Rumah Baca Pintar Bukan Perpustakaan Biasa

Prihatin terhadap banyak anak sekolah yang ketagihan game daring, Nurfina Sholawati dan Yoga Rifai Hamzah mendirikan Rumah Baca Pintar. Bukan perpustakaan biasa!

Rumah Baca Pintar Bukan Perpustakaan Biasa
Rumah Baca Pintar di Pekalongan. (okezone.com)

Inibaru.id – Berada di Dukuh Kranji, Gang Musalla, Desa Kedungwuni Timur, Pekalongan, Jawa Tengah ada sebuah perpustakaan desa bernama Rumah Baca Pintar. Awalnya, perpustakaan ini hanyalah sebuah garasai seluas 4 x 5 meter. Lalu pada 2 Desember 2009, garasi di depan teras rumah milik pasangan suami istri Yoga Rifai Hamzah dan Nurfina Sholawati itu disulap menjadi perpustakaan sederhana.

Berdirinya Rumah Baca Pintar ini berangkat dari kekhawatiran Nurfina dan suaminya tentang kemarakan warung internet (warnet) di desa mereka. Pasutri tersebut prihatin dengan minat baca rendah anak-anak di lingkungan rumah mereka. Mereka bahkan lebih suka main game daring.

“Dari situlah, timbul niat saya dan suami untuk mendirikan rumah baca ini. Kami lantas memanfaatkan teras rumah untuk menata buku-buku. Awalnya ada sekitar 200-300 buku yang merupakan koleksi pribadi,” ujar Nurfina Sholawati, seperti dikutip laman pekalongankab.go.id.

Nurfina bercerita, Rumah Baca Pintar dikenalkan kali pertama secara tutur-tinular. Dia menyebarkan informasi kepada para tetangga bahwa ada tempat untuk membaca berbagai buku secara gratis. Dari situlah mulai banyak orang berdatangan untuk membaca buku.

“Bahkan, pernah subuh saya baru bangun sudah ada anak-anak yang pulang mengaji dari musala mampir baca buku di sini, atau pernah juga ada orang gila yang mampir baca. Ya tidak apa-apa, teras kami memang terbuka untuk siapa pun dan kapan pun. Kami tidak khawatir buku hilang, kalau pun ada itu berarti bukunya sedang jalan-jalan mencari pembaca lain. Prinsip kami hilang satu tumbuh seribu,” ujarnya.

Hingga kini, Rumah Baca Pintar telah menyimpan koleksi lebih dari 10 ribu buku. Mulai dari karya sastra, ensiklopedi, jurnal ilmiah, fiksi, hingga komik dan majalah. Selain itu, ada pula perpustakaan keliling menggunakan motor yang beroperasi sebulan sekali dan telah menjangkau lebih dari 20 desa di Kecamatan Kedungwuni.

Nurfina yang juga merupakan guru di MTs Walisongo Kedungwuni ini mengungkapkan, Rumah Baca Pintar nggak hanya menyediakan bahan bacaan, tapi juga kegiatan menarik untuk menyalurkan bakat dan minat anak-anak. Sebut saja, membuat prakarya bersama, lomba menggambar dan mewarnai, serta story telling.

Nggak hanya untuk anak-anak, ada juga kegiatan yang dapat diikuti oleh para remaja lo, seperti game, workshop, bedah buku, menulis, dan masih banyak kegiatan lainnya. Karena banyak kegiatan positif yang diadakan, lambat laun banyak warga yang ikut berpartisipasi seperti menyumbang buku atau menjadi sukarelawan di Rumah Baca Pintar ini.

Oya, seperti ditulis okezone.com (7/7/2015), Rumah Baca Pintar mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Pekalongan sebagai Perpustakaan Desa Teladan. Penghargaan itu sebagai pengakuan bahwa Rumah Baca Pintar dapat meningkatkan semangat literasi warga Pekalongan.

Nurfina berharap, akan ada lebih banyak orang yang bisa merasakan manfaat dari rumah baca ini, dan mendorong masyarakat mencintai ilmu pengetahuan melalui budaya gemar membaca.

Wah, mulia sekali cita-cita pasangan istri-suami ini. Apa yang mereka lakukan telah berandil dalam pencerdasan anak bangsa melalui literasi. (IB12/E02)