Ria Papermoon: Buatlah Bulanmu Sendiri

“Buatlah bulanmu sendiri, buatlah mimpimu, sebesar mungkin. Inilah filosofi kata ‘papermoon’ itu sendiri,” jelas Ria.

Ria Papermoon: Buatlah Bulanmu Sendiri
Ria Papermoon (Foto: detik)

Inibaru.id -“Buatlah bulanmu sendiri, buatlah mimpimu, sebesar mungkin. Inilah filosofi kata ‘papermoon’ itu sendiri,” jelas Ria.

Maria Tri Sulistyani atau lebih dikenal dengan nama panggung Ria Papermoon merupakan penggagas papermoon puppet atau boneka papermoon. Bersama sang suami tercinta, Iwan Effendi sebagai art director, keduanya telah membuat pertunjukan teater boneka yang begitu memukau siapapun yang menontonnya di Yogyakarta.

Jika Anda pernah menonton Ada Apa dengan Cinta 2 (AADC2), Anda pasti pernah menyaksikan pertunjukan Ria. Dengan boneka-boneka kertas bertinggi kurang lebih satu meter, mereka bermain drama, dengan berlatar waktu sekitar tahun 1960-an.

Sebuah gedung di kawasan Bangunjiwo, Bantul menaungi pertunjukan mereka. Dengan boneka-boneka dari bahan daur ulang, Ria bersama beberapa orang seniman biasa menggelar pertunjukan teater boneka.

Secara harfiah, papermoon berarti bulan kertas. Bagi Ria, istilah yang kemudian disematkan sebagai nama panggungnya itu memiliki makna yang begitu filosofis, yakni sesuatu yang ‘wah’ sejatinya bisa berawal dari hal sederhana, layaknya rembulan yang diciptakan dari kertas.

Ria sangat menyukai dunia anak-anak. Kecintaan itu agaknya muncul lantaran ia adalah anak bungsu yang merindukan kehadiran seorang adik. Ia juga suka membaca. Berbagai koleksi buku cerita anak dari penjuru dunia maupun tanah air dimilikinya.

Kecintaan pada dunia itu kemudian membawa Ria ke dunia anak-anak. Ia bekerja sebagai ilustrator cum penulis cerita anak. Selain itu, ia juga begitu tertarik pada seni rupa dan teater, yang juga tak jauh berbicara tentang dunia anak.

 Sebagaimana dikisahkan dalam Pedasmag.com, pertunjukan teater boneka Ria dimulai pada 2006. Bermula dari perpustakaan sederhana yang ia dirikan di dalam dua kamar kos sewaan, anak-anak mulai datang untuk membaca di tempatnya.

Ria memang begitu menggebu bercita-cita membuat ruang bagi anak-anak untuk berkreasi. Ia ingin para generasi penerus bangsa itu percaya diri untuk mengembangkan bakat dan imajinasinya. Menurutnya, perpustakaan dan koleksi buku anak kepunyaannya adalah ruang yang cocok untuk mengasah bakat mereka.

Tanggal 2 April 2006 Ria mulai menggelar pertunjukan boneka tangan. Bermodalkan selimut bekas, botol plastik, dan bahan-bahan “sampah”, ia membuat boneka sendiri. Teater itu sukses menyedot begitu banyak perhatian orang, dan berlanjut hingga sekarang.

Satu hal yang menarik dari teater boneka papermon adalah, Ria menulis semua sekenarionya sendiri, yang dinukil dari kisah dan peristiwa yang pernah dialami orang-orang sekitarnya.

Secangkir Kopi dari Playa menjadi judul teater yang begitu terkenal, terlebih setelah “dipentaskan” di AADC2. Drama yang disarikan dari kisah nyata itu mengulas romantisme sepasang kekasih yang tak bisa bersatu lantaran seorang di antaranya yang tinggal di luar negeri dianggap “kiri” dan kehilangan kewarganegaraan pascatragedi 1965 di Indonesia. (GIL/IB)