas Hiroshima.

“Ide membawa anak-anak terbaik Indonesia belajar ke Universitas Hiroshima sudah tebersit sejak saya melanjutkan gelar master di sana (Universitas Hiroshima-Red).”

Terwujudkah? Dilansir brilio.net, sejak 2009 hingga 2017, 25 anak muda, perempuan dan lelaki, meneruskan studi S-2 dan S-3 di Universitas Hiroshima.

‘’Latar belakang mereka beragam. Ada yang fresh graduate. Ada guru, dosen, ataupun yang sudah berafiliasi dengan lembaga riset,” pungkas Dr Tus. (PA/SA)